Lenas Tsuroiya
Lenas Tsuroiya

mengikuti kata hati sendiri bagus, tetapi kita juga harus hati-hati melihat kemana kata hati membawa kita

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Berbakat atau Kreatif?

5 Maret 2018   22:08 Diperbarui: 5 Maret 2018   23:22 246 0 0

Bismillahirrahmanirrahiim

Berbakat dan kreatif merupakan dua hal yang berbeda, namun tidak banyak yang menyadarinya. Bakat adalah kemampuan yang melekat (inherent) dalam diri seseorang. Bakat merupakan bawaan sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. 

Secara genetic, struktur otak telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak sangat ditentukan oleh cara interaksi individu tersebut dengan lingkungannya. Bisa juga diartikan dengan adanya keunggulan-keunggulan dalam diri individu yang merupakan bawaan lahir, dimana dalam perkembangannya membutuhkan kreatifitas, intelegensi tinggi, dan tanggung jawab dalam menjalankannya.

Potensi bawaan anak sampai menjadi bakat berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ). Tingkat kecerdasan intelektual anak yang berbakat ceenderung diatas rata-rata. Namun, anak yang intelektualnya tinggi belum tentu menunjukkan anak yang berbakat.

Individu yang berbakat adalah individu yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul, meliputi:

  • Kemampuan intelektual umum (intelegensi)
  • Kemampuan akademik khusus
  • Kemampuan berfikir kreatif-produktif
  • Kemampuan memimpin
  • Kemampuan dalam salah satu bidang seni
  • Kemampuan psikomotor

Factor lain yang menunjukkan potensi anak berbakat adalah kecerdasan emosi (Emotional Quetient). Anak yang kemampuan mengontrol emosinya bagus, akan lebih baik dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya. 

Misalnya, ketika anak memiliki bakat bermusik, saat harus menampilkannya dia akan menunjukkan bakat yang dimilikinya dengan percaya diri. Artinya, IQ dan EQ sangat berperan dalam menunjang keberhasilan anak dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya. Namun selama ini, kebanyakan orang tua lebih terpaku pada upaya peningkatan intelektualitas semata, sehingga anak hanya diberikan konsumsi untuk daya pikirnya dan EQ-nya menjadi menurun atau tidak dikembangkan.

Anak yang unggul dalam bidang tertentu belum tentu unggul di bidang lain. Misalnya, anak yang unggul dalam bidang matematika atau ipa, namun ia kurang mampu mengolah kata atau bernyanyi di depan kelas. 

Begitu juga sebaliknya, anak yang sudah sering tampil berpidato atau menyanyi di depan bisa jadi kurang tangkas dalam memecahkan rumus-rumus fisika. Kelebihan dan kekurangan yang ada pada anak haruslah diperlakukan secara seimbang. Dengan demikian, potensi yang dimiliki anak akan tumbuh dan berkembang selaras dengan perkembangan yang diterimanya, baik melalui pembelajaran di sekolah maupun lingkungannya.

Bantu anak mengenali dan mengasah bakat yang dimilikinya. Jangan sampai bakat yang dimiliki anak menjadi terpendam atau bahkan menghilang karena keterlambatan dalam mengetahuinya atau malah dengan sengaja menghapusnya.