Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sentilan Buat Mereka yang Berhijrah

15 September 2018   06:00 Diperbarui: 15 September 2018   08:26 423 29 23
Sentilan Buat Mereka yang Berhijrah
Pixabay.com

Eits, akhir pekan bukan waktunya fiksi buat Young Lady. Biar aja, fiksinya disimpan buat weekdays. Serial Selingkuh Hati dengan lagu-lagu khas penyanyi ganteng Afgan Syahreza dilanjut nanti ya.

Percuma nulis bagus pas weekend. Nggak ada yang baca. Votersnya sedikit. So, tulis tema-tema ringan aja kali ya.

Well, am I late? Tidak, kan? Sepertinya, masih suasana Tahun Baru Hijriyah. Masih awal Muharram. So, nggak salah kan, kalau Young Lady menulis cantik tentang hijrah? Belum telat-telat amat tuh.

What's the meaning of hijrah? Let's see.

Menurut KBBI daring, hijrah memiliki dua arti. Pertama, perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya (Kaum Muhajirin) untuk melindungi diri dari kaum kafir Quraisy. Kedua, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya). Nah, jelas kan? Intinya, hijrah itu berpindah. Entah pindah secara ragawi maupun batiniah.

As we know, zaman Prophet Muhammad telah lama berlalu. Nampaknya, kini umat Islam di seluruh dunia dapat memeluk agamanya dan beribadah dengan damai. Tak ada lagi tekanan bertubi-tubi dari sekumpulan orang yang menamakan diri kaum kafir Quraisy. Aduh, kayak lagunya Afgan aja ya...semua ini pasti berlalu.

Seiring berlalunya waktu, kini hijrah mengalami pergeseran makna. Bukan berarti makna 'pindah'nya berubah. Tetap, maknanya tetap berpindah. Namun, di zaman sekarang ini, hijrah lebih dimaknai dari cerminan hati, sikap, dan perilaku.

Banyak orang memaknai hijrah sebagai perpindahan ke arah yang lebih baik. Utamanya ke arah perilaku dan sikap yang lebih religius. Orang yang berhijrah menandakan dirinya lebih fokus mendalami agama. Istilah kerennya, lebih alim. Lebih religius.

Motif hijrah semestinya karena satu: karena Tuhan. Hijrah untuk Tuhan, Allah, atau apa pun istilah penyebutannya. Sayangnya, sering kali hijrah disalahgunakan untuk motif lain yang tidak tepat.

Pertama, hijrah karena ikut-ikutan. Dianggap menjadi trend, orang ramai-ramai berhijrah. Gaya berpakaian, cara berbicara, dan gesture mereka lebih agamis. Hijrah seolah telah menjadi lifestyle, bukan semata panggilan Tuhan. Motif ini berbahaya. Bayangkan, misalnya hijrah sudah tidak populer lagi. Bisa-bisa para pelakunya kembali seperti dulu.

Kedua, hijrah karena paksaan. Ini juga berbahaya. Contohnya, orang yang mengaku sudah berhijrah lalu seenaknya memaksa orang lain untuk berhijrah seperti dirinya. Hijrah bukan paksaan, tapi panggilan hati. Anggaplah hijrah sebagai pemurnian. Seperti kaul kebiaraan yang di dalamnya mencakup kaul kemurnian. Nah, kira-kira seperti itu. Harus murni datang dari hati. Tulus ikhlas, tanpa paksaan.

Ketiga, hijrah demi mencari pujian. Nah, ini lebih parah lagi. Sudah jelas kemurniannya dirusak. Banyak orang berhijrah hanya agar dirinya dianggap baik, alim, agamis, dan layak diperhitungkan. Hijrah untuk mencari pujian, sama saja jual-beli dengan Tuhan. Kalian menjual hijrah, berharap Tuhan membelinya dengan pujian. No way.

Ok, clear. Tadi itu hanya tiga motif terburuk orang berhijrah. Semoga kalian tidak termasuk di dalamnya ya.

Buat kalian yang sudah berhijrah atas nama Tuhan, congrates. Hijrah itu mudah. Konsistennya yang susah. Right?

Selain itu, jaga niat. Kalau dari awal niat hijrahnya karena Tuhan, ya sudah. Jangan dicampuri niat macam-macam.

Just so you know, Young Lady cantik menulis ini karena dorongan rasa kesal bercampur gemas dalam hati. Jujur saja ya. Young Lady kenal orang-orang yang memutuskan berhijrah. Rerata milenials yang mengaku tercerahkan. Ok fine, awalnya bagus sih. Bagus banget malah. Mereka jadi kelihatan agamis dan inspiratif. Beberapa di antara mereka tak ragu menceritakan kronologi berhijrahnya pada Young Lady.

Di satu sisi, ada orang yang tidak berubah walaupun sudah berhijrah. Tidak berubah dalam arti, ia tetap mau berteman dengan siapa saja. Tidak menutup diri, tidak merasa eksklusif. Tetap akrab dengan orang-orang yang tidak berhijrah.

Di sisi lain, ada yang sikapnya berubah drastis selepas berhijrah. Ia seakan mundur dari lingkaran pertemanan. Tak mau melebur dalam kehidupan anak muda kekinian yang normal. Mengubah network pergaulan. Menjustifikasi orang-orang yang masih belum benar dalam pandangannya.

Lebih parah lagi, ada pula yang mengaku sudah berhijrah, tetapi memamerkan hijrahnya kemana-mana. Rasanya Young Lady ilfeel sekaligus ingin tertawa menyaksikan tingkah para pelaku hijrah satu ini. Mereka spesies hijrah yang memperlihatkan hijrahnya di mata dunia. Menggelikan, para pelaku hijrah macam ini layak diberi cermin lalu disuruh introspeksi lagi.

Di kelas Young Lady, ada dua orang gadis dan pemuda yang memutuskan berhijrah. Mereka tampil sangat agamis. Sang gadis tak lagi mengenakan celana jeans. Kini ia lebih suka membalut tubuhnya dengan baju-baju panjang. Sementara itu, sang pemuda tampil sangat, sangat sederhana. Begitu sederhananya sampai-sampai jadi agak menjijikkan dan menyebalkan di mata Young Lady. Bagaimana tidak, pemuda ini datang ke kampus memakai sandal! Model celananya pun ketinggalan zaman. Padahal, di kampus sangat dilarang bagi mahasiswanya memakai sandal. Dosen lebih suka mahasiswa bersepatu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2