Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

[BanciPilpres] Sisi Lembut Capres Petahana

14 Maret 2019   06:00 Diperbarui: 15 Maret 2019   02:11 526 33 23
[BanciPilpres] Sisi Lembut Capres Petahana
Jokowi (Kompas.com)

Ok, Young Lady melangkah anggun membawa tulisan cantik yang baru. Sebenarnya Young Lady menulis cantik hanya untuk menyenangkan hati seseorang. Meramaikan event yang ada “Calvin Wan” di dalamnya.

Young Lady suka yang lembut-lembut. Mulai dari jenis musik, lagu pilihan, warna baju, dress yang identik dengan keanggunan/kelembutan, kriteria pasangan, cara menulis fiksi, sampai memilih presiden. Coba saja lihat koleksi fiksi cantik Young Lady di Kompasiana. Lagu-lagu yang dipakai lembut semua, kan? Sesuai dengan nama depan Young Lady. Nama depan Young Lady diambil dari nama al-Latif, yang artinya lemah lembut.

Dalam memilih pasangan pun, Young Lady menjatuhkan pilihan pada pria berhati lembut. Kalau pria itu tetiba berubah ganas atau keras, siap-siap Young Lady pecat jadi pasangan. Hmmmm, memilih pasangan sudah. Memilih pemimpin pastinya begitu dong.

Jika harus memilih, ya jelas Young Lady pilih Capres petahana. Kenapa coba? Karena hatinya lembut, Dear. Nggak percaya? Coba lihat video ini.


Wow, wow, wow. Young Lady aja amazed, gemes, dan geregetan liatnya. Bukan hanya karena pertanyaan-pertanyaan Cak Lontong yang cerdik menggelitik, tetapi juga cara bicara Pak Ganteng papinya Mas Kaesang. Perhatikanlah, cara bicaranya itu lembuuuut sekali. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan nada lembut berwibawa. Ya ampun, kayaknya sejuk banget ya, kalau punya ayah/suami/kakak laki-laki/kakek kayak gitu.

Capres petahana itu bicaranya lembut sekali. Bahkan...oh my God, saat tertawa pun, beliau tetap lembut. Wait wait, kok tiba-tiba Young Lady teringat “Calvin Wan” ya? Pembawaan, cara bicara, sikap, dan hati yang lembut. Oh Dear...

Ketika Cak Lontong sempat menyinggung tentang

“Rakyat tidak makan infrastruktur!”

Pak ganteng yang lembut itu tetap menjawab dengan tenang dan santai. Betul, rakyat tidak makan infrastruktur. Tapi infrastruktur mendekatkan makanan dengan rakyat, membuat makanan jadi murah, dan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu lama. Begitu kira-kira jawabannya. Maaf, kalau Young Lady salah tangkap.

Waktu membahas kisah cintanya dengan Bu Iriana pun, beliau bercerita dengan lembut. Bersepeda berdua, makan bakso, hingga rantai sepeda putus. Ah romantisnya.

Ada satu jawaban Pak ganteng yang lucu tapi mengena.

“SIM A, SIM B, SIM C saya punya. Yang nggak punya Cuma sim salabim.”

Ternyata maksud dari sim salabim itu adalah sesuatu yang instan. Kata pak ganteng berhati lembut, tidak ada sesuatu yang instan. Semuanya butuh proses. Bener, bener banget.

Sungguh, tidak ada kesan keras, pemarah, dan arogan dalam diri capres petahana. Sosoknya yang lembut, menenangkan, dan penuh kasih menjadi cerminan pemimpin bangsa yang ideal. Masih mau bukti lagi? Lihat video berikut ini.


Nah, kurang apa lagi coba? Anak-anak itu manusia paling jujur. Hati mereka tulus, putih, bersih, dan murni. Mereka lebih mudah mengenali mana orang baik dan mana orang jahat.

Fyi, ekspresi orang berkebutuhan khusus jauh lebih jujur dan spontan. Mereka tak bisa dikontrol atau di-setting saat ingin mengekspresikan sesuatu yang ada di dalam hati. Lihat, bagaimana lembut dan penuh kasihnya pak Jokowi. Orang yang dekat dengan anak-anak dan mampu membuat nyaman anak berkebutuhan khusus adalah orang berhati lembut.

Penilaian senada juga diungkapkan Menteri Luhut Panjaitan. Dilansir dari Tribun News, Luhut menilai Pak Jokowi lemah lembut tapi tegas. Sekjen PDIP juga mengutarakan pendapat yang sama, seperti ditulis Merdeka.com.

Pemimpin berhati lembut, itulah yang kita butuhkan sekarang. Bukan pemimpin yang mempertontonkan hoax, rangkaian sandiwara, kampanye hitam, fitnah, amarah di depan publik, tubuh topless, dan arogansi. Semoga Pak Jokowi kembali terpilih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2