Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Surat Terbuka untuk Falcon Publishing

9 Juli 2018   06:57 Diperbarui: 9 Juli 2018   06:56 745 25 22

Dear Tim Redaksi Falcon Publishing,

Saya menulis Melodi Silvi sejak Maret 2018. Awalnya saya tulis dengan cantik dan saya jadikan rangkaian postingan cantik di Kompasiana. Lalu, seperti biasa, endingnya saya sembunyikan dari panggung Kompasiana. Hanya beberapa orang pilihan yang tahu. Saya tipe pemilih, yang tidak gampang mempercayakan naskah pada siapa saja. Sebab saya belajar dari pengalaman dan tak mau mengulang kesalahan yang sama.

Seorang teman wanita menyarankan saya untuk mengirimkan versi utuh naskah Melodi Silvi ke Falcon Publishing. Ia membesarkan hati saya. Semula saya ragu. Saya tahu, Falcon Publishing lini penerbitan buku yang dikembangkan Falcon Picture. Sebuah rumah produksi yang merambah industri perbukuan di tengah arus digitalisme, itu sebuah keberanian luar biasa menurut saya.

Teman wanita itu terus meyakinkan saya. Finally, saya pun yakin. Ia memberikan foto berisi capture cara mengirim naskah ke Falcon. Sempat saya kebingungan. Bagaimana saya bisa membacanya? Aplikasi SR yang saya gunakan tentunya tak bisa membaca teks di dalam foto. Dengan mata saya sendiri, apa lagi. Membaca tulisan font 12 saja tak mampu.

Syukurlah teman wanita itu berbaik hati mengetikkan tteks foto itu untuk saya. Apa yang dilakukannya sangat membantu. Hari itu juga, saya siapkan bab 1-5 dari naskah Melodi Silvi. Selain itu, saya siapkan sinopsis dan daftar karakternya secara rinci. Tanggal 6 Mei 2018, saya kirimkan file naskah chapter 1-5 dan kelengkapannya sesuai prosedur yang telah ditentukan ke e-mail publishing@falcon.co.id. Tak lupa saya berikan kata pengantar yang manis di badan surelnya. Saya jelaskan siapa saya, saya perkenalkan diri dengan sopan dan manis.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Sampai dua bulan sejak saya kirimkan naskah Melodi Silvi ke Falcon Publishing, sama sekali tak ada konfirmasi apa pun. Bukannya saya tak sabar. Saya juga tahu alur seleksi naskah di major publisher. Tapi, masalahnya, sejak saya mengirimkan naskah tanggal 6 Mei lalu sampai sekarang, sama sekali tak ada konfirmasi dari tim redaksi apakah naskah saya sudah sampai meja mereka atau belum. Jangankan mengetahui diterima atau ditolak, konfirmasi sampainya naskah ke meja redaksi pun saya tak pernah mendapatkannya. Pernah saya tanyakan lagi ke e-mail yang sama tanggal 6 Juni. Namun hasilnya nihil.

Hal ini membuat saya bingung. 2 bulan berlalu, namun belum jugaa ada konfirmasi satu pun. Saya tidak mengharapkan keputusan yang cepat dari Falcon. Saya siap menunggu, dan lebih siap lagi bila harus editing berulang kali kalau toh Melodi Silvi akan diterbitkan. Tetapi yang saya pertanyakan adalah konfirmasinya. Mengapa sama sekali tidak ada konfirmasi hingga 2 bulan bergulir? Adakah yang salah dengan saya? Bukankah saya telah mencoba menjalin komunikasi dengan penerbit dengan sopan dan prosedural? Saya juga berikan kata pengantar, tidak langsung mengirim naskah dalam attachment tanpa basa-basi sedikit pun di body e-mail.

Saya jadi berpikir. Sepertinya kiriman saya terabaikan. Atau bahkan tidak dilirik sama sekali. Semua kelengkapan yang telah saya siapkan sendiri, walaupun dengan format tulisan yang berantakan, layak terabaikan di meja redaksi yang mewah dan berwibawa. Beginilah sulitnya orang biasa yang ingin merealisasikan harapannya.

Katakanlah saya tidak tahu malu karena menulis surat terbuka ini. Saya hanya bingung harus bagaimana. 2 bulan tanpa konfirmasi apa-apa, bahkan sekadar notifikasi naskah telah sampai ke meja redaksi, haruskah saya menarik naskah saya kembali? Haruskah saya cabut Melodi Silvi dari Falcon dan menawarkannya ke publisher lain?

Well, saya punya pertimbangan untuk mengirimkan Melodi Silvi ke Falcon 2 bulan lalu. Ini berkaitan dengan impian saya, output yang saya inginkan dari Melodi Silvi: film. Saya berharap, suatu saat nanti, cerita cantik yang saya tulis akan diadaptasi ke dalam bentuk film. Untuk mencapai hal itu, perlu dibukukan dan di"bestseller"kan dulu. Saya pilih Falcon karena bagian dari sebuah rumah produksi. Mungkin dapat mempermudah saya mewujudkan harapan.

Realitanya, yang saya kirimkan malah diabaikan. Mungkin karena format tulisannya berantakan. Mungkin karena saya tak mampu mengirimkan filenya dalam satu folder. Ya, saya akui memang tak mampu melakukannya. Saya memang memiliki banyak kelemahan. Di sisi lain, saya tak pernah dan tak ingin dibantu selama menulis. Biarlah ini hasil kerja saya sendiri, meskipun hasilnya jauh dari kata bagus. Apa gunanya memperhatikan tulisan dari gadis kesepian yang tidak bisa menulis dengan tangan, membaca tulisan ukuran normal, dan kehilangan sekian persen fungsi kedua bola biru pucat yang menempel di wajahnya?

Atau mungkin...

Apa yang saya kirimkan terabaikan karena saya menyoroti isu stereotip Non-Pribumi, Muslim Non-Pribumi, dan stereotip dengan begitu jelas di dalam tulisan cantik saya. Tapi, beginilah adanya. Berawal dari sakit hati, saya selalu tertarik mengangkatnya dalam cerita. Sudah pernah saya jelaskan di sini.

Di dalam sinopsis Melodi Silvi pun sudah pernah saya tulis. Islam, dan Non-Pribumi yang memeluk Islam, memang sungguh-sungguh ada. Bahkan banyak. Namun, sering kali stereotip menang. 

Padahal Islam dan Tuhan itu universal. Tidak mengenal etnis, kan? Nah, itu salah satu poin yang saya ungkap dalam Melodi Silvi. Tapi sepertinya poin itu cukup membuat kiriman saya terabaikan di meja redaksi yang besar dan mewah. Apa artinya tulisan pemberian gadis bodoh yang berusaha mandiri di tengah segala kesulitan?

Seperti lagunya Isyana Sarasvati, saya masih berharap ada respon positif dari Falcon Publishing. Tapi kalaupun tidak ada, izinkan saya menarik Melodi Silvi dan mencari peruntungan di tempat lain. Syukur tidak diabaikan lagi. 

Saya tetap bertekad merealisasikan harapan saya selama masih ada sisa umur. Never give up. Last but not least. Saya memperjuangkan Melodi Silvi bukan untuk diri sendiri. Melainkan untuk keluarga inti dan orang-orang yang saya cintai. Prinsip saya, toh kalau saya sukses, hasilnya untuk mereka. Tidak untuk saya pribadi.

Salam hangat,

Surat cantik dari Young Lady cantik bermata biru dan bergaun putih