Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Penulis Novel

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Selamat Ulang Tahun, Penulis Puisi

14 Februari 2019   06:00 Diperbarui: 14 Februari 2019   05:58 0 39 31 Mohon Tunggu...
Selamat Ulang Tahun, Penulis Puisi
Pixabay.com

Politics war nya pause dulu dong. Game over kalau perlu. Hari ini...no politik, no hate speech, no hoax. Karena ini hari apaaaa?

Iya, benar! 14 Februari itu hari Kasih Sayang a.k.a Valentine's Day. Eits, udahlah nggak usah tegang urat syaraf dulu. Lupain pro kontra merayakan Valentine. Lupakan, lupakan!

Young Lady cantik bermata biru mau ajak Kompasianers menyapa anggota keluarga kita yang lagi berulang tahun: Rustian Al Ansori. Atau Young Lady lebih suka memanggilnya Pak Tian.

14 Februari 54 tahun lalu, seorang Kompasianer tekun penulis puisi lahir. Puisi-puisinya relevan dengan situasi yang terjadi di sekitarnya. Tak hanya puisi. Bapak kece satu ini pun sering menyajikan reportase tentang kegiatan pemerintahan di Bangka. Produk-produk jurnalistiknya menghiasi kanal Kompasiana.

Selain itu, ayah puisi kita ini sudah punya buku loh. Antologi puisi Hujan Kata Kota Logam yang dibuatnya bersama Koko Sunlie Thomas Alexander dan beberapa sastrawan lokal Bangka. Ia giat menyebarkan virus literasi di tengah sepinya geliat sastra. Keren kan? Tepuk tangan dong buat Pak Tian.

Jam terbangnya dalam menulis cukup tinggi. Jelas lebih tinggi dari Young Lady cantik yang Cuma jadi butiran debu. Buktinya, karya-karya Pak Tian telah dimuat di sejumlah media. Antara lain Wanita Indonesia, Republika, Singgalang, Sumatra Express, Swadesi, Tribun Olahraga, Angkatan Bersenjata, Simfoni, Mitra Desa, Sriwijaya Post, Media Guru, Gelora Musi, Bangka Post, Babel Post, Rakyat Post, dan lain-lain.

Pak Tian ini serba bisa. Nulis puisi, ok. Nulis cerpen, cakep. Nulis artikel, wah jangan ditanya. Beberapa puisinya pun mengajarkan kita tentang toleransi. Baca saja puisinya yang berjudul Temanku Tionghua. Atau puisinya yang lain, Masih Ada Lampion Di Kampung Kita.

Ada pula puisi-puisinya yang memberi pesan kejujuran. Coba kalian baca puisi Jadilah Jujur, Jujur Yang Diingkari, Jujur Jadi Batu, Temukan Hakikat Kejujuran, dan Ungkap Jujur. Sebuah puisi tentang alam pernah ditulisnya dengan memikat: Pagi dan Matahari. Dua puisi tentang hujan ia tulis dengan indah: Berteduh dan Alam Tak Marah. Wow, menyentuh sekali.

Dulu, waktu awal-awal kenal Pak Tian, Young Lady tertular energi positif yang dituliskannya lewat puisi-puisi khas di pagi hari. Pagi ceria di Kompasiana jadi penuh semangat karena disuguhi puisi-puisi tentang pagi. Pikir Young Lady, rajin sekali Kompasianer yang pagi-pagi sudah berpuisi. Berpuisi di pagi hari itu berat, biar Pak Tian aja.

Tapi, tapi, oh tapi...ternyata bukan pagi saja. Believe it or not, Young Lady sering menemukan puisi-puisi baru milik ayah dua putri ini kala dini hari! T.o.p.

Tanda tanya tumbuh di kepala Young Lady. Sudah lama ingin Young Lady tanyakan. Siapa tahu beliau yang lagi ulang tahun mau jawab. Bagaimanakah proses kreatifnya? Mengapa Pak Tian bisa begitu produktif dan tekun tiap harinya? Bagaimana cara mengatur waktu antara menulis, bekerja, beristirahat, dan quality time dengan keluarga? Produktivitasnya itulah yang mengagumkan dan layak ditiru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x