Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Media

Jangan Cintai Aku Sebagai Kompasianer, Tanda Lelah dan Sikap Sempurna

24 Juni 2018   04:52 Diperbarui: 24 Juni 2018   05:33 741 27 16

Lelah itu manusiawi kan? Sangat manusiawi. Ibaratnya, lelah adalah sinyal yang dikeluarkan untuk memperingatkan daya tahan atau batas toleransi terhadap hal tertentu.

Ada yang mengungkapkan rasa lelahnya, ada pula yang tidak. Young Lady pribadi memilih takkan menunjukkannya bila tak perlu. Apa gunanya? Toh tidak semua orang peduli, toh tidak semua orang mengerti.

Namun, ternyata kemarin ada yang menunjukkannya di depan Young Lady cantik. Keberatankah? Ternyata tidak. Itu pun cara menunjukkannya tidak sengaja, Kompasianers.

"Apakah masih kurang? Bukankah sudah menyakitiku?"

Ya, hanya lewat ungkapan itu. Kesannya simple, hanya dua kalimat. Tapi tetap berefek panjang buat objek yang mendengarnya.

Si pengungkap rasa itu tak lain sebut saja "Calvin Wan". Baru kali ini ia ungkapkan begitu di depan Young Lady. Ada apa? Telah sampaikah di titik lelah? Barangkali, ini yang ditakutkan.

Belum cukupkah kau melukaiku? Mungkin secara tidak langsung, begitulah makna ungkapan lelahnya. Jadi, selama ini begitulah yang dirasakan. Entah mengapa, saat ia ungkapkan begitu, Young Lady malah ingat Jera Hatiku nya Bunga Citra Lestari. Rasanya lagu itu representatif sekali.

Lebih jauh ia katakan, sejak 6 bulan belakangan ini ia telah sangat, sangat membiasakan diri disakiti. Lantaran terlalu sering disakiti, muncul perasaan terbiasa dan mati rasa. Aneh sekali. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Adakah orang yang membiasakan dirinya disakiti sampai-sampai akhirnya mati rasa? Yang tadinya terasa sakit, kini tak terasa lagi?

Rasa sakit juga manusiawi. So, apakah mati rasa termasuk manusiawi?

Perlahan tetapi pasti, problema lain ikut terungkap. Lelah juga hadir dari persoalan-persoalan lain. Urusan bisnis yang sedang buruk, ditambah lagi masalah internal keluarga. Agak aneh juga cara seorang pria mengungkapkan rasa lelahnya. Lama sekali baru bisa diungkapkan.

Dan...Kompasianers tahu apa yang dilakukan Young Lady selanjutnya? Young Lady berusaha lebih mendekat padanya. Ini dorongan dari dalam. Motivasi terselubung dalam diri untuk berusaha selalu take action tiap kali ada yang menumpahkan bebannya. Kalian tahu? Young Lady cantik tak akan tega jika hanya diam saja saat ada orang yang menumpahkan bebannya pada Young Lady. Akan ada rasa berdosa jika tak ada perbuatan apa pun untuk mencoba meringankan. Bagi Young Lady, diam saat mendapati orang tertimpa kesedihan adalah dosa. Apatis dan ketidakpedulian adalah kesalahan. So, Young Lady tak mau lakukan itu. Ini ada hubungannya dengan tingkat kepedulian. Seberapa pedulikah kita?

Berangkat dari motivasi itu, Young Lady mencoba lebih dekat dengan "A Charming Angel With The Slanting Eyes". Young Lady mencoba lebih hangat. Bicara dengannya dari hati ke hati, walau sulit. Menunjukkan kepedulian dan empati tinggi yang tulus dari hati. Itu tak mudah, sangat tak mudah. Terlebih yang dihadapi ini pribadi yang introvert dan tergolong pemilih juga. Sikapnya benar-benar aneh kemarin.

Posisinya terbalik. Biasanya, Young Ladylah yang marah, merajuk, atau menebarkan virus-virus ketidakpercayaan. Kemarin, "Calvin" yang melakukannya. Wow wow wow, mudah sekali ya membalikkan keadaan.

Bahkan Young Lady sempat dibuat despered juga. Abisnya "Calvin" ini katakan, ini hanyalah sebuah proses. Memangnya dengan sekali kamu berbuat, aku akan langsung tegar? Begitu katanya. Luar biasa, pertama kali bicara panjang dan pertama kali memprotes kebaikan yang dilakukan dari hati.

Jadinya, Young Lady despered juga. Hopeless mulai menggerayangi. Ah, mungkin tak ada artinya. Mungkin apa yang dilakukan Young Lady tak ada artinya. Ya sudahlah, yang penting sudah take action. Ketidakpedulian jauh lebih mematikan dibanding gertak kemarahan. Walaupun endingnya pelukan, tetap saja ada yang mengganjal di sini. Sepertinya, kepedulian ini tak punya arti. Tapi akan lebih salah lagi bila sedikit pun sama sekali tak peduli. Apa lagi hanya Young Lady satu-satunya yang diberi tahu semua masalah internal yang terjadi selama bertahun-tahun ini. Parah sekali kalau sampai diam saja tanpa aksi.

Mungkin pelukan di akhir itu hanyalah formalitas belaka. Hanyalah kamuflase untuk menyenangkan hati. Ujungnya pasti tetap sama: perlakuan Young Lady tidak ada artinya. Hmmmm sedih ya jadi Young Lady. Sendiri, sepi, dan aksinya tanpa arti.

Jangan kira hanya "Calvin" yang lelah. Ternyata Young Lady berhasil dibuat lelah olehnya kemarin. Boleh kan Young Lady nyanyi lagunya Kumohon dari Afgan biar nggak terlalu lelah?

Apakah setiap pria begitu? Memandang usaha baik yang dilakukan wanita tak berarti di tengah rasa lelahnya? Kalau benar begitu, pria harus belajar lebih banyak lagi untuk menghargai usaha wanita.

Well, pangkal kelelahannya sudah lama. Pasti mulainya dari sikap Young Lady yang aneh-aneh. Terlebih sejak Young Lady melarang "Calvin Wan" membaca tulisan-tulisan cantik di Kompasiana. Iya, sudah sejak Mei lalu Young Lady melarangnya dengan tegas membaca artikel-artikel cantik di kamar Young Lady di rumah besar Kompasiana. Beberapa kali ia langgar larangan itu, dan Young Lady tidak suka. Ups, sebagai orang yang perfeksionis, Young Lady tak pernah suka bila aturan dilanggar.

Nah, Young Lady juga punya alasan untuk melarang "Calvin Wan" membaca tulisan-tulisan cantik. First, tak ingin ketakutan-ketakutan Young Lady terbaca olehnya. Boleh saja orang terbuka sama Young Lady. Tapi jangan harap Young Lady mau terbuka sama mereka. Termasuk orang-orang yang dekat sekalipun. Untuk sementara ini, biarkanlah saja Young Lady curahkan rasa takut lewat tulisan dan hanya diketahui sendiri. Young Lady tak ingin ketakutan-ketakutan ini terbaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2