Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menolak Makan Bersama, Merasa Eksklusif?

11 Agustus 2018   05:38 Diperbarui: 11 Agustus 2018   08:38 385 20 14

Selama KKN yang kini telah memasuki minggu keempat, Young Lady cantik masih menjaga jarak dengan teman-teman kelompok. Young Lady cantik tak bisa dekat dengan mereka. Efek pemilih dan perfeksionis sepertinya.

Salah satu bukti menjaga jarak dengan mereka adalah penolakan makan bersama. Ya, Young Lady tak pernah makan bersama dengan teman-teman kelompok di posko KKN. Jangankan makan bersama, menginap pun tidak. Young Lady menuruti my mom yang menginginkan Young Lady tidak tinggal bersama kelompok KKN.

Merasa eksklusif? Tidak juga. Young Lady punya alasan untuk tidak makan bersama mereka. Sering kali makan bersama menjadi ajang merajut kebersamaan. Namun Young Lady justru sangat menghindari kegiatan makan bersama. Walau tidak ikut makan bersama, Young Lady rutin membagikan makanan untuk teman sekelompok tiap minggunya.

Meski demikian, Young Lady punya alasan kuat untuk menolak. Pertama, mereka tidak dekat. Sepanjang hidup, Young Lady hanya mau makan dengan orang-orang terdekat. Utamanya keluarga, dan orang-orang di luar keluarga yang sangat dekat. Kalau dengan teman-teman yang tidak terlalu dekat, atau teman sekadar kenal saja, teman seorganisasi, teman kelompok, jelas itu bukan teman makan pilihan Young Lady.

Kedua, tidak semua orang mengerti. Bagaimana Young Lady cantik bisa makan bersama orang-orang yang tidak paham bagaimana kondisi Young Lady? Bagaimana bila Young Lady melakukan kesalahan di meja makan? Bagaimana bila mereka tidak memaklumi atau memahami?

Ketiga, perasaan asing. Honestly, Young Lady tak suka bila harus makan di tempat asing. Di tempat yang sama sekali belum dikenali Young Lady. Makan di tempat asing, dengan posisi peralatan yang juga asing, bukan hal yang diinginkan. So, biasanya Young Lady menolak makan bersama di tempat-tempat asing yang belum familiar.

Keempat, jaga image. Ini lagu lama. Tak bisa lagi sifat perfeksionis ini dipendam. Kata my mom, Young Lady itu perfeksionis. Mengejar kesempurnaan, walaupun memang sulit mencari yang benar-benar sempurna di dunia ini. Tapi Young Lady maunya membuat segala sesuatu yang dilakukan sesempurna mungkin. Menghindari makan bersama orang-orang yang tidak kenal dekat dan di tempat asing, setidaknya meminimalisir kesalahan dan risiko. Pokoknya Young Lady cantik tidak ingin melakukan kesalahan di meja makan dan terlihat banyak orang. Praktis Young Lady menghindari kegiatan makan bersama.

Kelima, tidak ingin merepotkan sesiapa. Well, tidak semua orang berhati tulus. Tidak semua orang mau direpotkan dengan orang lain. Dan yang terpenting, tak semua orang mau menerima kehadiran orang seperti Young Lady saat makan. Dari pada ambil risiko, Young Lady tahu diri dan lebih memilih mundur ketika mereka makan bersama. Buat apa merepotkan orang-orang yang belum tentu tulus dan teruji? Lebih baik Young Lady tak usah merepotkan mereka.

Sama sekali tak ada perasaan eksklusif. Hanya menekan risiko dan tidak ingin menyusahkan. Terkadang sebuah tindakan dinilai dari berbagai persepsi. Tindakan yang kelihatannya negatif, padahal maksud sebenarnya tidak begitu, sering menuai salah paham.

Seperti penolakan Young Lady pada beberapa hal lainnya. Menolak sesuatu tak selamanya negatif. Ada kalanya penolakan dibuat untuk mencegah kemungkinan terburuk. Tak selamanya penolakan itu buruk.

Sebuah penolakan melahirkan kekecewaan dan prasangka. Menolak lawan dari menerima. Kebanyakan orang lebih suka diterima atau ditolak. Namun, suka atau tidak, penolakan adalah bagian dari hidup. Dalam hidup, kita pasti pernah menolak dan tahu rasanya ditolak.

Mengapa mudah sekali prasangka lahir dari penolakan? Mengapa banyak persepsi negatif berkelebatan dari sebuah penolakan? Jika penolakan itu menuai pikiran negatif, cobalah kalian tukar jiwa, seperti lagunya Tulus, dengan si penolak. Rasakan, posisikan diri kalian dalam posisinya. Pasti takkan ada lagi pikiran negatif jika kita paham bagaimana rasanya. So, buat apa melibatkan diri dalam kebersamaan kalau orang-orang di dalamnya belum tentu tulus pada kita?