Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kamu Buka Mata Hatiku, Chika

5 Maret 2017   07:36 Diperbarui: 5 Maret 2017   08:15 677
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Atmosfer ketegangan menebar di depan butik. Tiga orang itu berdiri kaku, ekspresi wajah mereka berlainan. Pria berpostur tinggi semampai berkemeja abu-abu dan berwajah Indo menunduk dalam. Memasang ekspresi sedih. Sedangkan pria berkemeja coklat dengan bentuk tubuh dan wajah identik dengan pria berkemeja abu-abu berlagak marah. Mata di balik kacamata minusnya menyorot tajam. Gadis bermata sipit dan berlesung pipi dengan slip dress merah hati tak kalah kesalnya. Ditatapnya si pria berkemeja abu-abu dengan geram.

“Ricky! Kenapa kamu bawa mobil saya tanpa izin?!” hardik pria berkacamata gusar.

Ricky, yang tak lain Albert dalam penyamaran, makin menundukkan wajah. Sebagai supir dari seorang eksekutif muda, ia harus sangat meyakinkan.

“Maaf Tuan...saya nggak bermaksud bawa mobil Tuan gitu aja. Tadi saya mau telepon Tuan, tapi handphone saya lowbat.” Gumamnya.

“Alasan! Buat apa kamu bawa mobil saya tanpa izin?!” Si pria berkacamata makin ganas membentak.

“Buat antar pacar saya, Tuan. Dia hampir terlambat ke tempat kerjanya,” sahut Albert lirih.

“Nah, benar kan! Pasti buat kepentingan pribadi! Supir nggak becus! Ganteng tapi teledor! Wajah bule tapi mental pribumi!” maki Andini marah seraya menunjuk-nunjuk Albert dengan tangannya.

“Saya potong gaji kamu! Kalo sampai kejadian lagi, kamu saya pecat!”

Pria berkacamata itu mengakhiri dengan ultimatum. Sementara Albert sekali lagi meminta maaf. Andini tersenyum sinis. Menggamit lengan si pria berkacamata dengan manja.

“Gitu dong, Sayang. Jadi majikan harus tegas. Supir nggak tahu diri kayak gini harus dikasih pelajaran.” Katanya puas. “Iya, Sayang. Sekali-sekali dia harus dikasih pelajaran.”

Albert masih saja memasang ekspresi sedih dan terluka. Akting yang sempurna. Dengan begitu, kedok penyamaran mereka tak terbongkar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun