Mohon tunggu...
Leni Marlin Lase
Leni Marlin Lase Mohon Tunggu... Freelancer - ibu bekerja yang ingin terus belajar

bisa dijumpai juga di lenimarlins@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Akses Internet Lancar, Freelancer Semakin Jaya

17 Juli 2022   19:26 Diperbarui: 17 Juli 2022   19:43 111 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image by cocoandwifi from Pixabay 

"Eh gimana, udah selesai belum job yang itu?" tanya saya kepada rekan freelancer pada suatu hari. Kebetulan kami tergabung dalam satu proyek. Deadline pekerjaan telah ditentukan seminggu. 

Hari itu adalah hari terakhir sebelum batas waktu penyelesaian. Dari seberang sana, ia menjawab, "Haduh, belummm. Internet dari kemaren ngadat mulu. Sebel banget. Padahal harus browsing, butuh riset ini itu. Awal-awal lancar, nggak lama abis itu lambat. Kalo gini sih, bakal telat nyetor..." keluhnya.

Ia kentara banget mulai khawatir. Yah, saya cukup mengerti, bagaimanapun modal seorang freelancer adalah profesionalitasnya dalam pekerjaan. 

Profesionalitas bisa diukur dari kemampuan menepati deadline pekerjaan, mengikuti brief yang diberikan, dan faktor lain seperti komunikasi yang lancar. 

Jika telanjur memperoleh cap 'tidak profesional', klien juga juga enggan bekerja sama lagi. Alhasil, job bakal seret. Ini ketakutan freelancer yang paling nyata dan kerap terjadi.

Waktu Adalah Uang

Bukan hanya rekan saya ini saja yang pernah mengalami kendala internet ketika menyelesaikan pekerjaan. Saya sendiri juga pernah stres berat karena "dipermainkan" akses internet. Malangnya, itu terjadi beberapa saat menjelang deadline pekerjaan. 

Padahal, saya tinggal memoles sedikit lagi supaya hasilnya lebih sempurna. Namun, saya kesulitan membuka drive, tempat penyimpanan dokumen. Akses ke aplikasi khusus pekerjaan juga susah banget, padahal ada yang mau saya komunikasikan dengan project manager. 

Keinginan untuk melakukan riset tambahan pun sudah tidak sempat. Merasa putus asa, akhirnya pekerjaan saya setor seadanya. Besoknya, klien komplain karena merasa hasil yang diterimanya kurang memuaskan. Masih ada yang terlewat diperiksa pada beberapa bagian. Bahkan ia terang-terangan mengaku kecewa dan 'trauma' karena ternyata pekerjaan saya tidak sesuai harapan. Jelas, saya tidak dapat membela diri.

Pengalaman lain yang bikin gregetan adalah soal responsif. Di dunia freelance, ungkapan 'waktu adalah uang' sangat relate. Telat sedikit merespons tawaran pekerjaan, kesempatan itu bisa menguap. Entah karena ada freelancer lain yang lebih gercep dan selalu stand by, atau karena klien berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak jadi menawarkan job. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan