Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Lebih Baik Membantu yang Tidak Viral

30 Mei 2018   06:26 Diperbarui: 30 Mei 2018   07:28 406 14 9

Sudah tahu kisah si Alif kecil yang ingin makan ayam kecap dan minum susu kotak? Beberapa hari lalu, kisahnya viral di media sosial. Segera saja setelah kisah Alif viral, bantuan mengalir deras ke tempat tinggalnya di Tangerang.

Nah, lihat itu. Sesuatu yang viral, langsung saja dilirik banyak orang dan menarik puluhan bantuan. Actually, tulisan cantik ini lahir dari gemasnya hati Young Lady cantik. Gemas kenapa? Ya karena sesuatu yang viral itu.

Realitas sosial zaman now: baru mau peduli kalau sudah viral. Apa-apa harus viral. Semuanya harus viral. Mulai dari menu makanan, style berpakaian, sampai eksploitasi kemiskinan, pokoknya harus viral semua. Viral, viral, dan viral.

Sampai kapankah realitas sosial seperti ini akan berlaku? Apakah selamanya akan begitu, seperti lirik lagunya Tulus? Mudah-mudahan tidak.

Rasanya kalau tidak viral, tidak pantas dikenal. Kalau tak viral, tak usah dilirik ya. Apakah yang semua yang viral itu berfaedah dan layak dibantu?

Untuk menjadikan sebuah konten viral, harus melewati media sosial dulu kan? Zaman now, zaman serba medsos. Begitu juga bila ingin memviralkan sesuatu. So pasti harus melibatkan media sosial.

Masalahnya, di media sosial sudah terlalu banyak kepalsuan. Medsos sudah overload dengan konten-konten palsu. Seperti momen liburan palsu, kupon hadiah palsu, foto-foto palsu karena sebagian besar menggunakan aplikasi editing foto, berita palsu, dan status palsu...ups, itu sih lagunya Vidi Aldiano. Tapi beneran kok, ada status palsu. Statusnya di medsos single, available. Tahunya sudah taken. Parah kan?

Apa-apa yang diunggah ke media sosial sebagian besar berbalut kepalsuan. Belum tentu seratus persen benar dan valid. So, apakah yang viral itu juga belum tentu benar?

Bisa saja. Media sosial adalah lahan seluas-luasnya untuk menipu, mengingkari, memutarbalikkan fakta, dan menyebarkan kepalsuan. Jarang sekali ada pengguna media sosial yang benar-benar jujur dan tulus. Buat orang skeptis macam Young Lady, postingan-postingan di media sosial yang sudah kelihatan palsunya tak layak lagi dipercaya.

Ironisnya, justru mengumbar kepalsuan itulah yang justru dikejar banyak orang di era kekinian. Mulai dari generasi Z hingga X berlomba-lomba mengunggah sesuatu di media sosial dan berusaha memviralkannya. Ada yang beruntung, ada yang tidak.

Bicara soal beruntung, viral itu pun keberuntungan. Sampai sekarang Young Lady masih bingung. Mungkin ada yang bisa menjelaskan. Mengapa sesuatu bisa viral? Bagaimana cara memviralkan sesuatu? Konten-konten apa yang akhirnya viral?

Young Lady yakin, memviralkan sesuatu pasti ada trik tersembunyinya. Tak mungkin hanya mengandalkan keberuntungan. Lantas, triknya apa? Young Lady sama sekali tidak tahu.

Pertanyaannya sekarang adalah, manakah yang harus dipilih? Membantu yang viral atau membantu yang tidak viral? Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke Young Lady, jawabannya cukup satu: membantu yang tidak viral.

Jujur ya, kemarin itu Young Lady sempat tergerak menolong si Alif kecil. Tapi akhirnya tak jadi. Memang ini sesuai dengan target Ramadan Young Lady. Setelah dipikir lagi, Alif sudah banyak ditolong. Bahkan ia sudah bisa mencicipi ayam kecap dan susu kotak impiannya. Alif sudah viral dan mengundang simpati warganet.

Dari pada menolong Alif, lebih baik Young Lady tetap fokus saja di sini. Bantu saja yang tidak viral, atau yang tidak terekspos sama sekali. Mereka jauh lebih layak dibantu. Mereka sangat layak mendapat perhatian dan uluran tangan. Kan tidak viral. Kalau tidak viral, mana mau orang peduli?

Justru Young Lady ingin menyentuhkan tangan pada orang-orang yang kisah hidupnya tidak viral sama sekali. Orang-orang yang berjuang dan bertahan hidup di jalanan, mereka yang perjuangan hidupnya tidak tersentuh kilatan lensa kamera sekalipun. Merekalah yang ingin ditolong Young Lady.

Dari berita-berita di media yang mengulas kisah Alif, Young Lady menemukan fakta menarik. Sebelum kisah Alif diviralkan warganet bernama Tika Lestari, sudah ada orang yang lebih dulu tahu tentang dirinya. Orang itu membantu Alif agar bisa dikhitan. Bagaimana persisnya dan siapa namanya, Young Lady lupa. Sebab kemarin hanya membaca sekilas. Berarti sebelum viral, sudah ada yang bantu Alif kan? Tapi tidak viral.

Nah itu. Salahnya di situ. Apakah semua harus viral? Apakah menolong orang pun harus viral? Menolong orang lalu memviralkannya bisa-bisa menjadi riya', atau ajang pamer kebaikan. Okelah, Young Lady akui beberapa kali bercerita tentang kegiatan berbagi. Tapi, Young Lady sama sekali tidak ada maksud riya' atau ingin memviralkannya. Young Lady sekadar bercerita, bahkan tak ada foto-fotonya kan? Memang tidak pernah membawa gadget untuk berfoto selama berbagi. Lagi pula, buat apa memotret kegiatan berbagi? Memangnya fashion show atau photoshoot? Jalanan bukan catwalk. Ya hanya sekadar bercerita, sekadar curhat sama Kompasianers. Sama sekali tidak ada niatan memviralkannya. Berbagi, menolong orang, dan berbuat baik bukan diniatkan untuk mengundang pujian manusia. Tetapi semata hanya untuk Tuhan dan nilai kebaikan itu sendiri.

Honestly, sejak viralnya kisah Alif, Young Lady jadi kurang suka eksploitasi kemiskinan yang diviralkan. Kesannya kurang baik saja. Seakan hanya untuk mengundang perhatian orang lain, riya', dan bahkan mungkin rekayasa. Dari pada memviralkan kemiskinan, langsung saja bantu yang miskin itu. Tidak usah memviralkan dan terobsesi diviralkan. Sudah terlalu banyak kepalsuan di dunia maya. Jangan kita tambah lagi.

Kompasianer, setujukah kalian atau kalian punya pemikiran lain?