Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Ingin Berhenti Sejenak Menulis Cerita

4 Agustus 2018   05:44 Diperbarui: 4 Agustus 2018   05:51 739 17 20

Tiap dua bulan sekali, Young Lady cantik punya agenda khusus: membaca cerpen-cerpen yang diterbitkan Koran Minggu seperti Jawa Pos, Kompas, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Republika, Radar Surabaya, Suara Merdeka, Haluan, Analisa, sampai Tribun Jabar. Sengaja Young Lady lakukan tiap dua bulan sekali agar efektif. 

Dari pada hanya membaca cerpen sedikit-sedikit, lebih baik langsung membaca banyak cerita sekaligus dalam satu waktu. Membaca satu-dua cerpen tiap hari terasa kurang memuaskan buat Young Lady. Lebih baik alokasikan waktu khusus tapi rutin.

Rasanya senang saja membaca cerita-cerita pendek karya penulis tanah air. Ada yang bagus, ada yang tidak, ada pula yang sulit dipahami karena temanya surealis. Young Lady memang tidak suka cerpen-cerpen surealis.

Agustus ini memang gilirannya Young Lady melakukan kegiatan dua bulan sekali tersebut. Mengulang kesenangan sesaat. 

Berselancar di antara rangkaian kata indah yang membentuk prosa. Terkadang membandingkan dengan cerita-cerita cantik buatan Young Lady. Sering sekali Young Lady membandingkan tokoh-tokoh dalam cerita mereka. Bila tergolong cerpen serius, memang sulit menemui tokoh-tokoh rupawan dan perfect. Lebih banyak tokoh yang sama sekali tak sempurna. Beda banget sama tokoh utama ciptaan Young Lady.

Yang menulis cerpen di koran dan termuat ya itu-itu saja orangnya. Kalaupun ada muka-muka baru, jumlahnya sedikit sekali. 

Kakunya jagat literasi sastra di negeri kita. Atau merekanya saja yang enggan menerima dan membimbing junior-junior baru. Membimbing penulis baru yang normal saja enggan, apa lagi menerima dan mengarahkan penulis yang istimewa karena satu atau beberapa inderanya dilemahkan.

Semula, Young Lady pikir membaca cerpen-cerpen terbitan koran Minggu dapat menaikkan semangat untuk menulis fiksi cantik. Nyatanya tidak. Justru Young Lady makin merasa sedih. Semangat menulis cerita patah.

Tepat hari kemarin, Young Lady menerima e-mail dari sebuah perusahaan penerbitan yang cukup besar. Lini penerbitan ini tergabung dalam grup penerbitan besar. Isi e-mailnya sama sekali tidak mengenakkan. E-mail itulah yang membuat Young Lady berpikir ulang untuk menulis cerita.

Secara tidak langsung, e-mail dari lini penerbitan itu mematahkan semangat Young Lady. Jangan tanya apa isi e-mailnya sebab Young Lady takkan cerita. Tak satu pun yang tahu isi e-mail itu kecuali Allah dan Young Lady. Jika sudah begitu, Young Lady hanya ingin sendiri. Berteman dengan sepi, jangan harap ada yang bisa mengganggu Young Lady.

Lama berpikir, sepertinya Young Lady memang tidak pantas ya menulis cerita. Apa sebaiknya Young Lady berhenti menulis cerita dan melupakan semuanya? Barangkali, fokus dengan rencana hidup dan beberapa yang ingin dilakukan di luar kegiatan menulis jauh lebih baik. Meski di bidang apa pun ingin melangkah, tetap saja Young Lady akan dipersulit dan didiskriminasi. Well, negara kita ini memang belum ramah pada bangsa pendatang dan yang lemah salah satu inderanya.

Kebahagiaan berliterasi di negeri ini mahal harganya. Sampai-sampai seorang yang dianggap kecil, lemah, dan pendatang tak mampu membelinya. Kemakmuran berliterasi hanya bisa diraih segelintir orang. Mungkin terbatas pada orang-orang yang sejalan dengan tim redaksi, atau orang-orang yang pintar berkolusi dan bernepotisme dengan orang dalam. Buat orang istimewa karena salah satu inderanya lemah, atau yang tidak dianggap warga asli, ya jangan harap bisa menampilkan eksistensi di jajaran literasi negeri kita.

Well, Young Lady ingin berhenti sejenak menulis cerita. Entah sampai kapan. Mungkin sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Memang sejak Juli kemarin Young Lady sudah jenuh menulis cerita.

Sangat jarang Young Lady mendengarkan orang lain. Lebih percaya pada kata hati, bisikan nurani, mata batin, dan diri sendiri. 

So, buat Young Lady, kata-kata motivasi dan penyemangat yang dilemparkan di ranah maya tak ada artinya. Bila Young Lady sudah mengambil keputusan, suara orang lain tidak akan mempengaruhi keputusan itu. Kalaupun ingin berubah pikiran, harus datang dari diri sendiri.

Sudah terlalu banyak hal mengecewakan dan tidak mengenakkan selama menulis cerita. Apa sebaiknya Young Lady berhenti saja? Mungkin berliterasi memang bukan jodoh kehidupannya Young Lady.

Satu hal yang pasti: negeri kita itu tidak ramah pada non-native dan disabilitas. Itu yang dirasakan Young Lady. Kalau sudah begini, seperti kata BCL di lagunya, aku bisa apa? Para difabel dan non-native bisa apa coba? Indonesia itu masih jahat sama mereka. 

Orang-orangnya merasa terlalu baik dan belum pantas menerima mereka dimana-mana. Entah mengapa, Young Lady merasa sama sakitnya ketika pernah ditolak Rektor salah satu universitas negeri ternama tiga tahun lalu. Sakitnya hampir sama. 

Young Lady takkan pernah melupakan wajah orang yang pernah menolak gadis bergaun grey di ruang kerjanya yang mewah tiga tahun silam, ditolak hanya karena stereotip.

Keadilan yang sejati dan tempat terindah untuk orang-orang tak berdaya bukanlah di dunia, tapi di akhirat. Berharap pada manusia hanya mendatangkan mudharat. Allah satu-satunya tempat bersandar dan berharap. Allah tidak tidur.