Laurensia  Dewi
Laurensia Dewi Mahasiswa

Mahasiswi Ilmu Komunikasi yang sedang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Karina Melati, Wanita Penggiat Batik di Yogyakarta

29 Mei 2018   16:38 Diperbarui: 30 Mei 2018   01:10 521 1 1
Karina Melati, Wanita Penggiat Batik di Yogyakarta
Suasana talkshow

Sleman, Yogyakarta - Keprihatinan terhadap salah satu warisan budaya Indonesia yaitu batik yang mulai ditinggalkan masyarakat khususnya anak muda membuat Karina Rima Melati menjadi salah satu penggerak untuk menginisiasi kaum muda agar mencintai warisan produk budaya Indonesia.

Hal tersebut disampaikan dalam acara talkshow dengan tema "Fashion, Tertarik Batik" di Atrium Lippo Mall Yogyakarta (28/5). Wanita yang kerap disapa Karina ini menjadi salah satu pembicara utama dalam acara tersebut.

Profesinya sebagai dosen advertising di Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) membantu wanita berusia 36 tahun ini dalam memperkenalkan batik kepada mahasiswa/i. "Saya mengusahakan setiap hari untuk memakai batik waktu mengajar", ujarnya di sela-sela acara talkshow.

Nyaman dan percaya diri menjadi kunci bagi kaum muda yang ingin menggunakan batik untuk sehari-hari. Karina ingin mengubah persepsi bahwa batik saat ini tidak hanya sekadar dipakai saat ingin menghadiri acara resmi saja.

Kecintaannya terhadap batik sudah dimulai sejak kecil. Pada tahun 2009, Karina membuka Sanggar Batik Jenggolo di bilangan Taman Siswa, Yogyakarta. Ciri khas dari sanggar ini adalah proses produksi batik yang masih menggunakan pewarna alami.

Pada mulanya, Sanggar Batik Jenggolo hanya berisi ibu-ibu usia lanjut yang dilatih khususnya di daerah Pandean. Alhasil, Karina menjadi wanita termuda dalam sanggar tersebut.

Karina (tengah) bersama ibu-ibu Sanggar Batik Jenggolo Sumber: https://www.instagram.com/p/BMc8wCZgKNC/?taken-by=jenggolo_batik
Karina (tengah) bersama ibu-ibu Sanggar Batik Jenggolo Sumber: https://www.instagram.com/p/BMc8wCZgKNC/?taken-by=jenggolo_batik
Fokus utama wanita kelahiran Yogyakarta tersebut dalam memperkenalkan batik adalah bagaimana cara agar perempuan di Indonesia bisa tertarik dan terinspirasi untuk memproduksi batik. "Kita hampir kehilangan potensi anak muda yang mau membatik."

Menjelang akhir acara, beberapa tips diberikan bagi anak muda yang tertarik untuk membuka usaha batik. "Intinya jangan banyak bertanya, just do it. Ada banyak cara untuk mempromosikan batik, sekarang sudah ada sosial media. Pemerintah Indonesia juga sedang menggiatkan industri kreatif."

Karina memiliki motto bahwa "Batik menjadikan kehidupan Indonesia lebih baik", dilihat dari aspek ekonomi, budaya, sekaligus menjaga identitas negara.

 Rangkaian acara talkshow pun ditutup dengan acara fashion show dari delapan model yang memperagakan busana batik yang dipadupadankan dengan nuansa kekinian karya dari Nyudi Djiwo Susilo.