Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Penulis Novel

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Body Shaming" dan Membela yang Lemah

13 Januari 2019   06:00 Diperbarui: 13 Januari 2019   06:00 0 28 26 Mohon Tunggu...
"Body Shaming" dan Membela yang Lemah
Pixabay.com

Ayah ideal itu dibully staf-stafnya di kantor. Persoalannya sederhana tetapi sensitif: rambut yang hilang. Sejak ia tidak tampan lagi karena penyakit, ayah ideal itu banyak mengalami verbal bullying. Penyakit dan kondisi tubuh tak bisa disalahkan.

Kasus di atas mengiris hati Young Lady. Rasanya tak rela, persis lagunya Calvin Jeremy. Tak rela melihat orang baik diperlakukan tidak baik.

Nah, sebenarnya body shaming itu apa sih? Body shaming itu mengomentari kekurangan fisik orang lain. Ada yang melakukannya secara sengaja, ada pula yang tidak. Misalnya saat berbasa-basi, melontarkan joke, atau sekedar ice breaking. Tetap saja body shaming konteksnya tidak tepat.

Body shaming itu kejam. Tak ada orang yang mau jadi korban body shaming. Semakin kejam lagi bila body shaming dilakukan pada orang yang lemah.

Young Lady cantik pernah membela seorang ayah ideal karena ia di-body shaming saat sedang lemah. Sungguh, Young Lady tak suka. Apa motif orang-orang yang melakukan body shaming itu, tak ada yang tahu.

Di sebuah kantor, tiga kali Young Lady berdiri membela sosok inspiratif berhati lembut itu. First, saat si ayah ideal di-body shamingkan karena bagian tubuhnya yang hilang. Second, saat si ayah ideal dibully karena lovelifenya. Ketiga, karena si ayah ideal diragukan kemampuannya sebagai pemeran utama di sebuah project adaptasi novel. Young Lady cantik, sebagai penulis dan pemilik cerita, menggunakan power Young Lady untuk memperjuangkan rezeki si ayah ideal sebagai peran utama. Tak mudah meyakinkan semua orang yang ragu kalau ia pasti bisa, meski terbatas. Ketika Young Lady cantik stand up for someone, di situlah ada risiko. Memang begitulah konsekuensinya. Bila kita berdiri untuk seseorang/sesuatu, kita harus menghadapi risiko.

Takutkah Young Lady? Tidak. Toh Young Lady tidak bergantung pada kantor itu. Young Lady cukup kaya tanpa mengharapkan uang dari sana. Dan...di sana, ada sosok inspiratif yang ingin Young Lady bela dari apa pun yang menyakitinya.

Ok, balik lagi ke body shaming. Apa pun alasannya, jangan pernah melakukan body shaming. Jangan lakukan body shaming hanya untuk menutupi kelemahan diri sendiri.

Tubuh itu milik Tuhan. Body shaming sama saja menghina ciptaan Tuhan. Jika salah satu atau beberapa anggota tubuh kehilangan fungsi, bukan hak kita untuk menghinanya.

Well, belalah orang-orang yang lemah. Utamakan, muliakan, dan perjuangkan orang yang memiliki keterbatasan. Memang hal seperti ini diperlukan self wiling. Tapi...cobalah.

Berdirilah untuk orang lain. Bela mereka. Lindungi orang yang lemah dari kejahatan orang lain.

Minggu ini, Young Lady dibuat lelah karena berdiri untuk orang lain. Di satu sisi, Young Lady menikmatinya karena bisa mengasihi mereka. Walau di sisi lainnya ada kesepian yang kuat.

Body shaming pertanda seseorang belum dewasa. Membela yang lemah menandakan seseorang berjiwa besar. Jangan ragu membela orang yang lemah. Hadapilah apa pun risikonya. Tuhan tidak tidur. Ia melihat, menyaksikan, mencatat, dan membalas perbuatan kita. Tenang saja.

Kompasianers, sudahkah kalian membela orang yang lemah? Kalian tidak setuju dengan body shaming, kan?