Cocon Sidiek
Cocon Sidiek Perencana dan Penulis Lepas

Seorang Perencana, Penulis lepas, Pemerhati masalah lingkungan hidup, sosial dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Laut dan Kelangsungan Makhluk Bumi (Refleksi Hari Laut Sedunia)

8 Juni 2018   11:09 Diperbarui: 8 Juni 2018   17:17 2171 4 2
Laut dan Kelangsungan Makhluk Bumi (Refleksi Hari Laut Sedunia)
(sumber: localguidesconnect.com)

Jika saat ini, saya bertanya pada Anda tentang satu kata "Laut", lantas apa yang tiba-tiba Anda pikirkan pertama kali dalam benak Anda? Pertanyaan ini, sengaja saya lontarkan untuk merangsang, sekaligus memancing orientasi berfikir Anda secara cepat, tentang "laut saat ini".

Tentu saya berharap bagaimana Anda bisa melihat peran laut bagi kelangsungan hidup kita, dan bagaimana fakta yang terjadi dengan laut kita saat ini. Jika saja jawaban Anda sedikit menyinggung satu diantara jawaban yang saya harapkan tadi, maka saya anggap Anda punya kepekaan terhadap alam dan lingkungannya.

Sebagai negara kepulauan (archipelago state), Indonesia dikelilingi 2/3 wilayah laut terdiri dari 3,25 juta km2  luas lautan, dan 2,55 juta km2 sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Hamparan laut tersebut memiliki potensi sumber daya yang sangat besar. Tak hanya itu kondisi strategis geografis Indonesia sebagai bagian segitiga karang dunia (coral triangle) telah menjadikan Indonesia sebagai the world megabiodiversity.

Nilai ekonomi sumber dayanya baik direct used value maupun in-direct used value sudah tak mampu di gambarkan. Nilai ekonomi langsung sumber daya dan jasa laut Indonesia diperkirakan mencapai 2,5 trilyun USD (Hartriani, 2017 dikutip dari www.katadata.co.id).

Saya kemudian menghitung asumsi potensi nilai ekonomi khusus untuk subsektor akuakultur saja bisa mencapai 250 miliar dollar per tahun. Itu baru kita ngomong potensi nilai ekonomi langsung.

Lantas bagaimana jika kita lakukan valuasi ekonomi tidak langsung seperti jasa lingkungan? Tentu tak terbayangnya nilainya.

Baik, saya kali ini tidak membahas laut dalam konteks ekonomi sumber daya, namun saya akan fokuskan bagaimana melihat laut dalam konteks dimensi ekologi. Ini penting, karena sebagian besar manusia dibumi tak memahami, dan atau bahkan tak mau memahami bagaimana nilai strategis eksistensi laut secara ekologis.

Ironisnya, pandangan ini luntur seiring sikap antropisentris yang begitu dominan. Oleh karenanya, saya ingin mencoba menggugah kesadaran kita semua untuk men-transformasi cara pandang kita terhadap laut dari semula dari kacamata antroposentrisme ke kacamata biosentrisme atau ekosentrisme.

Masyarakat global kemudian mulai sadar bahwa laut sebagai penopang kahidupan makhluk bumi keberadaannya sudah terancam.

Singkatnya, laut kita saat ini sedang sakit. Itulah kenapa PBB dalam ajang Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil, mengesahkan 8 Juni sebagai hari laut sedunia.

Ini menjadi titik tolak untuk menggugah  kesadaran dunia tentang laut dan kondisinya saat ini. PBB telah menyerukan negara-negara di dunia untuk melindungi laut dari ancaman kerusakan akibat orientasi pembangunan yang memanfaatkan laut secara tidak bertanggungjawab.

Antroposentrisme telah membawa perubahan besar terhadap penurunan kualitas lingkungan global khususnya laut. Perubahan iklim yang memicu global warming telah mengakibatkan ancaman terhadap sumber daya laut.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mencatat, efek global warming telah memicu kenaikan suhu permukaan bumi 0.74 0.18 C (1.33 0.32 F) selama seratus tahun terakhir.

Kondisi itu, memicu laju pencairan es di kutub utara semakin cepat, efeknya sea level rise terus terjadi.

Sedangkan laporan yang dikeluarkan IPCC berjudul Climate Change Impacts, Adaptation dan Vulnerability disebutkan bahwa di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-rata antara 0.2-1 derajat Celcius per tahun berdasarkan data IPCC antara tahun 1970-2000.

"Naiknya suhu bumi hingga dua derajat celsius akan berdampak petaka, mulai dari meningkatnya permukaan air laut, gunung es mencair hingga menghilangkan pulau". Saya  mengutip pernyataan Menteri KLHK saat membuka Festival Iklim dua derajat di JCC, dari merdeka.com.

Ilustrasi biota laut/wikipedia.org
Ilustrasi biota laut/wikipedia.org
Dilihat dari pernyataan tadi, tentunya bukan gambar bagus. Bahkan tergolong menjadi ancaman.

Sebagai negara kepulauan tentunya Indonesia menjadi negara dengan potensi efek negatif yang dominan dari kondisi itu.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga tahun 2007 sebanyak 24 pulau kecil lenyap akibat pemanasan global, tsunami, abrasi dan penambangan pasir yang tak terkendali (dikutip dari kompas.com edisi 2 Oktober 2009).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3