Lativani Rahmania
Lativani Rahmania Mahasiswa

الكتابة للمعرفة

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sebuah Fase Perjalanan Rasa

12 Oktober 2018   22:01 Diperbarui: 16 Oktober 2018   14:48 597 0 1

Namaku rahma. Aku adalah seorang putri dari orang tua yang mengabdikan dirinya dalam bidang medis. Setiap harinya aku melihat bagaimana orang tuaku berusaha konsisten dalam menjalankan tugasnya. Tak jarang, beliau melayani pasien ditengah malam, sekalipun beliau sudah menentukan bahwa jam praktek beliau hanya sampai jam 21.30 wib. Menginjak usia 5 tahun, akupun mulai mengerti tugas ayah & ibuku, aku sering ikut beliau ke kamar pasien, aku juga sering membantu beliau membuat puyer untuk adik bayi, sehingga istilah-istilah seperti pasien-dokter-infus-stetoscop, dll bukan lagi menjadi istilah yang asing bagiku, bahkan tak jarang aku meminjam stetoscop untuk memeriksa boneka-bonekaku.                                                                   

Sejak saat itu, ketika seseorang menanyai perihal cita-citaku, tanpa ragu aku selalu menjawab bahwa "aku ingin menjadi dokter yang sholihah" begitulah ayah & ibu mengajariku menjawab pertanyaan mereka. Lambat laun terbangunlah sebuah mindset bahwa ayah & ibu ingin aku menjadi sosok dokter yang sholihah. Karena pengaruh lingkungan, cita-cita itupun semakin berkembang sampai aku menginjakkan kaki di kelas 3 SMA. Namun kemudian, kehidupan pesantren & kesadaranku bahwa dekadensi akhlaq terjadi dimana-mana keduanya seolah menjelmaku menjadi sosok yang begitu ingin tahu tentang Islam. Terlebih ketika melihat beberapa orang disekitarku menjalankan kehidupan beragamanya mengikuti kebudayaan negara yang terkadang kurang sesuai dengan syari'ahNya. Namun, karena orang-orang disekitarnya banyak juga yang melakukan hal yang sama,maka mereka menganggap sesuatu yang salah itu sebagai sesuatu yang wajar.                                                                                               Ketika liburan,dengan sangat hati-hati aku menyampaikan keinginanku itu kepada ayah & ibu melalui surat yang kuselipkan diantara tumpukan bantal di kamar beliau, dalam surat itu kalimat demi kalimat kutulis dengan deretan kata yang kutata sedemikian rupa agar tidak sampai menyinggung perasaan ayah & ibuku. Walaupun demikian, aku tetap takut beliau kecewa. Aku takut beliau marah karena mungkin aku tak akan mampu meneruskan perjuangan beliau,tidak akan mungkin menjadi sosok dokter  sholihah seperti yang beliau inginkan.                                                                         Terhitung 5 hari semenjak surat itu ku selipkan di tempat yang cukup strategi versi anak SMA, orang tuaku tak kunjung memberi respon. Maka, ketika beliau tak ada berkali-kali aku membolak-balik tumpukan bantal untuk memastikan keberadaan suratku. Namun tidak kutemukan. Aku yang mulai berkecil hati mengira bahwa ayah & ibu sudah membaca surat itu, dan tidak adanya respon merupakan ekspresi ketidaksetujuan beliau dengan keinginan yang tiba-tiba muncul itu. Sampai sehari menjelang keberangkatanku ke ma'had, beliau tetap tak memberi respon, sedikitpun tidak membahas keinginan yang kutulis dalam surat itu. Padahal aku berharap ayah&ibu akan menyampaikan sesuatu.                                                                  

Akupun beranjak memasuki kamar, membuka jendela, merasakan malam yang semakin dingin, magis & kelam, menatap bintang yang begitu banyak, menyebar memenuhi langit Sang Pencipta. Dalam hati, aku merayu, meminta sebuah jalan"Allahku, langkah seperti apakah yang harus ku ambil ketika keinginanku berbanding terbalik dengan keinginan orang tua? apakah aku harus menekan & menyembunyikan keinginanku dan memilih berusaha merealisasikan cita-cita orang tua? atau justru sebaliknya? Rasanya dan memang sepertinya aku mulai kehilangan gambaran masa depan yang sempat melintas. Annoyying. pikirku. Yaa Mujiibassaailiin. Aku hanyalah hambaMu yang tak pernah lepas dari harap & asa, aku lemah tak berdaya & tak ada apa-apanya dibanding Allahku yang Maha Sempurna. Wahai pemilik hatiku.. Hanya Engkaulah Dzat yang tak semu, relung semua nas yang menyerukan syahadat, kesaksian dihadapanMu. Aku tak tahu apa yang harus & apa yang akan aku lakukan? siapa sebenarnya diri yang ringkih ini? Bagaimana sejatinya jiwa ini? Apa sebenarnya aku & mereka? Apakah hanya makhluq yang sebenarnya mati, namun tertutupi oleh ruh yang Kau tempatkan pada raga ini? Dimana tempat & waktu yang akan kulalui untuk menemukan insan yang sama-sama berbui?Dilahirkan tapi tak mendahului, dihidupkan & diciptakan tapi tak akan abadi. Kemana sebenarnya jiwa ini akan menuju?" Tak terasa, butiran-butiran kecil nan bening itu  mengaliri pipiku, seakan membawa keluar dera kelunya qalbu yang cukup menyesakkan dadaku. Setelah merasa lebih tenang,akupun melarutkan diriku untuk menyiapkan segala sesuatu untuk kembali ke ma'had.                                                                                                                                                                                Aku merasakan betapa cepatnya matahari menelan bulan, hingga malampun beranjak menjadi siang yang mengharuskanku segera kembali ke ma'had. Beberapa hari setelah itu, aku membuka kembali buku sejarah hidupku,membaca sajak hati yang sempat tertulis oleh tanganku, memutar kembali memori tantang apasaja yang pernah kutulis disitu. Dan betapa terkejutnya aku, ketika melihat di sela-sela lembaran buku sejarahku terdapat selembar kertas putih yang dilipat begitu rapi. Aku segera membukanya, dan kudapati di dalamnya tertulis sebuah pesan "Pada prinsipnya ayah/ibu malah bersyukur kalau pean memilih jurusan agama. Insyaallah itu yang lebih kekal untuk bekal dunia & akhirat..Di zaman yang serba modern ini (kata kyainya ibu) sangat sulit mencari orang yang berminat mempelajari agama. Diantara seribu orang yang mengejar dunia, hanya akan ada satu orang yang mengejar akhirat..Dan itu ada pada anakku. Hal ini yang justru membuat ayah & ibu patut bersyukur kehadirat Allah SWT.Teruskan angan & cita-citamu nduk,jangan ragu-ragu.100% ayah dan ibu RIDHO & BANGGA. Dilain sisi, ayah & ibu sama sekali tidak pernah menuntut anak- anak untuk harus menjadi dokter,ini dan itu. Perlu di ingat "APAPUN YANG ANAK-ANAK KEHENDAKI, ASAL ITU BAIK, AKANS ELALU KAMI SUPPORT" karena masing-masing mempunyai bakat & keinginan berbeda yang mungkin ayah & ibu belum begitu faham, maka dari itu jangan "Merasa terbebani"dengan anggapan bahwa ibu & ayah menuntut harus jadi dokter. Sama sekali itu tak pernah ada. Yang penting, mari kita berjuang bersama-sama, nduk. Pean yang berusaha mendaki gunung, dari jauh ayah & ibu akan selalu mendoakan agar pada akhirnya pean bisa sampai di puncak pendakian ilman naafi'an. Semoga Allah selalu menuntun keluarga kita ke jalan terbaik di dunia mapun akhirat. amiin..bersykurlah atas rizqi hidayah yang Allah berikan. Begitu..anakku. Semoga Allah menjadikanmu sosok yang bermanfaat dengan ilmu apapun yang sudah, akan & sedang kau pelajari. amiiin. Layaknya hujan yang turun di tengah kemarau yang begitu panjang. Dingiin. Tenang. Nikmat sekali. Surat itu membuat kebahagiaan-penyesalan-mimpi dan harapan bercampur ruah bak tahu campur dunia yang tak akan habis di nikmati para penghuninya. Aku segera berlari menuju kamar ustadzah, meminjam hp untuk menyampaikan permohonan maaf & terima kasihku kepada ayah&ibu.       

Sejak saat itu, disela-sela aktivitas belajarku yang begitu padat karena harus mengikuti puluhan kali try out internal maupun eksternal yang diadakan sekolahku, akupun mulai mencari informasi tentang perguruan tinggi islam di dalam maupun di luar negeri. Sejak saat itu pula, ketika teman-temanku fokus mempersiapkan materi untuk UNAS, SBMPTN, UM-PTKIN,seleksi beasiswa Depag, dll aku mulai mambagi konsentrasiku untuk mempelajari kitab kuning bersama seorang sahabat bernama Hasanah..Hingga akhirnya, hatiku merasa terpanggil untuk belajar di negri para auliya'*yaman al-maimun*, setelah ustadz Arul yang juga alumni Fak.syariah wal Qonun Universitas Al-ahqaff-Hadramaut-Yaman Selatan memberi gambaran tentang negri para wali&memberi tahukan sebuah kalam yang berbunyi "Ataakum ahlu yaman. Hum Aroqqun Af'idatan. Wa Alyaanu Quluuban. Wal iimanu yamaanin. Wal Hikmatu yamaaniyah" (Telah datang kepada kalian ahlu yaman, yaitu orang-orang yang halus hatinya dan lembut nularinya. Jika kau ingin belajar tentang keimanan, belajarlah pada Ahluyaman, jika kau ingin mendapatkan hikmah, pergilah ke Yaman).

               Aku mengikuti perjalanan waktu yang tak pernah berhenti, seperti sesorang yang datang dari tempat yang begitu jauh sehingga akupun tak berharap agar cepat sampai. Yang terpenting adalah aku bisa menikmati perjalanan ini. Meskipun demikian, aku merasakan bahwa hari-hariku menjadi semakin hidup, aktivitas belajarku semakin efektif & terarah setelah sekolah memberiku & teman seperjuanganku kesempatan belajar dengan ustadz & ustadzah terbaik diluar jam pelajaran. Akupun merasakan bahwa Langkah-langkah kecilku ini semakin hari semakin membawaku pergi jauh dari masa-masa kritisku menghadapi kegamangan karena gambaran masa depan yang sempat menghilang.

             Namun tak lama kemudian, keyakinan dan semangatku mendadak meredup setelah mengetahui kondisi ibu yang saat itu akan menjalani operasi pemasangan ring jantung karena adanya penyempitan pada saluran yang menghubungkan jantung ibu dengan organ yang lain. Nyaliku untuk kuliah jauh menghilang terbawa angin yang berhembus begitu cepat. Aku sama sekali tidak ingin jauh dari beliau yang saat itu sedang berjuang melawan penyakitnya. Andai saja beliau sehat (amiin) insyaallah Lillahi ta'ala aku tak akan mengurungkan niatku untuk belajar di Yaman. Sejenak aku terdiam, memikirkan apakah dalam setiap babak perjalanan memang selalu ada kontradiksi antara memori, cita-cita & realita? kenapa ketika sudah mendapat banyak dukungan aku justru ingin kuliah di Indonesia, sehingga kapanpun aku dibutuhkan,aku bisa pulang..Aku takut menetap. Aku takut kepastian yang abadi. Kepastian yang akan membuatku menyesal. Di saat yang sama, akupun takut akan ketidakpastian masa depan. Apakah arti keraguan ini? Apakah sebagai petunjuk bahwa lebih baik aku tidak ke Yaman? Ataukah sebagai indikator keteguhan hatiku? Keteguhan dalam artian "ketika dihadapkan dengan situasi apapun, apakah aku tetap menjadikan Al-ahqaff sebagai prioritas utama? Entahlah, Allahu a'lam. Setelah keadaan memungkinkan, aku mengungkapkan keraguanku untuk melanjutkan kuliah di Yaman kepada ayah. Waktu itu beliau memintaku untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, beliau mengingatkanku untuk kembali melakukan istikhoroh, memohon petunjuk dariNya. Suatu hari, ketika kondisi ibu telah membaik, ayah menceritakan keraguanku pada ibu. Hingga pada akhirnya ibu menelponku melalui hp wali kelasku. Dalam pembicaraan itu ibu menyampaikan "Nduk, ibu & ayah sama sekali nggak ragu kalau pean belajar di Yaman, kalau memang itu jalan terbaik menurutNya. Ketika pean tidak ingin jauh dari orang tua, sebenarnya ibu & ayahpun juga merasakan hal yang sama. Naluri orang tua tidak ada yang ingin jauh dari buah hatinya,.suatu saat nanti pean akan merasakan sendiri. Tapi, belumlah mencapai kebaikan yang sempurna sebelum kita mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai, karenanya ibu & ayah bersyukur ketika Allah memberi ibu&ayah akal sehat, sehingga dengan lapang hati ibu&ayah mengizinkan pean untuk pergi kemanapun untuk mempelajari ilmuNya. Bukan berarti ibu&ayah ingin mengorbankan pean, tapi untuk sementara waktu kita sama-sama belajar mengorbankan manisnya kebersamaan untuk mendapatkan manisnya kemanfaatan. Jangan ragu, nduk. Jangan khawatirkan ibu & ayah. Insyaallah dimanapun kita berada, Allah akan menjaga.Justru kalau pean jadi berangkat, ibu semakin semangat untuk sembuh, agar ketika pean pulang, ibu masih bisa bertemu. Nduk, orang tua itu tenang meninggalkan anak, kalau anaknya faham & bisa mengamalkan ilmu agama. Dan menurut ibu, insyaallah di Yaman situasinya lebih kondusif untuk berproses mencapai tujuan mulia itu. Nduk, kalau pean jadi berangkat, hari yang paling ibu tunggu-tunggu adalah hari ketika pean pulang. Walaupun demikian, ayah & ibu sama sekali tidak mengharuskan pean berangkat kesana. Perbanyaklah istikhoroh,agar mendapat kemantapan hati." Setelah ibu selesai menyampaikan pesannya, aku masih tetap diam. Hatiku menangis haru, betapa Allah telah mengirimkan 2 malaikat terbaik pilihanNya untuk menjaga & menguatkanku, selalu. Ibu tanya : kok diam ?aku masih tetap belum bisa menjawab. Mendengar aku terisak, ibu tanya : kenapa nangis ?kemudian aku menjawab : Tidak apa-apa buk.kemadian kuakhiri percakapanku dengan beliau itu dengan meminta maaf dan memohon doa agar aku tetap bisa berjalan di jalanNya.

Jika demikian masih adakah alasan untuk menolak? Seketika itu, aku kembali menata hati. Meneguhkan kembali niatku untuk belajar di Yaman. Semua ini kulakukan bukan karena kewajibanku mencintai beliau, sosok ayah yang dengan penuh peluh berusaha memenuhi kebutuhan keluarga yang diayominya tanpa keluh. Optimisme-kasih sayang-sikap tegas namun tetap pengertian yang beliau berikan tak pernah luntur dijamah waktu. Do'a tulus penuh harapan tak pernah berhenti beliau panjatkan untukku & kedua adikku yang sedang berjuang, berproses mencapai setiap mimpi yang di obsesikan. Satu malaikat lagi yang tak mungkin bisa kutanggalkan begitu saja -ibu- Teman setia ayah dalam keadaan apapun. Pejuang kehidupan untuk anak-anaknya. Di mulai dari prosesku dalam alam rahim, hingga menapaki alam dunia. Arahan, motivasi, doa & harapan selalu beliau sampaikan untuk menemani kemanapun aku melangkah.Sosok yang tak pernah menampakkan kepiluan di depan buah hati yang dibesarkannya. Tetap tersenyum & memberi semangat, tetap menjadi teladan untuk semuanya.

Aku mencintai beliau, rabb. Bukan karena pengorbanan yang beliau suguhkan, tapi karena begitu banyak hal yang tak bisa ku ucap sebagai alasannya. Dari situ muncul keinginan untuk selalu membahagiakan beliau, dengan cita-cita beliau yang aku capai, dengan kesenangan yang beliau rasakan,dengan apapun yang bisa membuat beliau tersenyum. Kebahagiaanku, cita-cita & mimpiku, serta pengabdianku. Dan mulai saat ini, aku akan berusaha memantaskan diri dengan setiap harapan yang beliau panjatkan. 

                 Aku berjalan, berproses perlahan tapi pasti.Bergerak menggunakan gerak lurus berubah beraturan dipercepat, menghiraukan angin yang menghantam tubuh, melawan arahku untuk menuju kesana.  

                Setelah mengurusi registrasi, pada tanggal 1 Mei aku dan teman-temanyang lain mengikuti tes seleksi di Cirebon. Dari jauh, orang tua, guru & keluarga kami tetap memotivasi & mendoakan agar semuanya dimudahkan. Tanpa di duga&di sangka-sangka, salah seorang teman mengirim pesan kepada kami, memberi tahu bahwa teman-teman kelas bimbingan dirosat islamiyyah di ma'had tempat kami belajar melaksanakan khotmil qur'an yang diniatkan agar Allah memberi kami kemudahan, di akhir pesannya dia menambahkan "pesan dari teman-teman: Jangan putus asa, jangan takut, manfaatkan sisa waktu yang ada untuk menambah bekal, tetap khusnudzon kepadaNya. Semangat! Selama kalian disana mengerjakan soal, kami disini khotmil qur'an. Bittaufiq wannajah". Detik-detik menjelang ujian yang mengesankan, menghidupkan kembali senyawa keyakinan bahwa aku harus bisa mewujudkan harapan mereka. Suatu saat aku harus bisa memberi kabar baik untuk mereka.

            Beberapa menit sebelum tes, aku menyempatkan diri untuk membalas sms orang tua, guru, keluarga & teman-taman dengan isi pesan yang sama "ibu, ayah, ustadz, ustadzah, keluarga & teman-teman sekalian, mohon maaf kalau banyak sekali kesalahan yang saya sengaja ataupun tidak. Rahma hanya ingin selamanya bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Sekiranya dengan belajar di Yaman saya bisa mewujudkan keinginan itu, mohon doanya agar ujian hari ini & semua proses yang bisa membuat saya berangkat ke yaman di mudahkan. Saya ingin selalu bisa membuat kalian bangga. Karena saya bukanlah apa-apa tanpa njenengan (ayah, ibu, ustadz & ustadzah, keluarga), dan saya juga bukanlah siapa-siapa tanpa sahabat sepeti kalian. Jazakumullah ahsanal jaza'. Saya masuk ruang tes dulu. Assalamu'alaikum" Setelah semua sudah terkirim, HP kumatikan & aku bergegas memasuki ruang tes. Beberapa jam kemudian, tes seleksipun selesai. Kini, aku dan teman-temanku hanya bisa pasrah billah setelah berusaha melakukan semaksimal yang kami bisa.Bersama-sama kami membangun keyakinan bahwa "segala sesuatu berpeluang terjadi hanya karenaNya & kemampuan seorang hamba tak akan mungkin bisa dibandingkan pengaruhnya menyamai kehendakNya" agar kami lebih tenang&tetap khusnudzon selama menunggu pengumuman hasil tes seleksi.

Tanggal 11062014 pukul 02.40 wib ustadz Amir mengirim pesan yang berisi " Selamat nak, kalian berdua lolos. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik bagi perjalanan kalian. Sekitar 20 menit setelah itu, mungkin karena tak ada balasan dariku maupun dari Hasanah, seakan-akan beliau mengerti bahwa kami masih tidur. Beliau kembali mengirim pesan yang berisi "Rupanya anak-anak abi masih pada tidur, semoga bisa menjadi berita yang menyenangkan". Tepat ketika sms kedua beliau masuk,aku terbangun. Setelah membaca pesan itu, aku segera membangunkan hasanah. Bersyukur. Benar-benar bersyukur karena sesuatu yang selama ini kami prioritaskan,dengan barokah do'a semuanya, Allahpun mengabulkan. 

           Hari-hari berlalu begitu cepat. aku teringat pada pesan ustadz Indra yang meyatakan bahwa "kuliah di negeri orang itu ibarat orang yang sedang berada di hutan belantara, tidak ada orang yang dikenal, bahasa & kebudayaan berbeda ,dll. Maka mentalnya harus disiapkan mulai sekarang." Yaa allah. Tak terasa sebentar lagi aku benar-benar akan memasuki hutan belantara itu. Seberapa banyaknyapun halangan yang akan ku temui di hutan belantara itu, aku harus tetap melangkah agar aku bisa keluar dari hutan tersebut. Begitulah, aku berusaha meneguhkan kembali tekadku.

           Dan akhirnya, setelah menyelesaikan beberapa proses, akupun harus berhadapan dengan hari ini, rabu 23102014. Hari sakral yang berhasil memecah hatiku menjadi 2 belahan yang sulit disatukan. Hari yang mengharuskan aku untuk segera berangkat menuju Negri para auliya'. Menjelang berangkat, aku tersenyum melihat ibu, ayah, adik, beberapa keluarga & sahabatku menangis, padahal sebenarnya hatiku hancur. Entah apa yang ada difikiranku saat itu. Yang jelas, dalam hati berkali-kali aku memohon kepadaNya agar suatu saat nanti Allah memberi kami kesempatan untuk berkumpul lagi dalam keadaan sehat wal afiyat & bahagia. Aku juga memohon agar Allah memberiku kemampuan agar suatu saat bisa merubah tangis kekhawatiran mereka dengan tangis kebahagian atas apa yang akan kucapai. Sedih memang, di satu sisi aku belum siap berpisah dengan semuanya, tapi disisi yang lain aku begitu bersyukur karena Allah memberiku kesempatan untuk belajar di Universitas Al-ahqaff -mukalla-hadramaut. Negeri para auliya' yang selalu dirindukan karena disana kita akan melihat dengan mata kepala bagaimana ilmu-ilmu Allah disampaikan oleh sosok-sosok istimewa yang mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi orang-orang yang salik(orang-orang yg menuju pada cintaNya), juga melihat bahwa orang-orang disekitar kita adalah representasi dari akhlaq-akhlaq Rasulullah yang kita butuhkan karena kita manusia-manusia yang haus akan qudwah.

             Al-Ahgaff sendiri berarti bukit-bukit pasir. Ibarat seorang pendaki yang mengawali puncak pendakian dari titik terbawah bukit pasir, kami membutuhkan kerja keras, hati-hati, tangguh, tegar & tawakkal untuk bisa mencapai puncaknya. Namun, ketika kami mendaki, di sekitar kami adalah para ulama & habaib yang memimpin sekaligus mengawal proses pendakian kami agar tidak sampai salah jalan & akhirnya justru membuat kami terpeleset atau bahkan terjatuh dari pendakian. Beliau memotivasi kami agar terus meneruskan pendakian tanpa ada sedikitpun kata menyerah sebelum sampai pada puncaknya. Beliau juga selalu mendoakan agar kami bisa memaknai hikmah dalam setiap peristiwa yang kami alami selama mendaki. Kemudian, setelah suatu saat nanti kami sudah bisa mencapai puncak bukit pasir itu, beliau akan mengajak kami melihat ke bawah, mengingat kembali bagaimana kita melangkah, mendaki mulai dari kaki bukit hingga akhirnya kami bisa mencapai puncak, agar kami bersyukur. Beliau juga mengingatkan bahwa usaha yang kita lakukan ini tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan rasulullah dan sahabatnya, sehingga kami tetap rendah hati dan tawadlu' walaupun telah berhasil mencapai puncak pendakian.

            Sekarang aku tahu, jalan yang kita lalui memang takkan selalu berbatu,seperti halnya juga takkan selalu beraspal:)