Mohon tunggu...
Vicky Laurentina
Vicky Laurentina Mohon Tunggu...

Saya lebih banyak menulis di: vickyfahmi.com. Instagram/Twitter: @vickylaurentina Kadang-kadang nge-Youtube.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Karyaku Diakui bukan Milikku

12 Desember 2010   00:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   10:49 0 0 11 Mohon Tunggu...

Ini curhat. Curhat yang sama sekali tidak menyenangkan. Agustus tahun ini saya diajak kolega untuk membantu sebuah lembaga pendidikan di Bandung buat bikin textbook. Lembaga itu, yang terdiri atas beberapa dosen kaliber berat, kepingin nerbitin sebuah buku tentang hamil kembar. Cuman karena mereka dokter spesialis, tahu sendiri mereka sibuknya kayak apa, jadi mereka cari dokter-dokter umum untuk menulis buat mereka. Dan pilihan penulis rekrutan itu jatuh ke tangan saya. Tugas saya gampang-gampang susah. Sebagai penulis, saya harus merangkum beberapa textbook bahasa linggis, ambil inti sari, lalu menulisnya kembali dalam bahasa Indonesia. Karena saya dokter umum yang pengetahuannya nggak spesialistik, maka tugas saya adalah memeriksakan tulisan saya tadi ke staf lembaga itu sebagai dokter spesialisnya, untuk mendapatkan koreksi. Sebagai penghargaan atas jerih payah saya, saya dibayar dengan tarif yang sudah disepakati. Saya ngerjain buku itu mati-matian. Sampek-sampek kurang tidur segala. Termasuk blog saya terbengkalai. Sebenarnya motivasi saya kerja bukan sekedar karena saya dibayar, tetapi karena yang saya kerjakan ini adalah textbook yang akan dipakai mahasiswa-mahasiswa kedokteran, sehingga reputasi saya sebagai penulis sangat dipertaruhkan. Saya mbayangkan kalau buku ini jelek tulisannya, pasti nama saya ikutan borok. Buku itu ditargetkan selesai diedit bulan September, coz lembaga itu berniat me-launching buku itu bulan Oktober, dalam sebuah simposium nasional. Adalah susah ngerjain textbook setebal sekitar 100-an halaman hanya dalam enam minggu aja, tapi saya nggak pernah putus asa. Akhirnya buku itu selesai juga ditulis dan diedit, lalu saya dan teman-teman sesama penulis menyerahkan draft bukunya ke lembaga pendidikan yang menyewa kami, untuk diterbitkan. Buku itu, diberi judul Kehamilan Multifetus. Saya sempat diberi tahu bahwa launching buku itu akan berlangsung dalam sebuah simposium di sebuah hotel di Bandung pada awal Oktober. Sayangnya saya nggak bisa dateng, coz selama Oktober saya tinggal di Surabaya untuk ujian masuk seleksi dokter spesialis. Sebulan saya tinggal di Surabaya, saya nggak dengar kabar apapun tentang buku itu. Apakah buku itu dicari segmen pembaca yang diincar? Apakah hasil cetakannya sesuai dengan desain lay-out yang kami buat? Apakah pembaca senang dengan isinya? Saya ingin tahu, tapi tidak ada yang kasih tahu saya. Lembaga yang menyewa jasa saya tidak kasih komentar. Teman-teman saya yang sesama penulis buku itu juga nggak kasih kabar apa-apa. Desember ini diawali minggu yang cerah. Ternyata saya lulus seleksi untuk masuk sekolah dokter kandungan di Surabaya. Dengan senang, saya memberi tahu staf lembaga yang menjadi supervisor kami ketika menulis buku itu. Sekalian saya mau ambil buku Kehamilan Multifetus yang telah digarap oleh saya dan teman-teman selama berminggu-minggu itu. Lha saya kan penulis buku itu, mosok saya nggak dapet eksemplar sih? Saya pun menghubungi teman saya yang juga menulisi buku itu. Dia bilang dia belum mendapatkan bukunya juga coz buku itu ternyata baru di-launching weekend lalu. Rencana semula me-launching buku itu pada Oktober bergeser ke bulan Desember, coz simposiumnya sendiri juga ikut ditunda sampek awal Desember lalu. Pekan ini, saya dateng ke lembaga itu buat ambil bukunya. Supervisor saya yang menyambut saya, langsung kasih saya eksemplarnya. Buku itu nampak menarik, praktis, ringan, padahal itu textbook lho. Dengan semangat saya membuka daftar nama penyusunnya. Dan mendadak saya merasa ada es meluncur dalam perut saya. Nama saya, tidak ada di dalam daftar penyusun itu. Daftar penyusun itu hanya terdiri atas nama-nama dosen yang tugasnya mengoreksi tulisan saya. Tapi nama saya, dan teman-teman sesama penulis, yang justru bekerja menyusun kalimat demi kalimat, alinea demi alinea, tidak disebut sama sekali dalam buku itu. Saya pun bertanya ke supervisor saya, kenapa kok nama kami nggak ada. Supervisor itu nampak sangat kaget, coz menurut sepengetahuannya, sewaktu draft buku itu ditetapkan, nama saya dan teman-teman penulis masih ada. Supervisor saya mencoba menyelidiki. Ternyata, setelah penetapan draft buku itu, ada lagi "penetapan" yang lain di mana supervisor saya nggak hadir. Dalam "penetapan" itu, seorang staf lembaga protes coz nama penulis non-lembaga itu dimasukkan ke daftar penyusun, padahal penulis tersebut (dalam hal ini saya dan teman-teman penulis) sudah dibayar dari awal untuk menulis naskahnya. Jika nama saya dan teman-teman penulis dimasukkan ke daftar penyusun, dikuatirkan kami akan kecipratan royalti, coz memang hukum mewajibkan royalti harus diberikan ke semua orang dalam daftar penyusun. Nama saya dan teman-teman dihapus, coz kami kan bukan staf lembaga, melainkan hanya penulis yang disewa untuk menulis "atas nama" lembaga itu. Adapun uang jasa nulis yang dulu diberikan ke saya dan teman-teman, dianggap sebagai uang untuk "membeli" hak cipta kami... Saya nyaris ketawa dalam hati membayangkan ada orang berupaya menghalang-halangi saya dapet royalti. Padahal saya nggak ngurusin royaltinya, saya lebih peduli bahwa saya telah menulis naskah untuk separuh buku itu dan mereka serta-merta membuang nama saya begitu saja dari daftar penyusun. Tahu nggak, padahal kalau nama saya tetap ada di situ, saya bisa pakai buku itu sebagai portofolio karya ilmiah jika suatu hari nanti saya ingin dipromosikan jadi doktor atau profesor. Pengakuan nama saya lebih penting ketimbang segepok duit, kok tega-tega banget mereka ngaku buku itu karya mereka padahal saya yang nulisinnya? Ya nggak salah sih, staf-staf lembaga itu juga memang ikutan ngedit. Tapi kan saya juga ikutan berkontribusi mengarang banyak sekali, kok enak banget nama saya dihapus pada saat-saat terakhir menjelang bukunya naik cetak? Nggak cuman nama saya dan teman-teman penulis yang dihapus. Tapi juga nama beberapa orang lain seperti lay-outer, desainer cover, dan ilustrator. Tak ada pengakuan atas nama orang-orang itu, padahal karya mereka bertebaran di buku itu. Sudah telanjur, buku Kehamilan Multifetus itu kadung di-launching. Sudah disebarkan ke banyak orang, dan takkan ada yang tahu bahwa ada orang-orang selain staf lembaga itu yang justru berperan banyak agar buku itu bisa tersusun cantik seperti itu. Di halaman dua buku itu hanya tertulis bahwa buku itu ditulis oleh staf-staf lembaga saja, sedangkan desain lay-out oleh penerbitnya. Bah, jelas-jelas saya tahu persis yang bikin lay-out-nya bukan mereka. Dan ini cuman gara-gara ketakutan akan risiko royalti yang mesti dibagi-bagi. Saya bisa bilang ke orang-orang bahwa saya ikutan nulis buku itu, dan saya bisa bayangkan bahwa saya akan dikira membual. Tapi saya nggak berniat lupa bahwa saya pernah menulis textbook dan saya ingin merekam memori prestasi kecil itu baik-baik. Maka saya menulis curhat ini, untuk pelajaran buat saya dan buat orang-orang penulis seperti saya. Menulislah. Publikasikanlah. Dan jangan pernah biarkan lagi orang lain mengaku-ngaku karyamu sebagai hak miliknya. Tulisan ini sudah terlalu banyak dikomentari di http://georgetterox.blogspot.com/2010/12/karyaku-diakui-bukan-milikku.html

KONTEN MENARIK LAINNYA
x