Hiburan Artikel Utama

Fantastic Beasts dan Sekotak Popcorn yang Habis Sebelum Film Bubar

17 November 2016   15:45 Diperbarui: 18 November 2016   09:26 510 1 0
Fantastic Beasts dan Sekotak Popcorn yang Habis Sebelum Film Bubar
Ilustrasi: screenrant.com

Berhubung kemarin Surabaya seharian dirundung mendung, kami memutuskan untuk menonton bioskop ketimbang berenang. Dan pilihan kami mendadak jatuh pada film ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them.’

Sedari awal melihat poster film dan mendengar rumor sebagian orang, pikiran saya tak jauh-jauh dari karakter Harry Potter yang sudah terlanjur melekat beserta magic wand yang diikuti magic spellsnya yang bertebaran di sepanjang alur cerita, outfit witches yang berwarna kumal tapi tetep cool, aksen British yang kental, menara, alam terbuka nan hijau, muggles, dan pernak-pernik unik lain yang biasa menghiasi kisah-kisah Potter yang ditulis oleh J.K Rowling. Dan ternyata dugaan saya tak sepenuhnya salah.

Film ini dibuka dengan berbagai cuplikan berita dalam surat kabar khas dunia penyihir di tahun 1926. Terlempar berpuluh tahun sebelum era Potter, tersebutlah Newt Scamander --selalu kebaca Salamander wkwkkk--, seorang ahli tentang segala urusan makhluk-makhluk ajaib, jebolan Hogwarts. Di tengah cerita kita akan tahu bahwa Scamander pernah dikeluarkan dari Hogwarts sebelum masa studinya berakhir oleh karena satu kecelakaan. Kemudian ia bergabung dengan ‘Ministry of Magic’ dan mendapat tugas untuk menulis satu hal yang sangat dicintainya, ‘Magical Creatures.’

Itu sebabnya di sepanjang film Fantastic Beasts ini kita akan banyak melihat berbagai makhluk aneh seperti si klepto Niffler (yang mirip platiphus), si Bowtruckle yang unyu (kayak kangkung), juga seekor burung elang, Frank (berbentuk seperti simbol elang-nya Amrik) yang menjadi salah satu alasan mengapa Newt harus ke New York, dan banyak lagi lainnya.

Fantastic Beasts (dok.pri)
Fantastic Beasts (dok.pri)

Singkat cerita Newt Scamander sampai di daratan New York dengan membawa koper ajaib. Oleh satu kejadian tak terduga, ia harus bertemu dengan si gendut lucu, Jacob Kowalski (seorang muggler-nomaj-no magic). Melalui pertemuan ini kemudian bergulir kisah tentang teror yang baru-baru ini muncul menghantui penduduk kota New York (gambarannya mirip-mirip Gotham City). Dan disini kita akan dipertemukan dengan sosok Colin Farrel yang tampak klimis, dingin, ganteng menghanyutkan (eh haduh, salah fokus), dan sekaligus mewakili sosok karakter yang haus akan kekuasaan serta kekuatan super.   

Meski tak dibumbui dengan adegan romantis a la roman-roman sinetron, Newt Scamander dipertemukan juga dengan jodohnya. Seorang gadis cantik, Porpentina Goldstein namanya (Katherine Waterston), petugas ‘Magical Congress’ di Amerika sana. Bersama Porpentina, Newt harus menghadapi kekuatan hitam yang berhasil memporakporandakan kota yang ternyata berasal dari kekuatan seorang remaja, Credence Barebone (Ezra Miller).  

Film menarik ini sebenarnya di awal-awal cerita terasa bergerak lamban. Bisa dikatakan hampir membosankan. Di menit-menit awal pertunjukan bahkan tangan dan mata saya justru hanya terfokus pada sekotak popcorn yang habis bahkan sebelum kisahnya bubar. Beruntung ada aksi Jacob yang kocak dan beberapa kali berhasil membuat kami semua tertawa ngakak tergelak. Coba nggak ada dia, apalah arti filmnya.

Bagi anda yang berminat membawa seluruh anggota keluarga (termasuk si kecil), film ini aman kok. Tidak ada adegan saling mengucap ‘magic spell’ yang berujung kematian. Juga tak ada adegan penuh cucuran darah, meski bolak-balik terlihat gambaran setengah kota yang hancur karena satu kekuatan yang tak terduga. Juga Credence, tokoh kunci penyebab kekacauan yang juga merupakan anak adopsi seorang wanita anti sihir yang kerap dipukul oleh sang ibu tiri.

Adegan pemukulannya tak sempat terlihat di layar. Udah kadung digunting sensor duluan. Penonton hanya digiring pada pemikiran bahwa ini anak korban ‘abusing’ orangtuanya. Tau-tau luka-luka aja tangannya. Satu-satunya adegan yang sempat membuat mata saya tertutup beberapa detik hanya saat kekuatan hitam merenggut nyawa ibu tiri Credence. Nggak berdarah-darah sih, hanya nggak sanggup aja liatnya (sayang ibu -_-“).   

Berhubung durasi film yang aduhai, lebih dua jam, ada baiknya saat menonton sudah dalam keadaan kenyang atau membawa bekal. Bagi anda yang nggak tahan dingin (gile dinginnya ngalahin AC di rumah) jangan lupa bawa jaket (nggak usah sekalian bawa bantal sama sarung, ntar diusir satpam dikirain mau apaan wkwkk). Udah itu aja. Selainnya itu aman.

Oh ya, satu catetan yang agak mengganggu kenikmatan sensor memori saya saat menonton film ini adalah adegan waktu Newt masuk ke koper ajaib bersama Jacob untuk bertemu dengan ‘magical creatures’ yang ada di ‘kebun binatang’ mininya. Keliatan sekali settingannya. Jadi berasa seperti berada dalam ruangan hanya dengan berbagai set yang berbeda. Kurang cantik pengambilan gambarnya. Bahkan saat Jacob begitu tertarik dengan makhluk ajaib berbentuk seperti gelembung transparan yang berisi ‘zat’ berwarna hitam (kekuatan Credence),  ia hanya melewati skets yang berupa selembar tirai seperti terpal. Haduh, nggak banget.

Oke, itu aja spoiler-nya. Bagi yang berminat nonton, hayu rame-rame ajak teman dan keluarga.

Nasihat bagi yang jomblo, jangan nonton film ini sendirian ya. Kenapa? Biar nanti saat adegan si ganteng Percival Graves di’sabda’ dan berubah wajah jadi nggak bingung nanya ke kiri atau ke kanan penonton di sebelah, ‘Eh itu kaaaaann.. Siapa yaaaa?’ Haduh, males kan jawabnya.

Salam Kompasiana.

.

Catatan : film ini memiliki catatan rating usia PG-13 for some fantasy action violence (sumber : IMDB)

.