Mohon tunggu...
Aini Lutfiyah
Aini Lutfiyah Mohon Tunggu...

Less is More

Selanjutnya

Tutup

Politik

Isteri Yang Meragukan Kemampuan Suami

29 Juli 2010   00:26 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:31 250 0 3 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_207963" align="alignleft" width="226" caption="Foto:BBCIndonesia.Com"][/caption]

Kiprah perempuan memang sedang meraja lela. Tidak terkecuali Nicholas kristof dari New York Times menggambarkan tentang mendominasinya para eksekutif perempuan di AS sana dan yang paling mutakhir adalah berita mengenai Isteri Perdana Menteri Jepang Naoto Kan yang menulis buku bahwa Ia meragukan kemampuan suaminya dalam memimpin Pemerintahan di Jepang.Dalam bukunya  "What on Earth in Japan after You Become Prime Minister" mengkritik bahwa Naoto Kan bahkan tidak bisa menyiapkan makan yang paling sederhana sekalipun dan juga tidak memiliki selera mode.Kritik yang lebih pedas adalah bahwa Naoto Kan yang merupakan politisi dari Partai Demokrat Jepang  (DPJ) ini adalah tipe politisi partai akar rumput yang hanya bisa berperan sebagai pendukung. Nobuko Kan mempertanyakan,"Apakah oke jika orang ini sebagai perdana menteri? Karena aku mengenalnya dengan baik."

Jelas ini merupakan tindakan isteri yang terang-terangan di depan publik memilih sebagai oposan bagi karir politik sang suami. Sang Perdana Menteri pun juga terang-terangan mengakui bahwa selama ini di rumah sang isteri selalu menjadi oposan dari tiap keputusan yang Ia ambil dan sambil bercanda Ia  menjawab bahwa Ia tidak berani membaca buku karya isterinya tersebut.

Tuhan memang telah menganugerahi perempuan dan laki-laki dengan potensi dan kemampuan berbeda. Sebelum merebaknya keinginan masyarakat untuk lebih mengetahui tentangotak tengah, kita semua telah mengetahui bahwa untuk laki-laki yang dominan adalah otak kiri sementara pada perempuan berimbang antara otak kanan maupun otak kiri.Nobuko Kan juga tidak bisa dianggap sebagai Isteri yang biasa-biasa saja.

Sesuai kurikulum terbaru di Taman Kanak-Kanak pun telah saya coba agar anak-anak memasukkanbola kecil ke dalam kardus dengan cara melempar menggunakan tangan kiri. Ini saya pahami agar anak mampu mengaktifkan otak kanan maupun otak kiri. Jarak pelempar dengan kardus sama antara anak laki-laki dan anak perempuan. Hasilnya pada anak perempuan rata-rata bola masuk ke dalam kardus pada lemparan kedua sementara pada anak laki-laki rata-rata pada lemparan keenam. Itupun banyak anak laki-laki yang mengeluh kepala menjadi pusing. Dari sinilah saya melihat bukti konkret bahwa dominasi otak kiri pada anak laki-laki memang benar.

Hal yang perlu kita sadari adalah bahwa perempuan dan laki-laki bersifat saling melengkapi, seperti halnya kodrat fisik otak entah itu dengan memilih peran sebagai partner maupun oposan. Perseteruan antara dua karakter yang sama ada yang mengatakan justru akan memunculkan sejenis “locura” dan itu akan membawa pada kemenangan. Ini saya baca di majalah sepak bola yang membahas perseteruan dua striker yang memiliki karakter sama namun justru keduanya tetap dimainkan oleh sang pelatih karena otomatis kedua striker tersebut pasti akan saling bersaing untuk menjadi yang terbaik dan ini akan sangat menguntungkan tim.

Saya juga pernah menemukan sebuah keluarga yangmenurut penilaian masyarakat pada umumnya pasti akan dianggap tidak harmonis. Peran suami isteri hanya mereka lakukan di dalam rumah sementara dalam urusan karir keduanya mati-matian saling menjatuhkan. Kebetulan sang suami maupun sang isteri adalah pemimpin di lembaganya sendiri-sendiri. Hasilnya baik lembaga yang dipimpin oleh sang isteri maupun lembaga sang suami mendapatkan hasil dan peningkatan yang pesat.

Hidup bagaimanapun juga adalah sebuah pilihan tentang peran apa yang akan kita lakukan. Menjadi pasangan partner atau kah pasangan oposan, tergantung dari bagaimana kita menilai kemampuan dan karakter kita masing-masing. Enjoy this life….

(Sumber:BBCIndonesia.Com)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x