Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Media

Kompasiana Error, "Mood" Menulis Cantik Hilang

26 April 2018   06:00 Diperbarui: 26 April 2018   08:44 768 26 19

Actually, Young Lady masih betah menulis cantik di Kompasiana. Ibaratnya sebuah rumah besar, mewah, nyaman, bersih, dan indah, Kompasiana masih layak menjadi tempat yang nyaman ditinggali.

Sayangnya, senyaman-nyamannya rumah besar Kompasiana, ada saat dimana Young Lady dibuat kesal dan kehilangan mood dalam menulis cantik. Gegara kejadian error kemarin pagi. Mau login, begitu susahnya. Bukan susah login, melainkan setelah login, malah dinyatakan harus login lagi di Kompasiana. Masuk ke halaman dashboard pun tak bisa.

Alhasil, Young Lady cantik membuang waktu satu jam untuk mondar-mandir cantik di akun My Kompas. Lantaran tak bisa masuk akun lewat Kompasiana, Young Lady terpaksa login dan log out berulang-ulang lewat akun My Kompas. Begitu terus, dicoba selama satu jam. Dengan sabar. Dengan tangan Young Lady sendiri. Tanpa mengenal lelah. Never give up seperti lagunya Sia.

Finally, setelah dicoba berulang kali dan tanpa menyerah selama satu jam, berhasil juga masuk dengan cantik di K. Mungkin pintu Kompasiana sedang begitu sepi, sehingga harus diketuk dan dibuka sepenuh hati seperti lagunya Vidi Aldiano. Pelajaran berharganya, kemauan yang kuat pasti membukakan jalan. 

Young Lady punya kemauan yang kuat untuk menulis cantik di Kompasiana pagi itu. Yang di atas tak pernah tidur. Jalan terbuka untuk Young Lady cantik, walau harus dilakukan dengan sabar. Dan dengan tangan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Karena semua orang tak bisa dipercaya, khususnya laki-laki!

Sisi negatifnya, Young Lady kehilangan mood. Bad mood parah. Soalnya waktu posting yang idealnya tepat jam 6 pagi, jadi terlambat satu jam. Keterlambatan satu jam ternyata mempengaruhi mood. Sebagai gadis cantik yang perfeksionis, Young Lady terobsesi mengejar kesempurnaan. Segala yang dilakukan harus sempurna, tepat waktu, dan sesuai ekspektasi. Bila ada sedikit saja cacat dalam rencana, rasanya sungguh tak terkira.

Mungkin kesannya sederhana. Hanya menulis cantik di K. Tapi tetap saja, sifat perfeksionis memaksa Young Lady untuk mengejar kesempurnaan dan sesuatu yang cantik. Mengingat menulis cantik setiap pagi di Kompasiana sudah menjadi bagian dari rutinitas Young Lady, berarti akan ada aturan rutinitas yang terlanggar bila terlambat atau tidak publish sama sekali. Lagi, efek bawaan perfeksionis.

Satu lagi yang tak kalah mengecewakan: laki-laki tak bisa dipercaya. Kejadian kemarin makin menguatkan Young Lady untuk skeptis pada makhluk Tuhan bernama laki-laki. Seperfeksionisnya Young Lady, kalau orang-orang yang disayang/dicinta butuh Young Lady, maka hati ini akan lunak. Mengalah sejenak dari kekangan rutinitas dan ambisi mengejar kesempurnaan. 

Kalau yang terjadi kemarin, lain ceritanya. Young Lady jadi kecewa dan makin tidak mau berharap lagi dengan laki-laki mana pun. Dimintai uluran tangan untuk hal kecil saja sudah begitu, apa lagi untuk hal besar. No way!

Kemarin, dengan waktu yang terbuang satu jam, dengan tangan Young Lady sendiri, tulisan cantik berikut vlognya terposting. Tapi posting cantiknya dalam keadaan kesal. So, berasa hasilnya tidak total. Tidak maksimal. Tidak memuaskan. Mood hilang seketika. Kesempurnaan yang ditargetkan tak terkejar. Dan lebih lagi, tak usah lagi mengandalkan makhluk Allah bernama lelaki!

Ternyata, errornya Kompasiana bisa bikin bad mood juga. Tulisan cantik ini pun tidak dibuat dalam keadaan mood yang baik. Masih tersisa rasa kesal bercampur skeptis. Jangan-jangan nanti error lagi. Penyakitnya K kambuh lagi...hmmmm. Awalnya sudah membuat tulisan dengan penuh antusias, tahunya platform yang dituju malah error dan seakan memberi penolakan. Bagaimana tidak bad mood?

Jangan salahkan sifat perfeksionis. Sudah jadi sifat natural yang sulit, sulit, bahkan mustahil dihilangkan. Sedikit saja ada yang kurang sempurna, rusaklah perasaan itu. Parahnya, kasus laki-laki tidak bisa dipercaya, diandalkan, dan dipercaya terulang lagi. Sudahlah, tak usah lagi percaya dengan mereka. 

Perempuan bergerak sendiri saja. Dari hal-hal kecil, bisa bercermin kalau laki-laki itu memang parah dan tidak bisa diharapkan. Apa lagi mengharapkan hal besar semacam melamar, menikahi, atau memimpin keluarga. Ah, jangan harap. Hanya Nabi Muhammad yang bisa begitu. Laki-laki lainnya, tidak ada.

Kejadian kemarin makin menguatkan alasan Young Lady cantik untuk tidak menayangkan ending Melodi Silvi. Biarlah kalau yang masih penasaran, simpan dulu rasa penasaran itu. Itu pun kalau ada yang peduli. Toh tak ada yang peduli. Jangankan peduli, mengerti style Young Lady saja tidak. Young Lady sudah jera, seperti kata Bunga Citra Lestari dalam lagunya. Ingin pergi, tapi tak bisa. Hatiku masih milikmu. Sama kok, Sayangku, Cintaku, Kasihku. Hatiku masih milik Kompasiana.

Sudahlah, Young Lady lelah. Sebelum tarik selimut dan tidur dengan cantik layaknya Snow White atau Aurora-berarti harus nunggu Prince Charming dong baru nanti bangun lagi-biar lebih puas lagi, Young Lady sisipkan link vlog narasi Melodi Silvi. Dengan gaun hitam potongan sabrina, Young Lady cantik menarasikan kisah Melodi Silvi dengan cantik.

**