Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Melodi Silvi] Prinsip Mengekang Ambisi

17 April 2018   05:48 Diperbarui: 17 April 2018   06:08 307 22 8

Sepertiga malam, hujan turun begitu lebat. Petir menggelegar berulang kali. Membuat orang-orang kian pulas dalam tidur mereka. Bertolak belakang dengan Calvin.

"Silvi...Ayah rindu Silvi. Ayah bukan pembunuh Uncle Adica, Silvi."

Dalam tidurnya, Calvin menyebut nama Silvi. Semenit. Dua menit. Tiga menit, ia terbangun. Merasakan rasa sakit bercampur rasa dingin menjalari sekujur tubuhnya. Ingatan itu muncul lagi.

Demi melampiaskan pedih hatinya, Calvin beranjak. Meraih remote AC dan mematikannya. Lalu mengambil wudhu. Time to pray, bisik hati kecilnya.

Sepuluh rakaat shalat Tahajud dan tiga rakaat Witir dijalaninya dengan khusyuk. Kedua ginjalnya meneriakkan protes, lelah karena tuannya duduk, sujud, dan berdiri berulang kali. Namun Calvin tak peduli. Beribadah pada Allah tetap prioritas utama.

Tengah menyelesaikan zikirnya, Calvin merasakan sesuatu. Ternyata bibirnya berdarah. Terpaksa ia menyudahi zikirnya. Menyeka bibirnya, sedikit terbatuk. Rindu ini membuat sakitnya makin berat. Rasa bersalah ini menyeretnya dalam kesakitan dan kesedihan. Calvin merasa kesakitannya tak ada apa-apanya dengan rasa sakit Adica, kesedihan Silvi, dan kehilangan Syifa.

**      

Meski tidak membeda-bedakan konsumennya, jaringan supermarket satu ini membidik konsumen kelas menengah ke atas. Beberapa tahun lalu, Calvin sempat menargetkan 40% konsumennya dari kalangan expatriat dan jet set. Meski begitu, bukan berarti konsumen lokal dan menengah ke bawah dikesampingkan. Bukan Calvin Wan namanya kalau tidak bisa adil dan anti diskriminasi.

Namanya manusia, selalu saja merasa tak puas. Buktinya pagi ini Calvin mendapat keluhan dari konsumennya. Dari pakaiannya, kelihatan jika perempuan usia awal 40-an yang mengeluh itu bukan orang kaya. Barang belanjaannya pun sedikit.

"Harga barang-barang di sini terlalu mahal," keluhnya to the point.

Calvin tetap tersenyum dan sabar mendengarkan, tangannya cekatan mengoperasikan mesin cash register. Perempuan di depannya kembali mengomel panjang lebar.

"Makanya saya nggak bisa sering belanja di sini. Memangnya, berapa sih gaji buruh pabrik kayak saya? Tapi, anak saya ini suka banget ke sini. Tempatnya nyaman katanya. Bersih, AC-nya terasa sejuk, dan musiknya bagus...hmmmm. Supermarket ini Cuma buat orang kaya ya. Nggak pernah berpihak buat orang miskin kayak saya."

Mendengar customer berkata buruk tentang supermarketnya, Calvin tetap sabar. Tidak tersinggung, tidak pula marah. Sejurus kemudian si customer melambaikan tangannya ke sebuah rak.

"Aneh juga supermarket ini. Belum juga Lebaran, baru beberapa minggu lagi masuk Ramadhan, sirup dan kue kering sudah dipajang. Pembodohan dan pemaksaan biar pembelinya jadi konsumtif ya?"

Beberapa karyawan melotot. Amat kontras dengan Calvin yang tak melepaskan senyum menawan dari wajah tampannya. Perempuan itu sudah keterlaluan.

Usai melayani perempuan pemaki itu, Calvin bertemu Gloria. Wanita tua pengidap Alzheimer yang disayanginya itu melenggang anggun menghampirinya. Sikapnya normal hari ini. Di tangannya terdapat buku catatan. Buku yang diberikan Calvin untuk mencatat banyak hal.

"Ibu Gloria, selamat pagi." sapa Calvin hangat.

Gloria tersenyum. Menceritakan kalau kini ia sudah bisa membedakan mana sayuran mentah dan mana yang sudah diolah. Calvin senang sekali mendengarnya. Lembut dituntunnya Gloria ke bagian belakang supermarket. Mengambilkannya sebotol susu favoritnya. Seperti biasa menggratiskan produk itu untuknya. Lalu diantarnya Gloria kembali ke panti jompo. Begitu terus, rutinitas biasa namun mengandung nilai kebaikan. Menuai kekaguman para karyawan.

Hingga waktu Zuhur, Calvin menuntaskan penyamarannya. Setelah itu ia kembali memakai jas Versacenya. Memimpin rapat, mendengarkan strategi promosi yang diusulkan untuk menarik konsumen jelang Ramadhan. Menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tetiba saja, tergerak hatinya untuk mengecek langsung display barang-barang. Seolah mendapat pertanda.

Calvin berkeliling dari satu rak ke rak yang lain. Berharap kekhawatirannya tidak benar. Kakinya membawanya ke counter daging dan makanan beku. Di sana, langkahnya terhenti. Sempurna terhenti melihat keganjilan. Tak hanya daging sapi dan ayam yang berjajar rapi, tetapi juga daging babi. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Calvin beristighfar dalam hati.

"Pak Calvin, Anda baik-baik saja?" tanya seorang karyawan dengan cemas.

"Apa itu? Jelaskan pada saya, kenapa barang itu bisa ada di sini." kata Calvin dingin.

Atmosfer ketegangan melingkupi supermarket. Klarifikasi diungkapkan. Ternyata ada kekeliruan besar. Konspirasi, hasutan, dan upaya menjatuhkan dari kompetitor. Ada permainan pula dengan suplier. Tawaran datang menggoda, menggoyahkan prinsip supermarket halal yang berulang kali dipropagandakan Calvin. Praktis si komisaris utama amat kecewa.

"Sampai kapan pun, tidak akan ada daging babi, minuman alkohol, dan produk non halal lainnya di supermarket saya." ujar Calvin tegas.

"Tapi Pak, katanya omset kita akan semakin tinggi kalau..."

"Janji menggiurkan tidak akan mengubah prinsip saya. Ini supermarket halal. Ok, saya memang suka membantu keluarga dan orang-orang Non-Muslim. Tapi kalau sudah menyangkut prinsip halal dan haram yang menyangkut bisnis milik saya, tidak akan bisa diganggu gugat. Toleransi tetap ada batasnya."

Cepat-cepat Calvin mengecek ulang display barang-barang di gerainya yang satu ini. Ia makin kalut dan kecewa mendapati kornet dan sosis babi dipajang di dekat makanan berlabel halal. Tak mau membiarkannya lebih jauh, Calvin mengambil troli. Gesit mendorong troli ke counter daging. Turun tangan langsung tanpa meminta bantuan karyawannya, Calvin sendiri yang memindahkan produk-produk non halal berbahan daging babi itu ke dalam troli. Memindahkannya, lalu membuangnya. Ia lakukan sendiri, diliputi rasa kecewa karena prinsipnya ditelanjangi.

Momen si pengusaha tampan mengangkut daging babi dengan troli segera saja menjadi viral. Banyak netizen memuji Calvin, banyak pula yang memberinya kritikan pedas. Calvin hanya ingin menekankan, toleransi pun berbatas.

**       Jika Calvin berkutat dengan urusan daging babi, Anton terperangkap di tengah keluarganya. Keluarga yang mengagung-agungkan darah biru. Andai ia boleh memilih, ia takkan datang ke reuni keluarga. Terkesan pamer kemesraan, pamer kemewahan, dan buang-buang uang. Bertempat di Sheraton Bandung Hotel and Tower, hampir seluruh keluarga hadir mengenakan seragam. Pakaian khusus dari bahan dan warna yang sama, sengaja disiapkan untuk reuni keluarga.S

Anehnya, Anton satu dari sedikit anggota keluarga yang tidak mendapat pakaian khusus. Anton terkucil di keluarganya sendiri dan dianggap pengkhianat karena sama sekali tidak bangga akan kebangsawanannya. Pria tampan pemilik restoran itu kesepian dan terasing. Untunglah ia bersama Luna, malaikat kecil yang membuatnya bertahan dan bahagia. Tak satu pun anggota keluarga yang mengajaknya bicara, namun Anton stay cool. Toh ada Luna di sisinya.

"Awas hati-hati, Sayang. Nanti bajumu kotor," Anton lembut membantu Luna memakan pudingnya.

Biarlah semua membencinya, mengucilkannya. Asalkan Luna di sampingnya. Tanpa diduga, Tuan Sulistyo menghampirinya. Mengulurkan sebentuk jepit rambut. Jepit rambut berbentuk bintang milik Luna. Anton sedikit kaget dengan sikap Papanya.

Tuan Sulistyo duduk di sampingnya. "Kapan kamu menikah? Lihat sepupu-sepupumu...mereka sudah menikah dan punya pasangan. Bahkan kakakmu sudah rujuk lagi dengan suaminya."

"Kalau aku tidak menikah, apa aku akan mati? Aku tidak akan menikah, Pa. Fokusku hanyalah Luna."

Mendengar itu, Tuan Sulistyo tertegun. Sadar betul putra bungsunya sangat teguh memegang prinsip. Selibat demi mengurus keponakan, sebuah pilihan mulia. Ia akui hal itu. Pilihan mulia dari seorang anak yang dianggapnya pembangkang, tidak tahu diri, bodoh karena tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali, dan sangat kebarat-baratan. Anak yang pernah ia benci dan ia banding-bandingkan dengan kejam. Di depannya, kini justru anak bungsu yang paling rupawan dan baik hati itulah, yang sering terkucil itulah, yang paling tidak egois. Tidak pernah mementingkan dirinya.

"Altruist sejati..." bisik Tuan Sulistyo tanpa sadar.

Ayah dan anak itu bertatapan. Tanpa kata, lewat tatapan mata, konflik mereka berakhir. Ketegangan di antara mereka terurai. Nyata sekali Tuan Sulistyo terharu pada ketulusan anaknya.

"Daddy...shall we go now? Luna pengen pulang, Luna nggak betah di sini. Orang-orang di sini bicara aneh, bahasanya nggak bisa dimengerti." Luna merajuk manja. Sekarang ia leluasa memanggil Anton dengan sebutan Daddy. Anton tersenyum lembut, lalu menggendongnya.

"Papa lihat kan? Luna membutuhkanku. Jika aku menikah, aku takut tak bisa selalu ada untuknya. Biarlah aku hidup tanpa istri dan tanpa keturunan asalkan masih bisa bersama Luna."

Setelah berkata begitu, pria muda blasteran Jawa-Belanda itu meninggalkan hotel. Ia tak tahu, Tuan Sulistyo tergugu. Menyeka matanya, terharu akan prinsip yang dipilihnya. "Raden Anton Surya...ik hou van jou."

Sayangnya, Anton tak mendengarkan kalimat tulus ayahnya. Ia telah jauh berjalan ke halaman parkir. Mengemudikan mobilnya, setelah mendudukkan Luna di sampingnya dan memakaikan safety belt. Di tengah perjalanan, Anton tersadar. Ternyata gaun Luna kotor. Dihentikannya Mercy di depan minimarket. Disambuti tatapan penuh tanya dari Luna.

"Daddy, kenapa kita ke sini?" Luna bertanya penasaran.

"Daddy mau beli sesuatu, Sayang. Is it ok? Wait..."

Dibelinya tissue dan hand sanitizer. Ia pun membelikan coklat, susu, dan beberapa makanan ringan kesukaan Luna. Mata Luna berbinar senang melihat makanan ringan favoritnya.

"Wow, thanks Daddy." Luna berjingkat, mencium pipi Daddynya.

Dengan lembut, Anton membersihkan pakaian Luna. Membantunya mencuci tangan.

**      

Deras hujan yang turun

Mengingatkanku pada dirimu

Aku masih di sini untuk setia

Selang waktu berganti

Aku tak tahu engkau dimana

Tapi aku mencoba untuk setia

Sesaat malam datang menjemput kesendirianku

Dan bila pagi datang

Ku tahu kau tak di sampingku

Aku masih di sini untuk setia (Jikustik-Setia).

**       

Derasnya hujan tak mematahkan niat Syifa. Mercy Mansion San Diego Hills ia datangi. Seminggu sekali Syifa menziarahi makam pria belahan hatinya.

"Adica, aku merindukanmu. Aku ingin dekat denganmu, tapi tak bisa. Tangan Allah membuat aku dan kamu begitu jauh." bisiknya, lembut membelai dan mengecup pusara itu.

"Anak-anak kita benar. Aku justru mengkhianati cintamu dengan menjadi istri palsu. Berpindah dari pelukan satu jet set ke pelukan jet set lainnya. Maafkan aku, Adica. Maafkan aku."

Air mata Syifa turun bersama air hujan. Seraut wajah tampan yang amat dirindukannya kembali terbayang. Ibu guru cantik sekaligus sosialita itu sangat mencintai suaminya.

"Kautahu, Adica Sayang? Banyak dari konglomerat yang mengontrakku itu pada akhirnya benar-benar melamarku. Mereka ingin menjadikanku istri, entah istri pertama, kedua, bahkan ketiga. Tapi aku tak mau. Aku tak ingin mengkhianati janji kita. Kau meninggal lebih dulu, Adica. So, aku tidak akan menikah lagi."

Pipi wanita itu kembali dibasahi air mata. "Berat sekali hidup tanpamu. Kutata kembali kepingan-kepingan jiwaku dengan susah payah setelah kau pergi. Bahkan aku sempat berpikir, tak ada gunanya hidup mewah bila tanpa hadirmu. Aku kesepian, Adica. Hidupku serasa tak berarti."

Hujan kian deras. Tanpa petir, namun langit sangat kelam. Sekelam hati wanita kaya yang kesepian ini.

"Adica Wirawan...I love you. Ich liebe dich. Ik hou van jou. W i n. Seni seviyorum."

Terkadang, mempertahankan prinsip jauh lebih sulit. Sering kali prinsip meendapat banyak ujian. Kesetiaan, itulah kuncinya. Setia pada prinsip, sekalipun banyak godaan di depan mata. Syifa, Anton, dan Calvin cerminan orang-orang hebat yang mengekang ambisi dan kenikmatan sesaat demi mempertahankan prinsip.

**       

https://www.youtube.com/watch?v=V6juXhlFbCU