Leni Marlin Lase
Leni Marlin Lase Freelancer

Bisa juga dijumpai di www.ibubelajar.com. Email: lenimarlins@gmail.com. IG: @lenlase. Twitter: @lenimarlins

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

8 Langkah Mudah Membeli Rumah Melalui BTN

28 Februari 2019   15:53 Diperbarui: 28 Februari 2019   16:26 436 4 3
8 Langkah Mudah Membeli Rumah Melalui BTN
Foto: Pixabay

Bagi keluarga muda dengan level kalangan menengah ke bawah seperti kami, memiliki rumah sendiri tampaknya merupakan hal yang mustahil. Apalagi dengan semakin menanjaknya harga properti saat ini, mencari hunian dengan harga yang terjangkau oleh penghasilan bulanan terbilang cukup sulit. 

Dikutip dari smart-money.co (terbit pada 25 April 2017), Perencana Keuangan Kaukabus Financial Literacy Center, Ignatius Untung memprediksi bahwa kenaikan harga rumah pada lima tahun ke depan bisa mencapai 150%. 

Angka ini tidak sebanding dengan kenaikan gaji normal yang hanya berada di kisaran 60% pada periode yang sama. Untung mengatakan, dengan perkiraan tersebut, harga rumah yang saat ini Rp300 juta akan menjadi Rp750 juta, sedangkan gaji bulanan hanya sekitar Rp12 juta per bulan. Jadi, jika dihitung dengan cermat, pada lima tahun ke depan, generasi muda dikhawatirkan tidak mampu untuk membeli rumah sendiri.

Daya beli generasi muda terhadap rumah (Foto: smart-money.co)
Daya beli generasi muda terhadap rumah (Foto: smart-money.co)
Membaca berita ini, kami sebenarnya tidak terlalu kaget. Kami tahu bahwa harga properti memang semakin lama akan semakin mahal. Inilah salah satu alasan kami untuk segera membulatkan tekad mencari cara supaya bisa membeli rumah sendiri. Alasan lainnya adalah karena kebutuhan akan kemapanan. 

Selain opsi tinggal di rumah orang tua--kami singkirkan karena rumah orang tua berjarak jauh dengan lokasi pekerjaan--selama lebih dari 3 tahun, kami tinggal di rumah kontrakan. Menghuni rumah kontrakan memang cukup enak karena kami hanya perlu menyediakan sejumlah anggaran tiap tahun untuk membayar sewa. 

Untuk daerah Yogyakarta, sewa kontrakan masih bisa didapatkan dengan anggaran Rp6 juta - Rp10 juta per tahun. Ini berarti, tiap bulan kami hanya perlu menyisihkan Rp500ribu hingga Rp800ribu. Namun, tinggal di rumah kontrakan memiliki sejumlah kekurangan, yang paling utama adalah kami tidak bisa melakukan renovasi besar-besaran. Lagipula, ada rasa khawatir karena sewaktu-waktu pemilik rumah bisa mengambil alih kembali rumah tersebut.

Setelah pemikiran yang cukup panjang, kami akhirnya memutuskan untuk mulai bergerak. Apa langkah pertama yang kami lakukan? Sebenarnya, kami cukup bingung pada awalnya. Namun, setelah dijalani, ternyata membeli rumah sendiri tidak serumit yang dibayangkan. Berikut, saya akan membagikan pengalaman tersebut, yaitu dalam bentuk langkah-langkah sederhana dan mudah untuk dipraktikkan. Semoga bermanfaat!

1. Mencari Informasi

Langkah pertama yang kami lakukan adalah mencari informasi. Bisa dibilang, kami sangat "buta" terhadap properti karena ini adalah pengalaman pertama. Kami mulai mencari tahu dari rekan-rekan kerja, orang-orang yang pernah membeli rumah sendiri, baik secara cash maupun KPR. 

Beberapa poin yang kami tanyakan adalah: Prosesnya bagaimana? Berapa biaya yang dibutuhkan? Kita harus menghubungi siapa terlebih dahulu, developer atau bank? Apakah pengajuan kredit akan disetujui dengan mudah? Selanjutnya, kami juga mencari informasi mengenai properti. 

Beberapa hal yang kami tanyakan adalah: Di mana lokasi properti tersebut? Berapa harganya? Bagaimana legalitas developernya? Berapa kisaran cicilan tiap bulan (jika dibeli dengan KPR)? Dan sebagainya.

Dengan semakin banyaknya informasi dari internet, kami juga semakin dimudahkan. Beberapa kali, saya menyambangi website btn.co.id untuk mencari informasi mengenai tata cara pengajuan KPR. 

Menurut pengamatan kami sebagai orang awam, bank yang paling identik dengan kredit perumahan adalah BTN. Selain mendapatkan banyak informasi, kami juga dapat melakukan simulasi KPR untuk mengetahui besar cicilan yang harus dibayar berdasarkan besar DP, plafon, harga rumah, dan bunga KPR. Proses mencari informasi ini cukup lama (sekitar 6 bulan lebih) karena kami seperti menyatukan kepingan-kepingan. Namun, setelah semuanya menyatu, mimpi tersebut tampak lebih jelas. Kami menjadi tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

2. Menghubungi Developer dan Bank

Kedua hal ini bisa dilakukan secara bersamaan. Namun, kami (suami istri) sejak awal sudah membagi tugas. Salah seorang akan menghubungi developer, yang lain mengurus kaitannya dengan bank. 

Setelah menyaring beberapa informasi, kami akhirnya mendapatkan nama dan nomor kontak salah seorang developer yang menawarkan kavling rumah di salah satu daerah di pinggiran Yogyakarta. Karena banyaknya isu jual beli properti bodong, tingkat kewaspadaan kami sangat tinggi. 

Dengan hati-hati, kami mencoba menelusuri latar belakang developer yang dimaksud. Untungnya, ini adalah rekomendasi salah seorang teman yang juga ikut membeli kavling di sana. Namun, fakta itu belum memuaskan. Kami menyempatkan diri untuk datang ke alamat rumahnya untuk bertanya-tanya lebih lanjut. Langkah ini menurut kami cukup penting supaya tidak menyesal di kemudian hari.

Pada waktu yang berbeda, kami datang ke kantor BTN untuk menanyakan tata cara pengajuan KPR. Oleh salah seorang agen, kami diberikan penjelasan yang sangat mendetail. 

Informasi seputar prosedur, besar cicilan, dan biaya-biaya yang harus dibayarkan, dipaparkan dengan terbuka. Bahkan, kami juga ditawarkan beberapa lokasi perumahan yang masih tersedia, baik dengan metode KPR Mandiri maupun KPR Subsidi. Ini menjadi gambaran besar bagi kami untuk mempertimbangkan kembali niat dan keputusan untuk membeli rumah melalui KPR BTN.

3. Membayar Booking Fee 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3