Leo Rulino
Leo Rulino Dosen

Personal Blog: www.leorulino.com

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Menyoal Dewan Otak Dengkul

14 Juni 2018   12:45 Diperbarui: 14 Juni 2018   12:43 552 0 2
Menyoal Dewan Otak Dengkul
Sumber gambar: Megapolitan Kompas

Legislasi, Anggaran dan Pengawasan. Itulah tiga fungsi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Indonesia. 

Hanya tiga fungsi. Hanya tiga pekerjaan yang harus dilaksanakan. Pun mereka para wakil rakyat itu tidak becus.

DPR RI telah kehilangan kepercayaan dari rakyat Indonesia. Wakil-wakil yang duduk di Senayan lebih mementingkan manuver politik, cari aman, dan sibuk melempar opini tak tentu rudu, dibanding mengurusi pekerjaannya yang "hanya" tiga tadi itu.

Untunglah DPRD sedikit berbeda. Masyarakat masih menaruh animo dan harapan besar kepada lembaga yang satu ini.

Masih ada setahun sampai diselenggarakannya pemilihan legislatif pada 2019, namun suasana pesta politik di daerah sudah begitu terasa. Masyarakat tampak sudah tak sabar lagi, "Siapakah tokoh yang pantas dipilih sebagai wakil nantinya," begitulah kira-kira obrolan ringan di warung-warung kopi pinggir jalan.

"Siapakah tokoh yang pantas dipilih."

Sistemnya adalah masyarakat harus memilih mereka yang sudah terdaftar sebagai caleg salah satu Partai Politik. Para caleg tadi akan berkampanye, bersosialisasi, dan mencoba mengambil simpati agar masyarakat memilihnya nanti di hari pemilihan. Apabila semua baik-baik saja, maka masyarakat akan memilihnya, jika mendapatkan suara yang cukup banyak, caleg tadi akan melenggang sebagai wakil rakyat di DPRD.

Sistem berjalan, strategi berhasil, semua tampak baik-baik saja. Setidaknya sampai pada hari dimana mereka diharuskan mengurusi pekerjaannya yang hanya "tiga" tadi. Walah dalah, ternyata wakil-wakil itu tidak mengerti barang satupun yang harus dikerjakannya. Miriplah seperti induknya di Senayan.

Aspirasi konstituen tidak tersampaikan, legislasi tidak sesuai target, ABPD lolos-lolos saja, tidak ada fungsi pengawasan. Para Anggota Dewan makan gaji buta, sembari mengurusi proyek-proyek pribadi untuk modal nyaleg di periode kedua. Namun karena ini di daerah, maka isu yang berkembangpun tidak kentara. 

Menurut analisis warung kopi, sumber masalah utama atas fenomena ini adalah minimnya sistem seleksi yang ketat dari Parpol terhadap caleg-caleg yang mendaftar.

Menurut UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, persyaratan calon legislatif adalah tidak pernah dijatuhi hukuman pidana penjara selama lima tahun atau lebih; mundur dari Kepala Daerah, Wakil kepala daerah, PNS, TNI, Polri, BUMN, BUMD; dilarang berpraktek sebagai akuntan publik, notaris, dan pekerjaan yang dibiayai negara, serta; harus menjadi anggota partai peserta pemilu.

Tidak susah ya? Mungkin waktu disahkan di Senayan, mereka itu "lagi pengen dimanjah," sehingga membuat persyaratan yang gampangan seperti itu. Coba bandingkan dengan persyaratan menjadi ASN. Jauh men.

Maka, tidak heran jika banyak anggota DPRD yang tidak terlihat kontribusinya. Janganlah melegislasi suatu Perda, atau mengawasi jalannya roda Pemerintahan. Diajak diskusi oleh Dinas saja kalang kabut kabur tak berani. Jadi kambing congek dikala rapat. Tak jelas apa isi kepalanya. 

Seharusnya caleg diseleksi secara ketat. Uji pengetahuan dan kemampuannya tentang pekerjaannya yang "hanya" tiga tadi itu. Uji kejiwaan dan mentalnya untuk mencegah perampok, preman, dan orang-orang pandir duduk menjabat. Saring sebaik mungkin sehingga hanya orang-orang terbaiklah yang diserahkan kepada masyarakat untuk dipilih.

Omong kosong belaka pernyataan yang menyebutkan, "Masyarakat sekarang sudah pintar memilih wakil-wakilnya." Orang pintar pun sering dibodohi orang licik. Itu kenyataan.

Masyarakat belum memiliki pendidikan politik yang memadai. Buktinya masih banyak mereka yang mudah dibeli dengan uang. Pintarkah itu? Entahlah. Salahkah itu? Belum tentu. Siapa sih yang tidak butuh uang.

Urusan strategi biarlah menjadi urusan caleg yang bersangkutan. Namanya juga strategi. Semua butuh uang. Namun masalah pengetahuan, kemampuan, apalagi mental yang baik dari para caleg tentu tidak boleh dibiarkan "kacau" seperti yang sudah-sudah.

Untuk itu peran Parpol dituntut. Sudah tahu masyarakat belum sepintar, jangan lah dibodoh-bodohi. Bukankah sudah tugas kalian memberikan pendidikan politik kepada masyarakat? 

Memang tidak dapat dipungkiri sudah ada beberapa Partai yang menerapkan sistem seleksi yang ketat dan baik, sebut saja PDI Perjuangan, atau Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Namun, hanya beberapa tidaklah cukup. Alangkah baiknya jika seluruh Parpol menganut sistem seperti itu. Lebih baik lagi jika tertuang secara nyata dan detail didalam Undang-undang.

Masyarakat telah memainkan perannya, yaitu memilih mereka yang telah diserahkan oleh Parpol. Sekarang saatnya Parpol memainkan perannya. Sudahkah menyerahkan mereka yang terbaik untuk dipilih masyarakat? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2