Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Orang Lain Butuh Kita, Temanilah

21 April 2017   07:49 Diperbarui: 21 April 2017   08:28 224 13 10

Seorang teman meminta saya menemaninya dalam suatu kegiatan. Kegiatan ini penting juga, sebuah wawancara untuk mengikuti kontes pemilihan duta wisata. Dia sering meminta saran dan bantuan saya selama persiapan mengikuti ajang pageants itu.

Dia terlihat begitu nervous dan kalut. Saya terus menyemangatinya. Saya ceritakan banyak hal untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa gugup. Saya mengingatkannya kembali tentang materi catwalk, public speaking, modeling, Bahasa Inggris, dan kepariwisataan. Tak hentinya saya memotivasi dan menenangkannya.

Sayangnya, saya tak bisa menemani dia wawancara. Sebab pada saat bersamaan saya punya agenda lain. Inilah yang saya sesalkan. Syukurlah dia tidak marah atau kecewa. Dia mengerti kalau saya ada jadwal lain.

Alhasil, saya merasa bersalah. Dalam hati saya mendoakannya agar dia lolos ke babak grand final. Saya tidak tega meninggalkannya sendirian. Saya tidak bisa membiarkan seseorang yang sedang kalut, sedih, kecewa, frustasi, terluka, dan tertimpa masalah sendirian. Nurani saya mengatakan bila saya harus menemani mereka yang tengah menghadapi masalah sendirian.

Saya tahu rasanya kesepian. Saya pun paham paham betapa hancurnya seseorang saat dia tertimpa masalah dan tidak ada yang peduli padanya. Hal seperti itu pernah saya alami. So, apa yang terjadi pada saya jangan sampai dialami orang lain. Cukup saya saja yang merasakan.

Apa poin yang bisa dipetik dari kejadian di atas? Menemani orang lain yang membutuhkan kita. Ingatlah, kita tidak hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain, dan orang lain membutuhkan kita. Tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendiri. Jika tidak percaya, logikanya begini saja. Ketika kita sakit parah sampai tak bisa bangun dari tempat tidur, bisakah kita mengurus keperluan kita sendiri? Bisakah kita makan, minum, dan membersihkan tubuh kita sendiri? Lalu seandainya penyakit kita terlalu parah sampai akhirnya kita meninggal, dapatkah kita memandikan dan memakamkan jenazah kita sendiri tanpa bantuan orang lain?

Sadar atau tidak, dalam hidup kita tetap saling membutuhkan. Kita membutuhkan, kita pun dibutuhkan. Nah, bagaimana jika kita yang dibutuhkan orang lain?

Menjalani kehidupan tak luput dari masalah. Masalah-masalah itu bisa membuat seseorang menjadi stress, frustasi, nervous, ketakutan, shock, dan sedih. Apakah kita akan membiarkan orang lain menghadapi emosi dan permasalahannya sendirian? Tegakah kita meninggalkan mereka dalam keterpurukan dan situasi yang sulit? Saat itulah orang lain membutuhkan kita.

Jangan biarkan orang lain menanggung bebannya sendirian. Hindari bersikap egois dan individualis. Singkirkan jauh-jauh rasa tidak peduli dan apatis dalam diri kita. Akan sangat menyakitkan jika ada seseorang yang tengah didera permasalahan dan emosi negatif, lalu orang lain mengetahuinya, tapi tidak ada satu pun yang peduli atau menemaninya. Bayangkan jika kita ada di posisi dia? Sakit, kan?

Setelah itu, apa yang harus kita lakukan?

1. Dekati dia

Begitu kita tahu dia sedang bersedih, stress, frustasi, dll, dekati dia. Perlihatkan niat baik kita. Buat dia nyaman dengan kehadiran kita. Kalau kita ragu menanyakan kenapa dia terpuruk atau ragu melakukan kontak fisik padanya, cukup dekati dia dulu. Pastikan dia merasakan kehadiran kita.

2. Dengarkan dan tanggapi

Saat dia telah siap menumpahkan beban dan emosinya, jadilah pendengar yang baik. Dia ingin menangis, izinkan saja. Jangan menyuruhnya berhenti. Sediakan pundak kita untuk tempatnya bersandar. Ulurkan tangan kita untuk mengusap air matanya. Dia ingin berbicara panjang lebar, berkeluh kesah, dan mencurahkan isi hatinya, dengarkan dengan sabar. Terkadang orang lain butuh didengarkan. Kalau perlu, beri respon. Asalkan respon positif dan membesarkan hati. Jangan pernah sekali pun menghakimi, menyalahkan, atau menyudutkannya. Betapa pun tidak masuk akal  cerita dan perasaannya.

3. Pahami perasaannya

“Kamu tahu nggak sih? Dia nggak jujur sama aku...kenapa dia menghilang begitu lama dan nggak mau jujur? Sakit, kan?”

“Bayangin kalo kamu jadi aku. Kurang apa aku sama dia? Aku selalu ada buat dia, bujuk dia buat mau hypnotherapy lagi biar lebih cepat sembuh,  aku support dia, tiap hari aku kasih waktu buat dia meski aku sibuk. Tapi kenapa dia kayak gini sama aku? Nggak peduliin aku, nggak jujur sama aku, sok sibuk bikin tesis, ngakunya di asrama itu susah komunikasi karena Cuma ada satu handphone di sana,  nggak pernah ada pas aku mau bicara sama dia. Sakit rasanya...”

“Iya, aku paham. Aku ngerti gimana perasaan kamu. Jangan sedih...ya?”

Bagi orang yang belum terbiasa, ini sedikit sulit. Pahamilah perasaan orang lain, meski terkesan tidak logis dan kekanak-kanakan. Cobalah tempatkan diri kita dalam posisinya. Rasakan kesedihannya, kekecewaannya, luka batinnya, dan kemarahannya.

4. Biarkan dia mengekspresikan kesedihannya

Ada banyak cara untuk mengekspresikan emosi. Menangis, berteriak, melemparkan barang-barang, mengeluh, atau terdiam tanpa ekspresi. Biarkan dia melampiaskan emosinya. Beri dia kesempatan untuk melakukan itu. Jangan sampai emosi negatif terpendam. Meski demikian, kita boleh melakukan intervensi saat pelampiasan emosi itu dirasa membahayakan. Misalnya dengan makan terlalu banyak, melukai diri sendiri atau orang lain, melakukan percobaan bunuh diri, dll.

6. Hibur dan tenangkan dia

Sewaktu semua emosi telah terlampiaskan, sudah waktunya bagi kita untuk memberi penghiburan. Hiburlah dia. Tenangkan dia. Kuatkan hatinya, besarkan jiwanya. Yakinkan bahwa dia takkan sendirian menghadapi masalah. Jika memungkinkan untuk melakukan kontak fisik, lakukanlah. Kita bisa memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya, merangkulnya, dan membelai lembut rambutnya. Sentuhan semacam itu dapat memberi efek ketenangan bagi orang yang menerimanya.

Finally, maukah Kompasianer menemani orang lain yang sedang terpuruk dan membutuhkan kalian?