Leni Marlin Lase
Leni Marlin Lase profesional

Ibu bekerja yang ingin terus belajar. Bisa juga dijumpai di www.ibubelajar.com. Email: lenimarlins@gmail.com. IG: @lenlase. Twitter: @lenimarlins

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Pilihan

Si Melankolis yang Introvert, Bisakah Berbagi Kendaraan?

12 November 2017   23:07 Diperbarui: 12 November 2017   23:48 9284 1 1
Si Melankolis yang Introvert, Bisakah Berbagi Kendaraan?
foto: www.pixabay.com

"Bagaimana kalau kita bisa menciptakan kota dengan lebih sedikit mobil?" Pasti akan sangat menyenangkan. Tapi jangan lupa, ada tantangannya.

Suatu hari, seorang teman yang tinggal di Jakarta berkunjung ke Jogja. Untuk menyenangkan hatinya, saya pun mengajaknya berkeliling kota. Kebetulan, waktu itu weekend sehingga suasana ramai sekali. Bus-bus pariwisata berseliweran, belum lagi motor-motor yang menyelip di sana-sini. Kendaraan yang kami gunakan sempat bergerak sangat pelan sehingga perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu yang cukup lama. 

Karena merasa nggak enak hati dan takut ia bosan, saya pun meminta maaf.  "Aduh, maaf yah, kita jadi terjebak di sini. Jogja kalau akhir pekan memang macet banget..."

"Ahh, santai ajaaa... Ini sih belum apa-apa dibandingkan Jakarta," katanya tertawa. Selanjutnya, ia berkelakar, bagaimana jika keadaannya terbalik, saya yang sedang berkunjung ke Jakarta. Mungkin saya bakal terheran-heran sekaligus mengeluh panjang lebar karena di mana-mana kena macet, tuduhnya.

Saya memang pernah beberapa kali berkunjung ke Jakarta. Yang terakhir adalah ketika kakak saya menikah. Kebetulan, acaranya diadakan di Jakarta. Sebagian besar anggota keluarga yang bukan penduduk Jakarta sejak awal sudah diwanti-wanti agar selalu siap lebih awal minimal 2 jam dari jadwal. "Takut macet," begitu alasannya. Karena tidak terbiasa, tentu ada juga yang sedikit protes, "Aih, ini makeup-nya keburu luntur, loh!" Hahaha. Itu baru sesekali, bagaimana jika setiap hari mengalami hal yang sama?

Selain harus siap sedia lebih awal, peristiwa tersebut mengajarkan saya beberapa hal.

Pertama, sebaiknya kita tidak naik kendaraan roda empat sendiri-sendiri atau berdua saja, tapi berenam atau sesuai kapasitas mobil yang tersedia. Selain lebih praktis, risiko untuk terpisah di jalan akan lebih kecil. Maklum, jalanan Jakarta katanya padat dan sering butuh waktu agak lama untuk mencari alamat tertentu.

Kedua, karena belum pernah ke lokasi acara, ada saja yang nggak tahu dan salah jalan. Di sini bahayanya. Menurut mereka, sekali salah jalan, pasti akan butuh waktu lama untuk kembali ke jalur semula. Soalnya harus muter dulu. Belum ditambah macetnya. Haduh. 

Ketiga, nggak boleh kasih kendor. Pokoknya, ada celah, masuk saja. Kalau cuma nunggu mobil lain, kapan majunya? Pokoknya terobos. Bagi saya, cara ini agak mengkhawatirkan karena risikonya tinggi.

Keempat, harus rajin update berita, baik dari televisi maupun kanal lain yang menyediakan informasi lalu lintas. Cari tahu jalan mana yang lagi ramai dan macet. Ada beberapa alternatif jalur yang bisa dipilih. Salah pilih jalan, bisa berabe.

Kerasnya jalanan di Jakarta itulah yang membuat saya berpikir beberapa kali untuk berkunjung (atau tinggal) di kota ini. Seperti video dari Uber ini, jika tidak ada solusi yang tepat untuk macet, Jakarta bisa berhenti total. Nah, salah satu metode yang bisa dilakukan adalah mulai mencoba konsep Ride Sharing. Karena itu, Uber menyediakan fasilitas berbagi biaya dengan orang lain yang ikut berbagi tumpangan dalam satu kendaraan. Caranya cukup praktis dan mudah. Nah, bayangkan jika semua orang peduli dan melakukan metode ini, bukan tidak mungkin kemacetan akan berkurang.

Namun, tentu saja ada tantangan untuk melakukan sesuatu yang belum menjadi kebiasaan. Salah satunya, tantangan karena perbedaan karakter atau kepribadian seseorang. Apa hubungannya? Berkendara bersama orang lain tentu berbeda dengan berkendara sendiri. Selama ini, mobil bisa dibilang adalah rumah kedua bagi sebagian orang yang menghabiskan waktu di jalanan. Itu berarti, ketika bersama orang lain di mobil, sama seperti mengizinkannya "masuk" ke dalam area kita. Padahal, dengan karakter yang berbeda-beda tersebut, bisa saja terjadi gesekan, remeh tetapi cukup mengganggu, khususnya bagi beberapa orang. 

Karakter Si Melankolis

Berdasarkan sedikit pengalaman, berikut saya akan membahasnya dari sudut pandang seorang melankolis yang introvert.

Secara umum, orang-orang yang berkarakter melankolis adalah mereka yang menyukai kerapian, teratur, terencana, penuh pertimbangan, dan sangat detail. Mereka juga menyukai kesempurnaan, pandai, serius, dan mau berkorban. Namun, mereka suka mengkritik, suka mengingatkan, dingin dan kaku, sensitif, berkata tajam, rumit, suka menganalisis, dan idealis. 

Ketika terjebak macet, mereka mungkin akan langsung murung dan uring-uringan. Mereka mulai mengkritik sana-sini, termasuk orang-orang yang tidak pintar mengemudikan mobil, perbaikan jalan yang menghambat jalur yang dilewati, dan sebagainya. Mereka mengeluh karena mungkin tidak akan dapat sampai tepat waktu ke sebuah acara atau bahkan hanya karena jadwal mereka untuk bersantai menjadi berantakan. 

Lalu, bagaimana jika mereka ditawari untuk melakukan ride sharing? Mungkin, awalnya mereka akan menolak. Mereka terlalu sayang dengan privasi. Apalagi jika mereka merupakan orang-orang introvert yang tidak pandai berbasa-basi. Namun, jauh di dasar hati sebenarnya ada niat tulus untuk membantu karena--percaya atau tidak--mereka sebenarnya sangat baik dan penolong. Lagipula, dengan konsep ride sharing yang berguna untuk kebaikan orang banyak? Yang benar saja, tentu saja mereka harus turut berpartisipasi.

Namun, karena mereka tidak ingin terlihat aneh dengan kepribadian semacam itu, sering kali justru penolakan yang akan muncul. Alasannya bermacam-macam, mulai dari yang jujur hingga sedikit ngeles. Nah, cara menyiasatinya adalah dengan memberi sedikit "desakan" sehingga tembok keengganan si melankolis ini runtuh. Jika sudah mengatakan, "Ya", jangan khawatir, itu berarti mereka memang tulus melakukannya.

Bagi Orang Lain

Banyak orang mengatakan, berteman dengan orang-orang melankolis itu sulit. Mereka pandai mengkritik dan ucapannya lebih sering menusuk dibandingkan menyenangkan. Tapi, hey, itu kan demi kebaikan. Hanya saja, mereka mungkin tidak dikaruniai kemampuan memilih kata-kata yang lebih halus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2