Mohon tunggu...
Kesehatan

Yang Tidak Dikabarkan tentang Kematian Falya

11 Januari 2016   05:15 Diperbarui: 11 Januari 2016   07:11 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ada yang luput dari pemberitaan media online dan cetak, terkait meninggalnya bayi Falya Raafani Blegur, putri Bapak Ibrahim Blegur di Rumah Sakit Awal Bros beberapa waktu lalu. Pemberitaan media massa menyebut bahwa belum-belum sudah menjustifikasi Rumah Sakit Awal Bros sebagai pihak yang telah melakukan tindakan malpraktik. Media sepertinya juga memposisikan Awal Bros sebagai pihak yang harus selalu salah, tidak boleh membela diri, dan harus kalah.

Padahal jika media mainstream itu mau melihat lebih detail masalah ini, ada sejumlah benang merah yang menggambarkan bahwa ada keterlambatan pihak keluarga membawa bayi Falya ke Rumah Sakit. Masih ingat dengan sewotnya pihak keluarga bayi Falya saat tim investigasi medik yang beranggotakan sejumlah dokter dari IDI, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dan aparat Dinkes Kab Bekasi mengumumkan hasil investigasi mereka.

Dari hasil audit Komite Medik ditemukan bahwa penyebab perburukan kondisi kesehatan pasien bukan dikarenakan reaksi alergi (anafilaktik) dari obat antibiotik yang diberikan dokter. Menurut Tim Medik, pemberian antibiotik tersebut justru telah sesuai indikasi berdasarkan pengamatan dokter terhadap pasien yang cenderung memburuk dan disertai hasil laboratorium yang menunjukan adanya infeksi.

Tata laksana yang telah diberikan oleh dokter dan tim medis juga sudah sesuai dengan standar pelayanan medis dan standar profesi medis yang berlaku. Tim Medik juga menilai bahwa Awal Bros telah melakukan proses inform consent atau persetujuan tindakan medik secara tertulis maupun lisan saat proses pelayanan medis terhadap pasien.

Yang menarik, saat pasien masuk rumah sakit pada Rabu (28/10/2015), sesaat sebelum dirawat, dokter jaga di ruang ICU mengeluarkan diagnosa jika bayi Falya mengalami kurang gizi, diare akut, dehidrasi ringan sedang, dan intake sulit sehingga dilakukan upaya pengobatan dan perawatan inap dan ICU.

"Saat dilakukan perawatan, dehidrasi sudah mulai teratasi, tetap mengalami perburukan akibat proses infeksi yang masih berjalan dan menyebabkan pasien shock septic, encefalopati metabolik, pneumonia dan berakhir pada kerusakan multiorgan," kata juru bicara RS Awal Bros Bekasi Kuncoro Wibowo (4/12/2015).

Nah, dari hasil diagnosa tersebut jelas tergambar jika bayi Falya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi mengalami kurang gizi, diare akut, dehidrasi ringan sedang, dan intake sulit sehingga dilakukan upaya pengobatan dan perawatan inap dan ICU.

Sebelum masuk ruang perawatan inap dan ICU itulah keluarga pasien jelas diberitahu alasan kenapa Falya harus masuk perawatan inap dan ICU. Dan lagi-lagi pihak keluarga jelas harus menandatangani dokumen persetujuan agar Falya di masuk perawatan inap dan ICU, di mana dokumen tersebut jelas-jelas membeberkan hasil diagnosa pihak rumah sakit.

Namun anehnya, pihak keluarga membantah jika Falya mengalami gizi buruk. Apakah artinya pihak keluarga setuju bahwa selain gizi buruk, bayi Falya memang mengalami diare akut, dehidrasi ringan sedang, dan intake sulit sehingga dilakukan upaya pengobatan dan perawatan inap dan ICU?

Kedua, dari hasil diagnosa tersebut sepertinya sudah bisa menggambarkan jika bayi Falya terlambat dibawa ke rumah sakit. Bahkan ayah Falya, Ibrahim Blegur, sempat dipaksa pihak keluarga untuk segera membawa bayi Falya ke rumah sakit.

Saya tidak dalam posisi membela si A maupun si B. Tapi kita harus jernih melihat sesuatunya secara utuh, tanpa ada yang ditutupi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2