Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ilmu Kehidupan Seorang Ayah

11 Juni 2018   05:00 Diperbarui: 11 Juni 2018   07:19 929 20 13

Tangan Silvi melayang ke atas meja. Gelas kristal, piring keramik, sendok, dan teko perak berjatuhan. Wajah cantiknya memerah karena marah. Safira bergerak ketakutan di kursinya.

Ini tak bisa dibiarkan. Dalam satu gerakan cepat, Calvin mengangkat tubuh Safira. Menggendongnya ke lantai atas. Sejurus kemudian ia kembali turun ke bawah menemui istrinya.

"Silvi, tolong jangan memperlihatkan momen pertengkaran di depan anak kita." bujuk Calvin sabar.

"Anak kita?! Kaubilang anak kita?! Anakmu sendiri saja sana! Kalau Safira anak kita, kau akan dengarkan laranganku! Calvin Wan, jangan pernah bawa Safira ke tempat itu!" teriak Silvi.

Tak takut mendengar teriakan istri cantik setengah bulenya, Calvin tetap sabar. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Silvi. Sukses membuat darah wanita blasteran Jawa-Belanda-Turki itu berdesir.

"Silvi, percayalah. Safira akan kujaga dengan baik selama di sana. Lagi pula, apa salahnya membawa anak kecil ke pasar tradisional untuk mengajarinya ilmu kehidupan?"

Silvi tertawa sinis. "Tidak ada pelajaran yang bisa diambil di tempat itu!"

"Hanya karena kamu dibesarkan dalam keluarga kaya sejak kecil, terbiasa mengunjungi spot-spot belanja mewah, bukan berarti tempat yang sederhana tidak ada nilainya."

Dengan geram, Silvi memukul meja makan di hadapannya. Ia tersinggung.

"Kamu mau menghinaku?! Kamu pikir, orang kaya seperti kita tidak baik dan amoral?!"

"Aku tidak pernah bilang begitu, Silvi. Aku juga sadar siapa aku. Terbiasa dengan kemudahan hidup sejak kecil, tapi aku tidak menutup mata. Masih banyak sisi kehidupan lain, masih banyak orang lain yang tidak seberuntung kita. Itulah yang ingin kutunjukkan pada Safira."

"No way! Pokoknya aku tidak mau Safira dekat-dekat tempat itu!"

Bagaimana ini? Perdebatan takkan selesai. Calvin Wan yang lembut dan penyayang versus Silvi Marisa yang keras kepala dan egois. Lagi, perbedaan prinsip menimbulkan keretakan.

"Kamu akan jahat sekali kalau membawa Safira ke tempat yang kotor, banyak penyakitnya, dan tidak aman! Rasakan kalau nanti anakmu diculik!"

Dalam hati Calvin beristighfar. Mengapa Silvi mendoakan hal buruk menimpa putrinya? Walaupun anak angkat, Calvin sangat menyayangi Safira. Mana mungkin ia biarkan anaknya disakiti orang jahat?

Perlahan Silvi memunguti peralatan makan di lantai. Dadanya naik-turun menahan emosi. Kesedihan dan kemarahan tertinggal di wajahnya.

"Coba saja aku mengasuh Safira bersama Al. Tentu takkan begini. Dia bisa berpikir lebih jernih darimu." Desahnya. Disambuti tatapan masygul Calvin. Rupanya Silvi masih mengingat mantan kekasihnya.

Raungan sirine pertanda Imsakiyah di kejauhan mengurai pertengkaran mereka. Namun, belum tentu berakhir dengan damai.

**      

Ada cinta yang sejati

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5