Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Media

Jenuh Menulis Cerita, Subjektivitas Admin Kompasiana dan Kesepian Jalan Sunyi Literasi

8 Juli 2018   05:36 Diperbarui: 8 Juli 2018   09:17 438 9 10

Jenuh. Itu bukan hanya sekadar judul lagunya Rio Febrian. Tetapi juga perasaan Young Lady akhir-akhir ini.

Terus terang saja ya. Young Lady mau jujur sama Kompasianers semua di sini. Mau jujur apa sih? Young Lady jenuh, jenuh menulis cerita!

Iya, sebenarnya belakangan ini Young Lady lagi jenuh-jenuhnya menulis cerita. Sedang malas-malasnya meramaikan kolom fiksiana dengan cerita cantik. Bahkan ketika menulis prolog Melodi Silvi 2 Jumat kemarin, itu pun sangat, sangat dipaksakan. Sebetulnya tak ingin menulis cerita. Tapi yah harus dipaksakan.

Setiap tindakan, perasaan, pernyataan, maupun perbuatan harus disertai alasan. Jenuhnya Young Lady tentu ada alasannya.

Pertama, kecewa dengan subjektivitas yang tinggi di kanal fiksiana Kompasiana. Eits, admin jangan tersinggung ya. Kalau boleh jujur, Young Lady rasa, admin di kanal fiksiana Kompasiana masih subjektif dalam menilai karya-karya fiksi yang membanjiri kanal ini. Terbukti dengan sulitnya menembus pilihan atau headline. 

Ayo para Fiksianer, ngaku...kalian juga pernah merasakan dampak subjektivitas ini, kan? Coba perhatikan. Sedikit sekali cerpen atau puisi yang masuk HL. Kalau pilihan, mungkin ada beberapa. Tapi kalau HL? Lebih banyak artikel non-fiksi yang bisa tembus. Lebih jauh lagi, Young Lady sering perhatikan. Hanya beberapa penulis fiksi tertentu yang selalu dilabel pilihan untuk cerpen/puisinya. Itu pun proses labelingnya lebih cepat. Terlihat bila selera admin sangat menentukan dalam pelabelan pilihan untuk cerpen dan puisi. 

Honestly, subjektivitas dan selera pribadi yang diutamakan, Young Lady bilang...mengecewakan. Mungkin saja admin fiksiana Kompasiana kurang netral atau kurang objektif dalam menilai karya. Ini bukan protes ya. Hanya sekadar berbagi...ups, itu sih kalimat khasnya Kompasianer handsome and charming di sebelah. Maksudnya, hanya sekadar berbagi opini tentang penilaian di fiksiana Kompasiana.

Kedua, kecewa dengan peletakan posisi video musik yang dicantumkan. Maaf ya, Young Lady memang lebih suka to the point dan apa adanya. Selama setahun ini, mengikuti saran "Calvin Wan", Young Lady selalu mencantumkan video musik di bagian bawah cerita. Biasanya Young Lady letakkan di bawah tanda bintang sebagai penanda akhir cerita. Young Lady cantik melakukan itu tentu ada alasannya. Agar para pembaca ikut menikmati keindahan lagu itu bersama keindahan ceritanya. 

Secara tidak langsung, Young Lady menyisipkan lirik lagu di setiap cerita dan menambah video musiknya, bermaksud mengajak pembaca ikut menyanyi. Ayo kita nikmati cerita ini sambil bernyanyi bersama, begitu tujuan Young Lady. Akan tetapi, sering kali admin menghilangkan video musik itu. Anyway, Young Lady juga punya kelemahan: tak bisa embed video, hanya bisa mencantumkan linknya. Sering kali pula, linknya dibiarkan saja. 

Jarang Young Lady dibantu meletakkan video itu secara semestinya, bukan hanya linknya saja. Kalau sudah begitu, terasa sia-sia saja mencantumkan video musik di akhir tiap cerita selama setahun ini. Young Lady yakin seratus persen, takkan ada pembaca yang membuka video itu untuk sekadar mendengarkan lagunya sambil menikmati ceritanya. Pasti pembaca sudah terlanjur malas atau lupa mengklik video musiknya. Itu kalau linknya masih ada. Terlebih lagi jika linknya dihilangkan admin.

Ketiga, cemburu dengan penulis fiksi lain. Mungkin alasan ketiga ini berkaitan dengan alasan pertama. Ok fine, Young Lady memang tipe pencemburu. Sangat pencemburu malah. Tapi cemburunya hanya pada sesuatu atau seseorang yang dicintai. Menulis cerita termasuk sesuatu yang dicintai Young Lady. 

Berhubungan dengan subjektivitas admin dalam melabel pilihan suatu karya fiksi, Young Lady perhatikan admin lebih cepat memberi label pilihan pada cerpen/puisi karya para Fiksianer tertentu. Pernah Young Lady amati. Dalam waktu kurang dari 10 menit saja, karya mereka sudah dilabel pilihan. Cepat sekali, kan? Admin bisa mereview dan memutuskan sebuah karya fiksi dilabel pilihan hanya dalam waktu sesingkat itu. Namun, Young Lady rasakan, perlakuan istimewa itu hanya untuk beberapa Fiksianer tertentu. Especially buat Fiksianer yang pernah atau telah meraih nominasi The Best Fiction di Kompasiana Award saat Kompasianival. 

Selebihnya, Fiksianer lainnya tak mendapat perlakuan istimewa itu. Sebagai wanita cantik yang pencemburu, Young Lady jealous dong. Young Lady tak pernah ingin dan tak pernah berharap dinominasikan dalam kategori The Best Fiction. Sama sekali tidak. Memangnya siapa sih Young Lady? Tapi, Young Lady hanya berharap netralitas dan objektivitas di kanal fiksiana. That's all. Bagaimana kalau tidak ada yang perlu dianakemaskan? Bagaimana kalau para Fiksianer diperlakukan adil dan sama rata? Bisa kan, admin jangan pilih kasih?

Keempat, lelah menulis cerita karena statistik yang jauh. Jangan bilang Young Lady jenuh menulis cerita karena tak ada ide. Seriously, sudah ada banyak ide berlarian di kepala. Tinggal menuangkannya saja. Hanya saja, Young Lady terlalu lelah untuk merealisasikan ide-ide ttersebut menjadi cerita yang cantik. Lelah melihat statistik yang terbilang jauh antara cerita dan artikel non-fiksi. 

Antara produk fiksi dan non-fiksi di Kompasiana, sudah terasa beda jauh statistiknya. Young Lady merasakan statistik yang sedikit dan tidak seberapa bila menulis fiksi. Sebaliknya, statistik artikel non-fiksi cukup lumayan. Ini dilihat secara keseluruhan ya. Baik dari keterbacaan, vote, dan comment. Suka atau tidak, pastilah artikel non-fiksi yang lebih tinggi hitsnya dibandingkan fiksi. Nah, faktor itulah yang membuat lelah.

Kelima, lelah menanti sebuah jawaban. Ups, menanti sebuah jawaban? Kok kayak lagunya Padi yang jadi ost Ungu Violet? Ya, Young Lady lelah menunggu jawaban dari pihak tertentu. Dimana pihak-pihak yang dimaksud tengah memegang tulisan-tulisan cantik Young Lady. Sengaja Young Lady serahkan tulisan-tulisan cantik pada mereka untuk dimintakan pemecahannya demi mewujudkan sebuah target. So far, belum ada jawaban dari mereka. Young Lady jadi bingung dan tak tahu lagi harus bagaimana. Ternyata hal ini mempengaruhi mood menulis hingga ke titik terendah.

Keenam, kesepian. Nah, ini Young Lady banget. Kesepian karena tak ada yang mengerti, Kompasianers. Sudahlah, mengaku saja sama Young Lady. Di antara para Kompasianer yang mengikuti tulisan-tulisan Young Lady cantik selama setahun terakhir, pasti bingung kan? Pasti gagal paham, kan? Mengapa selalu menggunakan tokoh-tokoh yang hampir sama di tiap cerita? Mengapa mengangkat masalah dan latar belakang yang sama? Mengapa tokoh-tokohnya kebanyakan blasteran atau Non-Pribumi, tetapi Muslim? Hmmm, rasanya Young Lady sudah pernah jelaskan di sini:

Fiksi Selangkangan, Fiksi Religius, dan Pernikahan Tanpa Seks dan Surat Terbuka untuk Penerbit, Rumah Produksi, Kantor Perwakilan UNESCO Jakarta, dan Pemerhati Literasi

So, tidak perlu dijelaskan lagi kan? Tapi, sepertinya tak ada yang mengerti idealisme yang ingin ditumpahkan Young Lady dalam tiap cerita cantik. Perasaan tidak dimengerti, gagal dipahami, dan tidak dihargai inilah yang membuat Young Lady kesepian. Young Lady serasa menempuh jalan sunyi di ranah literasi karena membawa idealisme yang tidak dipahami. Rasanya Young Lady kesepian dan merasa tulisan-tulisan cantik ini tak berarti. Beginilah rasanya menempuh jalan sunyi.

Sampai tulisan cantik ini ditulis, Young Lady masih sangat jenuh. Belum menemukan suntikan semangat untuk membuat cerita cantik. Padahal, bulan ini adalah anniversarynya "Calvin Wan". Bulan Juli 2018, tepat setahunnya "Calvin Wan" hadir di Kompasiana. Anniversary kok malah jenuh dan kehilangan spirit?