Cocon Sidiek
Cocon Sidiek Perencana dan Penulis Lepas

Seorang Perencana, Pemerhati Lingkungan dan Penulis Lepas

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Globalisasi Itu Telah Renggut Keperawanan Desaku

17 Mei 2018   05:17 Diperbarui: 17 Mei 2018   05:16 210 0 0

Sungguh aku mendambakanmu bukan karena kecantikanmu..

tapi,.. aku mencintaimu karena engkau apa adanya dengan segala keaslian kepribadiaanmu

 Seiring berjalan waktu, belasan tahn  lamanya aku mencoba menambatkan separuh hidupku ini ke lain hati,

tapi, sejujurnya aku tak bisa,  hati ini tak bisa lepas darimu.

 Kini aku ingin kembali kepangkuanmu atas rasa rinduku yang seolah akan tumpah..

Aku berharap akan menemukan kembali kebahagiaan masa laluku bersamamu.

 Tapi, rasanya hati ini tercabik, aku telah kehilanganmu..

Bukan kehilangan ragamu, tapi aku begitu patah hati atas kehilangan kepribadianmu itu.

 Ah, rupanya biangkerok globalisasi itu, kapitalisme itu,..!

Telah nyata-nyata merenggut keperawananmu..!

Sungguh aku begitu terpukul, karena kebahagiaan masa lalu ku tak akan pernah ku rasakan lagi..


Ku habiskan separuh hidupku ini di sebuah desa kecil yang jauh dari Ibu Kota Kabupaten bahkan ke Kota Kecamatan Sekalipun. Ya. desa masih melekat sebagai habitat bagi orang-orang termarginalkan.

Sawah-sawah dengan petakan berbentuk terasering melingkari bukit-bukit, dimana di bawahnya mengalir sungai besar nan jernih tak tercemar, batu-batu besar menjulang bertebaran di tengah sungai, di bagian hulu sungai dan disekililingnya tumbuh pohon-pohon besar menahun, tak pernah kami kekurangan air sepanjang tahun. Sebuah karunia dan nikmat Tuhan terkasih yang tak terbeli.

Bagiku sebagai orang desa saat itu, kebahagiaan tak bisa diukur dari seberapa banyak materi, namun, setiap bangun pagi, kicauan burung-burung di belakang rumah, gemercik air selokan berpadu dengan paduan suara kodok di sawah yang tengah menguning membentuk sebuah sistim harmoni alam yang setiap saat menjadi pelipur bagi kami masyarakat desa.

Kalian tahu, bapakku adalah manusia tiada duanya, perjuangannya untuk menghantarkanku agar mampu mengenyam pendidikan yang lebih baik sungguh begitu besar.

Perjuangan melewati jalan terjal, betapa dari pagi hingga sore menjelang bahkan hingga larut malam, harus berjibaku menyusuri hutan mencari batang bambu untuk dijual dengan harga yang tak seberapa agar aku esok hari dapat membayar uang SPP sebagai kompensasi mengikuti ujian sekolah, mencari rumput dan daun-daun liar untuk makan dua ekor kambing harta kami itu, memetik pucuk-pucuk pohon paku (sejenis pakis) untuk dijual sekedar untuk membeli lauk dan seliter beras, menjadi kuli angkut batang kayu, menjadi buruh tani pada tuan tanah.

Aku terkadang selepas sekolah atau pada saat libur turut serta membantu bapakku, menjadi buruh angkut kayu, atau menjadi kuli bangunan. Bukan apa-apa, aku ingin merasakan apa yang tengah bapakku rasakan dan semuanya ku lalui penih dengan suka cita.

 Tak sia-sia apa yang telah bapakku perjuangkan lewat kerja keras yang tulus, lewat do'a ibuku yang setiap sepertiga malam terakhir selalu bangun hanya untuk menunaikan shalat malam, mendo'akanku dengan air mata harapan, saat ini aku telah  dapat mandiri dan memiliki keluarga kecil. Duh, rasanya aku belum memberikan kebahagiaan sebagai kompensasi atas jasa keduanya.

Bapak dan ibuku adalah sumber inspirasiku melebihi apapun di dunia ini, bahkan aku tak mungkin mampu membalasnya walaupun dengan segenap jiwa ragaku sekalipun.

Sungguh, betapa harmoni alam yang setiap pagi, sore dan malam hari kami lihat dan kami dengar di desa itu, telah mengubur dalam-dalam rasa lelah dan tergantikan oleh kebahagiaan dan harapan, begitulah yang kami dan masyarakat desaku rasakan dalam keseharian perjalanan hidup.

Kini, setelah tiga puluh empat tahun, dimana separuh terakhir ku habiskan perjalanan hidupku sebagai seorang perantau di kota-kota, tak tahu rasanya aku begitu rindu dengan suasana desaku, rindu teman-teman masa kecilku, rindu keramahtamahan dan rasa kegotongroyongan yang melekat pada orang-orang desa itu, dimana di sini aku tak sedikitpun merasakan suasana seperti itu.

Di Ibu kota ini, ku habiskan perjalanan hidupku ini dalam suasana kehidupan sosial masyarakatnya yang hedonis, dan individualistik. Sebuah perjalanan hidup yang tak efisien karena waktuku dan hampir seluruh orang di kota ini telah dihabiskan di jalanan yang macet, di kantor dan di tempat tidur. Lalu, kapan aku dan mereka dapat berinteraksi dan berbaur dengan sesama? bahkan untuk mendidik anak-anaknya saja mereka serahkan pada orang lain. Ah jujur saja aku bosan dengan semuanya...!

****

 

Akhirnya, ku sempatkan untuk berkunjung ke kampung halamanku lima hari ke depan dengan mengambil kesempatan sisa cuti tahunanku, aku tak mampu lagi membendung rasa rindu ini yang hampir tumpah. Ku tumpangi bis patas AC dari Terminal Kampung Rambutan tepat jam 19.00 WIB.

Menjelang subuh aku tiba. Ku dekap tubuh renta bapak dan ibuku. Kami larut dalam suasana yang bercampur aduk antara sedih, bahagia dan rindu yang teramat dalam. Masih terasa kasarnya telapak tangan bapakku, sama seperti dulu, telapak tangan ini adalah saksi perjuangan bapakku dalam mendidik, dan menafkahi keluarga kami.

****

 

Ku habiskan lima hari liburan kali ini untuk berkeliling desa, aku ingin merasakan denyut nadi ekonominya, suasana sosial dan kultur masyarakatnya, dan setiap perkembangan aspek kehidupan yang mempengaruhinya setelah sekian lama aku tinggalkan desa ini.

Tak tahu rasanya hati ini merasa teramat terpukul, sedih bercampur dengan rasa khawatir akan kehilangan sesuatu yang begitu besar. Tak tahu kenapa?. Ah, faktanya benar saja semua keaslian desaku itu kian hilang tergerus perkembangan zaman.

Dulu, disini di sepanjang jalan desa ini adalah deretan gubuk-gubuk yang dibangun masyarakat secara swadaya untuk difungsikan sebagai pasar tradisional yang dibuka tiap hari kamis dan minggu, dimana hiruk pikuk masyarakat saling menjajakan dan menawarkan hasil produksi mereka di ladang, kebun, sawah dan kolam. Beragam hasil panen di kebun dan ladang mereka serta jajanan tradisional khas desa tersedia disini. Semua aktivitas itu telah secara nyata memberikan dampak bagi pergerakan ekonomi lokal desaku.

Aku dan yang lainnya telah menganggap hari kamis dan minggu sebagai hari yang istimewa, hari dimana saatnya para petani menumpahkan kebahagaiaan karena segera akan mendapatkan buah dari hasil jerih payahnya bercocok tanam selama berbulan-bulan.

Bukan hanya itu, pasar tradisional bagi kami adalah media untuk bersosialisasi dengan sesama, media untuk mempererat tali silaturahmi. Kami di desa ini bak keluarga besar, semua yang kami lakukan, membangun rumah, hajatan atau kegiatan apapun adalah buah dari rasa kegotongroyongan dan kebersamaan yang tulus. Alangkah indahnya rasa itu..

Tapi, saat ini semuanya hilang, pasar tradisional itu tergantikan dengan telah menjamurnya swalayan-swalayan mini milik para konglomerat!

Lihat, disetiap pojok perempatan jalan desaku! Tak ada lagi suasana hiruk pikuk masyarakat yang berbaur bercengkrama seperti dulu. Jajanan tradisional tergantikan oleh roti-roti keju yang bahan bakunya impor itu, sayur mayur, lauk-pauk, bumbu-bumbu masak, dan makanan minuman yang asing itu justru saat ini menjadi satu-satunya yang disediakan di swalayan itu

Dulu warung kecil milik Mak Onah dan lainnya menjajakan sembako dan kebutuhan sehari-hari masyarakat kampung, kini sudah tak ada lagi. Katanya sudah tutup karena tak mampu bersaing dengan swalayan itu. Saat ini, Mak Onah kembali menjadi buruh "tandur" di sawah, bahkan dengan tubuhnya yang renta itu.

 Sungguh ironis, masyarakat desaku dengan terpaksa  menjadi konsumen atas barang-barang yang sebenarnya asing itu! Masyarakat harus dipaksa memiliki jiwa konsumerisme diatas ketiadaan kemampuan daya belinya. Inikah globalisasi itu? Inikah liberalisasi itu? Inikah ukuran kemajuan negeriku?

Dulu, para petani dengan mudah menjual hasil panennya walaupun dengan hasil yang tak seberapa. Tapi kini, seiring semakin melonjaknya biaya produksi karena harga pupuk dan lainnya yang selangit itu, justru mereka terbungkam oleh akses pasar yang tak menentu. Hasil produksi petani lokal lambat laun harus tersingkir oleh merebaknya produk pertanian impor yang dijajakan oleh swalayan-swalayan milik asing itu.

Jikapun, aku dengar harga cabai, bawang merah dan lainnya saat ini tengah naik berkali lipat, tapi faktanya kenaikan harga dan nilai tambahnya tak mampu dirasakan petani. Yang meraup kenikmatannya adalah para kartel, para pengepul dan tengkulak itu. Lantas? Inikah bukti hadirnya negara atas nama pemberdayaan itu? Atas nama kedaulatan dan kemandirian pangan itu?

Kemana kalian pada saat para petani menjerit karena harga hasil panen turun? menjerit karena harga pupuk terus melonjak? menjerit karena produksinya gagal? menjerit karena terlilit utang oleh para tengkulak dan lintah darat? menjerit karena daya saing dan posisi tawarnya menurun sebagai akibat membanjirnya produk-produk impor itu? Ah, aku dongkol, benar-benar dongkol...!

****

 

Di hulu sungai besar itu, dulu tumbuh pohon--pohon picung (nama lokal) besar tinggi menjulang, dimana pohon - pohon itu adalah sumber serapan air, dan bahkan mata air itu seolah tak pernah surut sepanjang tahun sebagai sumber air minum dan kebutuhan sehari-hari masyarakat desa.

Air sungai ini, dulu mengalir dengan derasnya hingga melewati musim kemarau, bercabang mengikuti selokan-selokan yang mengalir menuju sawah-sawah, menuju ladang-ladang dan kolam-kolam ikan, menuju tempat-tempat pemandian umum. Sekarang, saat ku pandangi sungai yang mengular ini, aku mendengar hanyalah gemercik air yang ada bukan lagi suara arus sungai seperti dulu. Air sungai ini rupanya telah surut! Saat ini masyarakat didesaku hanya mengandalkan air hujan.

Ku lihat para petani cabai itu harus rela naik turun bukit dengan memikul jrigen berisi air, karena harus bersusah payah mencari sumber air yang tak tentu didapat itu.

Kenapa ini bisa terjadi? apa yang berubah dengan masyarakat di desaku? Kenapa pohon-pohon besar yang menahun itu ditebang begitu saja tanpa ada kompensasi penanaman kembali?. Aku lihat dulu di kebun-kebun itu masih berderet hamparan pohon-pohon keras sumber serapan air, saat ini tergantikan oleh kebun-kebun kelapa sawit.

Aku sempat bertanya kepada Uwak Maman, dan ternyata bahwa ladang-ladang dan kebun-kebun mereka yang tak punya modal itu telah disewakan pada tuan-tuan tanah untuk dikonversi menjadi kebun kelapa sawit yang rakus air itu.

****

 

Sungguh, aku merindukan masa lalu itu, masa dimana masyarakat desaku masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal perlambang hubungan harmoni antara alam dengan manusia.

Dulu kami bahkan takut dengan istilah "pamali", sebuah hukum tak tertulis yang bahkan masyarakat tak berani melanggarnya, apalagi dengan sengaja merusak alam. Kami masyarakat desa ini percaya bahwa alam suatu saat akan murka.

Aku bahkan akrab dengan kearifan lokal itu, perayaan sedekah kupat di setiap perbatasan desa, perayaan sedekah bumi setiap setelah panen raya di kebun, sawah dan ladang kami. Mungkin sebagian besar bahkan menganggap ini sebagai hal tabu dan berbau syirik!.  Padahal agama apapun mengajarkan kita tentang hubungan harmoni antara manusia dengan alam seisinya.

Kami orang-orang desa menjadikan perayaan tersebut sebagai ajang mempererat tali persaudaraan, perayaan tersebut memiliki makna filosofi yang teramat dalam tentang bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat dan generasi yang akan datang tentang arti penting menjaga keselarasan dengan alam, dan hal ini selalu terimplementasi dalam laku keseharian masyarakat di desa kami.

Kini kearifan lokal itu lambat laut hilang, jikapun ada perayaan sejenis, pada kenyataannya kosong tak bermakna, nilai-nilai itu hanyalah raga tanpa ruh!. Padahal, bukankah semestinya kearifan lokal itu dijadikan dasar sebagai acuan bagi hukum positif yang ada di negeri ini?

Saat ini aku bahkan tak pernah mendengar dan melihat lagi pertunjukan kesenian tradisional lambang budaya dan jati diri kami. Dulu aku selalu menyempatkan menonton pertunjukan wayang golek hingga semalam suntuk. Pertunjukan yang penuh makna karena menyiratkan pesan moral tetang nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, jiwa kesatria dan nilai moral keagaman.

Saat ini kemana pertunjukan calung dan reog itu, pertunjukan degung, seni tayub dan lainnya? Ah, semuanya hanyalah kenangan, pertunjukan itu telah tergantikan oleh hiburan dangdut dengan goyangan erotis.

Para muda mudi berjoged terbuai dengan alunan lagunya yang vulgar itu, bahkan tak jarang ku lihat tangan kirinya memegang leher botol minuman keras, dengan sebatang rokok di tangan kanannya. Lihat, bapak-bapak setengah baya hingga menjelang tua itu, bergantian menaiki panggung sambil menyelipkan uang lembaran sepuluh hingga ratusan ribu di belahan dada sang biduanita.

Ah, aku benar-benar sedih dan terpukul, ku elus dada ini berkali-kali. Lantas kemana nilai-nilai kearifan itu? kemana nilai-nilai moral dan kepribadian yang adiluhung itu? Bahkan mereka tak berfikir bahwa anak istrinya di rumah menjerit karena beras di gentong telah habis! Bumbu dapur dan lauk pauk tak tersedia lagi! Dan anak-anaknya terpaksa tak menerima buku rapor karena belum lunas uang SPP! Inikah kemajuan itu yang mereka terjemahkan dalam ketiadaan benteng diri?

Suatu kali aku berkunjung ke rumah kang Momon tempat sanggar seni tradisional yang sempat populer di desaku saat itu. Kini, tak ada lagi gamelan, hanyalah tersisa sepasang gong dipojok ruangan ini. Semuanya telah jadi barang rongsokan tak berharga!

"Kamana gamelan-gamalen wayang golek anu kapungkur teh, kang?" (Kemana gamelan-gamelan wayang yang dulu  itu)?, aku penasaran bertanya.

"Gamelan-gamelan teh tos akang ical, jang! Ti ngawit seueur hiburan jaipong dangdut sareng orgen tunggal, tos teu aya deui urang kampung anu nganggap wayang golek akang" (Gamelan-gamelan itu, sudah akang jual. Sejak mulai merebaknya hiburan jaipong dangdut dan orgen tunggal itu, tak ada lagi orang kampung yang sewa hiburan wayang golek),  jelas kang Momon haru.

Aku terpukul mendengarnya. Betapa tidak, sanggar ini dulu menjadi kebanggaanku. Aku banyak belajar di sanggar ini. Bahkan itu yang memotivasiku untuk mengajak temen-temen kuliahku dulu di Semarang bergabung dalam membesarkan Sanggar Degung "Putra Sangkala" milik Kang Deni.

Lihat, di perempatan jalan itu, di depan swalayan mini itu, pasangan muda mudi bercengkrama. Aku melihat betapa gadis-gadis itu mempertontonkan busana seronok. Penampilan seksinya seakan meniru penampilan wanita-wanita kota tak tahu diri itu! Aku bahkan melihatnya sebagai penampilan yang norak.

Astagfirullah, budaya asing itu, yang ditampilkan sepanjang waktu di acara-acara televisi, telah nyata-nyata merubah prilaku kultur generasi muda di desaku.

Bahkan karena sinetron-sinetron tak mendidik itu, telah menyihir dan mencuci otak para ibu-ibu hingga lupa waktu untuk menyiapkan sarapan dan makan malam suaminya, lupa waktu menyiapkan baju sekolah dan mengajari anaknya tiap malam menjelang, lupa waktu untuk pengajian rutin bersama yang dulu setiap sore di surau selalu dipenuhi dengan jamaan ibu-ibu hanya untuk mendengar ajaran moral dari kang Ahmid salah satu ustadz kenamaan di desa kami.

Dan ada fakta yang mengagetkanku, bahwa semenjak merebaknya telepon seluler dengan beragam fasilitas itu, ternyata tingkat perselingkuhan di desaku semakin meningkat.

Sebuah fakta yang tak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat desaku dengan keterbatasan pendidikan dan mulai lunturnya nilai-nilai moral akibat globalisasi telah nyata menghadapi kemajuan teknologi ini dengan gagap sehingga terjebak dalam ruang-ruang yang memberikan peluang negatif.

****

 

Aku merindukan masa kecilku dulu, merindukan untuk bergaul penuh suka cita dengan teman-teman sebayaku sedesa. Kami larut disatukan dengan beragam permainan tradisional, petak umpet, bendrong, pecle, adu karet dan kelereng dan banyak permainan lainnya. Semua itu mengajarkan arti kebersamaan dan persahabatan. Hingga saat ini, saat kami berkumpul kembali dengan teman-temanku masa kecil dulu semua rasa itu masih terpatri kuat, kami bahkan larut dalam kerinduan suka cita masa lalu.

Terkadang kami saling menunjukan bekas luka yang memenuhi betis dan paha kami yang masih membekas ini sebagai saksi bisu betapa nilai-nilai kebersamaan kami tak akan pernah luntur hingga kapanpun.

Tapi kini, lihatlah anak-anak desa masa kini itu, lebih banyak menghabiskan waktu pulang sekolah hingga sore hari bahkaan hingga larut malam hanya untuk duduk menyendiri asyik dengan permainan game online, bermain playstation. Semua itu mereka anggap lambang kemajuan! Tapi tahukah, itu semua nyatanya pelan-pelan telah mencetak generasi muda yang tertutup dan individualistik, generasi muda yang egois!

Dulu sewaktu di sekolah, bahasa daerah menjadi prioritas yang diajarkan pada kurikulum di sekolah dasar, tapi lihat saat ini bahasa daerah hanyalah sebagai pelengkap, tergantikan dengan bahasa orang asing itu yang justru menjadi mata pelajaran prioritas mulai dari sekolah dasar. Ini katanya demi kesiapan di era globalisasi! Pantas saja, ku dengar anak-anak kampung masa kini sudah tak mengerti lagi bagaimana bertutur dengan bahasa ibu yang baik, tak tau lagi bagaimana cara bertatakrama.

Bahkan ku dengar ada fakta mengejutkan, sebuah hasil riset seorang budayawan yang memprediksi bahasa sunda lambat laun akan hilang. Aku merinding mendengarnya !

****

 

Saudaraku, setelah lima hari ku habiskan waktu liburku, ingin ku sampaikan bahwa apa yang ku alami, apa yang ku lihat tentang perubahan yang sedemikian drastis atas kondisi ekonomi di desaku, atas kondisi sosial kultur masyarakatnya, sudah tak dapat dibantah lagi bahwa semuanya adalah karena pengaruh globalisasi, produk kapitalis biangkerok itu!

Arus globalisasi dan modernisasi itu pada kenyataannya tak mampu diimbangi oleh kesiapan mental yang kuat, sehingga masyarakat gagap dan berada di persimpangan jalan dan bahkan terjebak dalam keserakahan yang lambat laun menggerus nilai-nilai kearifan lokal.

Kapitalisme, liberalisasi pada kenyataannya telah menjangkau desa-desa habitat orang-orang termarginalkan, melunturkan keberdayaan para petani yang tak mampu bersaing, menggiring masyarakat desa untuk menjadi konsumen produk-produk asing itu yang bahkan mereka sebenarnya tak mempunyai daya beli, sehingga banyak terjebak pada ketergantungan akan hutang.

Lalu, inikah bukti kemajuan pergerakan ekonomi lokal itu? Motor-motor bagus yang nongkrong di tiap-tiap rumah, telpon seluler yang mereka miliki tiap anggota keluarga itu, coba skali-kali tanya dengan apa mereka dapatkan? Aku berani taruhan lebih dari tujuh puluh lima persen akan menjawab " itu semua hasil kredit!"

Sang penguasa negeriku, selamatkan desa-desa itu, berikan mereka ruang untuk berdaya, ruang untuk memupuk nilai-nilai kearifan lokal dan budaya yang kian luntur, ruang untuk mendapatkan akses pemerataan dan pergerakan ekonomi yang mandiri, ruang untuk mendapatkan akses pendidikan tentang nilai-nilai moral, tentang nilai-nilai kebangsaan sehingga mereka siap dalam memfilter pengaruh biangkerok globalisasi itu. Bebaskanlah dari penjajahan terselubung itu, yang bagiku ini paling berbahaya!

Jika keaslian desa-desa telah terusak, jika desa-desa sudah tak mampu lagi percaya diri dengan kulturnya sendiri, maka akankah negeri ini akan tetap berdiri dalam bingkai kepribadian yang adiluhung? dan jika desa-desa tak mampu berdaya untuk mandiri, maka apakah kalian masih akan memberi jaminan bahwa denyut nadi pergerakan ekonomi di kota itu akan tetap berdetak normal, dan bahkan denyut nadi negeri ini?

Yang pasti, hingga detik ini aku merasakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kehilangan masa laluku di desa dengan segenap keasliannya.

****

Malam ini aku rindu ibu bapakku, aku ingin rasakan kembali belaian telapak tangannya yang kasar itu!