Kosmas Lawa Bagho
Kosmas Lawa Bagho karyawan swasta

Hidup untuk berbagi dan rela untuk tidak diperhitungkan, menulis apa yang dialami, dilihat sesuai fakta dan data secara jujur berdasarkan kata hati nurani.

Selanjutnya

Tutup

Bola

Kekalahan Membuat Pemain Muda Kita Lebih Berkarakter

12 September 2017   10:59 Diperbarui: 12 September 2017   11:16 801 0 0

Semua sudah pada tahu bahwa Timnas U-18 kita di Myanmar tidak dapat berbuat banyak pada laga ke-3 piala AFF 2017. Timnas kita kalah cukup menyakitkan dengan skor 0-3 dari Timnas Vietnam. Cukup banyak yang sudah meramalkannya namun saya dan sebagian yang lain mungkin berpikiran lain bahwa Timnas U-18 kita akan berbuat yang lebih hebat ketika berhadapan dengan Timnas U-18 Vietnam. Paling kurang bisa serilah 0-0 atau 1-1. 

Kualitas Timnas kita dengan Timnas Vietnam tidaklah berbeda jauh. Hanya mungkin Timnas Vietnam lebih cerdik memainkan strategi dan taktik di lapangan. Mereka bermain sabar dan sangat cepat melakukan serangan balik serta memanfaatkan bola-bola atas yang memang sudah diperingatkan sebagian penggila sepak bola tanah air. Bola-bola atas menjadi titik paling lemah bagi Timnas kita dalam segala level usia hingga level senior. Belum lagi para pemain belakang kita Timnas U-18 kali ini kurang mau berduel bola-bola udara. Mereka bahkan menonton asik setiap pemain Vietnam melakukan heading. Mereka seakan menikmati dengan santainya. Walau sesungguhnya kita pun tahu bahwa mereka sudah berupaya optimal mungkin untuk menghalangi dan menghalau setiap bola yang mau masuk ke gawang kita.

Rupanya, hasil seri cukup realistis ketika kiper utama kita tak mengalami cedera. Ada banyak peluang Timnas U-18 Vietnam mencetak goal namun bisa ditepis dan diblok oleh kiper utama. Bisa saja kiper kedua kita, sungguh tidak berbeda jauh kualitasnya (kata Coah Indra Safri dalam salah satu keterangan pers setelah pertandingan) dengan kiper utama namun besar kemungkinan beliau demam lapangan sehingga beliau harus memeungut bola di gawangnya sampai tiga kali. Tentu, kita tidak mempersalahkan kiper kedua kita namun itualah realitas yang terjadi. Seandainya waktu paruh kedua ketika Timnas kita melawan Filipina, kiper kedua diturunkan pada babak kedua atau menit ke-70 atau 80 saat Timnas kita sudah unggul besar, besar kemungkinan beliau sudah merasakan kompetisi. Tidak ada rasa takut salah atau demam persaingan di atas lapangan hijau. Belum lagi yang ia hadapi adalah tim favorit juara, Vietnam. Namun itu semuanya hanyalah pengandaian saya. Pelatih Indra Safri pasti lebih memahaminya. 

Kekalahan sudah kita alami dan rasakan. Mari kita terima dengan lapang dada. Kekalahan kadang-kadang itu perlu dan sangat positif. Lihat saja, klub-klub Eropa paling hebat pun pernah mengalami kekalahan. Real Madrid, Barcelona, Juventus, MU, PSG dan lainnya. Namun yang lebih penting dari semuanya itu, ketika setelah mengalami kekalahan, mereka bangkit dengan kepala tegak. Mereka menjadi pemain yang lebih kuat, berkarakter dan meraih kemenangan fenomenal. Kekalahan bisa membuat pemain lebih berkarakter sukses.

Dalam nuansa itu, mari kita menyikapi kekalahan Timnas kita sore kemarin lebih bijak dan arif. Cukup sudah saling mempersalahkan apalagi sampai menghujat para pemain muda kita. Mereka masih butuh pembelajaran yang panjang dan berproses menuju kematangan. Penting bagi mereka, jangan sampai putus asa mengalami kekalahan dan juga jangan sampai jumawa berlebihan apabila mengalami kemenangan. Tetap rendah hati dan mau berjuang lebih kuat lagi, lebih semangat lagi. Sikapilah kekalahan dengan rasa bersyukur. Kekalahan bisa juga membuat pemain muda kita lebih sadar posisi, sadar diri untuk melakukan yang istimewa pada momen-momen berikutnya. Kita yakin, mereka pasti menjadi pemain bintang jika mereka menyikapi kekalahan dengan positif dan terus berlatih bahkan harus lebih memotivasi untuk melakukan latihan yang lebih panjang dan tak kenal lelah.

Masih ada hari esok. Masih ada kemenangan di depan mata kita. Raihlah dengan penuh kerendahan hati, tekun berlatih dan tidak lagi jumawa. Para netizen, berilah pikiran-pikiran positif agar ade-ade kita bisa meraih apa yang menjadi impian mereka dan impian kita semua.

Ingat, kadang kekalahan itu perlu dalam sepak bola agar membuat pemain muda kita lebih matang dan berkarakter pemenang. Teruslah berjuang, Egy dkk. Saya selalu mendukungmu dari ujung Timur Indonesia.

Ende, 12 September 2017