Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ayah, Guru, Malaikat

23 Mei 2019   06:00 Diperbarui: 23 Mei 2019   06:18 343
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dari mana Ayah Calvin belajar narsis? Jose menahan tawa. Ayah Calvin menggelitikinya.

"Pasti heran kenapa Ayah narsis. Ayo ngaku, ngakuuuuu!" serunya, terus menggelitiki Jose.

Ayah dan anak itu memang sangat tampan. Tampilan fisik mereka berbeda dengan warga lokal. Jose dan Ayah Calvin lebih tinggi, lebih putih, dan lebih halus garis wajahnya. Pancaran mata mereka bening meneduhkan.

"Jose kesel sama Adi!" teriaknya tiba-tiba.

Refleks Ayah Calvin menghentikan gerakan tangannya. Ditatapnya Jose penuh perhatian.

"Adi ngata-ngatain Jose lagi. Katanya, dia nggak suka kalo kelasnya dipimpin orang terus."

Orang asing? Ayah Calvin sedih mendengarnya. Cepat sekali anak-anak belajar rasis.

"Jose bukan orang asing, Sayang. Andrio juga. Kita semua orang Indonesia. Jangan dengarkan Adi ya..." kata Ayah Calvin menyabarkan.

"Memangnya orang asing nggak boleh jadi pemimpin?" tuntut Jose kesal.

"Nak, kamu bukan orang asing." Ayah Calvin menegur dengan nada halus.

Jose sulit mempercayai perkataan Ayahnya. Ucapan Adi terlalu menyakitkan. Dirinya yang berwajah oriental, Silvi yang bermata biru, Andrio yang memakai Bahasa Inggris di rumah, Hito yang senang mengobrol Bahasa Jepang dengan Papanya, dan Livio yang fasih berbahasa Belanda, sering dimaki-maki "orang asing" oleh Adi. Adi makin marah karena kelasnya punya dua ketua kelas asing. Satu bule, satu Chinese.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun