Find Leilla
Find Leilla karyawan swasta

seperti koinobori yang dihembuskan angin http://playgroupku.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Ibu dan Anak Artikel Utama

Orangtua, Waspadalah

20 Mei 2015   15:10 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:47 499 22 22
Orangtua, Waspadalah
dd

[caption id="" align="aligncenter" width="486" caption="Orangtua, Waspadalah"][/caption] Seorang teman tiba-tiba pucat wajahnya saat ditelpon suaminya bahwa si buah hati (usia 12 tahun) tak juga kunjung pulang ke rumah. Waktu sudah menunjuk pukul 5 sore. Sepulang les seharusnya putra satu-satunya itu sudah berada di rumah. Panik, teman saya berusaha mencari ke sana kemari dan mendapati informasi bahwa sang putra sedang diajak berjalan-jalan oleh seorang kenalannya, laki-laki dewasa, ke sebuah apartemen pula. Astaga.

Saat mencoba mengorek kejadian hari itu, betapa terkejutnya saya saat si ibu mengulang perkataan si kecil yang mengeluh saat diminta untuk tak berjumpa lagi dengan ‘si orang dewasa’ : ‘Kalo nggak boleh ketemu sama kakak X, nanti aku nggak diajak jalan-jalan lagi dong, mah.’ Dan sedikit demi sedikit kami mulai paham dimana letak permasalahannya.

Jangan hanya menuntut kewajiban, anak juga punya hak untuk bahagia

Coba check kembali, kapan terakhir kali mengajak putra-putri anda berjalan-jalan bersama keluarga? Berenang, memancing, ke kebun binatang, melihat pawai bunga, berkunjung ke taman kota, dan lain-lain kegiatan keluarga. Kapan terakhirnya? Minggu lalu? Bulan lalu? Atau bahkan sudah hampir setengah tahun lalu?

Orang sering berpikir bahwa menyenangkan anak harus dengan banyak biaya sehingga yang ada terus menunda dengan alasan belum cukup uangnya. Tahukah anda bahwa sesungguhnya membahagiakan anak tak melulu harus merogoh kocek sedalam-dalamnya? Jangan selalu menuntut anak untuk giat belajar di sekolah, ingatlah bahwa si kecil berhak untuk bahagia juga. Bahagia itu bisa bermacam-macam bentuknya. Tinggal pilih mau yang mewah atau yang murah. Intinya satu, jangan biarkan anak mencari bahagianya di luar rumah. Salah-salah bisa bahaya.

Jangan biasakan jajan, perut anak-anak harus kenyang

Waktu kecil dulu satu pesan ibu yang masih saya ingat sampai hari ini adalah : ‘Kalo teman sedang makan, harus pulang. Tidak boleh ikut makan di rumah teman. Tidak boleh jajan sembarangan dan tidak boleh berbagi sendok dengan teman.’ Begitu pesan ibu setiap kami bermain keluar bersama teman-teman. Waktu itu saya sama sekali tak mengerti apa maksudnya, namun belakangan saya pikir kata-kata ibu ada benarnya. Disiplin ibu membentuk karakter kami supaya tak mudah tergoda karena makanan. Perut harus dikenyangkan di rumah, bukan di luaran. Jika perut penuh, biar kata dirayu dengan segebok permen atau roti juga nggak bakal gampang luluh.

Jangan keburu marah, beri pemahaman yang mudah diterima akal sehatnya

Setiap anak melakukan pelanggaran seperti berbohong atau saat melakukan kesalahan, sebaiknya tak keburu marah dan berceramah panjang. Semakin panjang yang anda sampaikan semakin tak didengar. Ajak si kecil untuk duduk bersama dan tanpa amarah mulailah berbicara. Saat menangani putranya kemarin, teman saya sengaja memilih lewat sehari setelah kejadian menggemparkan itu dan mengajak putranya makan di luar sambil mengorek kisah sesungguhnya. Saat si remaja kecil menyantap ayam goreng kesukaannya, sedikit demi sedikit cerita pun terbuka. Mengejutkan memang, namun sang ibu tak menunjukkan wajah shock-nya dan terus memancing putranya untuk berbicara.

Saat di rumah, menjelang tidur, kembali ia meminta putranya untuk duduk sejajar dengannya dan menyampaikan beberapa pesan seperti  harus selalu mengaktifkan handphone setiap pulang sekolah, tidak boleh me-reject telepon, termasuk memberitahukan kunci/password masuk ke hapenya. Untuk setiap perubahan rencana seperti penjemputan, misalnya, akan selalu diberitahukan lewat telepon genggam yang dibawanya. Selain itu anak diberitahu agar harus waspada dengan orang asing. Tidak boleh mudah percaya ajakan orang, meski saudara yang sudah dikenal. Juga anak diajarkan untuk mengetahui batasan-batasan dimana (maaf) orang dewasa boleh menyentuh bagian tubuhnya.

Di akhir percakapan, anak juga diberi nasihat untuk selalu terbuka kepada orangtua. Komunikasi harus terus terjaga. Orangtua tidak hanya berfungsi untuk melayani anak di saat lapar, sakit, atau lelah, namun juga bisa jadi pundak dan telinga saat berkeluh kesah.

Hari ini, lewat tiga minggu sejak kejadian itu. Masih terlalu dini mengatakan bahwa apa yang sudah dilakukan sang ibu akan berhasil. Namun saat melakukan beberapa saran di atas, putra kawan ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Lebih bahagia. Lebih terbuka. Sebab kecemasan tanpa melakukan apa-apa tak akan mengurangi setiap kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, oleh karenanya nasihat sekecil apapun akan sangat berguna saat terlanjur tertimpa masalah seperti ini.

Semoga senantiasa dijauhkan dari yang jahat.

Salam Kompasiana.

Sumber Gambar