Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Muda

Menertawakan Para "Single", Bukan Tindakan Bijak

14 Maret 2018   05:38 Diperbarui: 14 Maret 2018   05:59 871 22 17

Bukan hal baru ketika dosen membawa-bawa masalah cinta, relasi, dan pernikahan dalam candaannya. Jika memang lucu, banyak yang akan tertawa. Bila tak lucu, cukup lempar senyum menghargai.

Candaan tentang cinta terulang lagi di perkuliahan kali ini. Tak hanya cinta. Perkara single pun terbawa.

Ketika persoalan single terangkat ke permukaan, banyak mahasiswa tertawa. Sedikit yang tidak tertawa. Young Lady termasuk di antara golongan yang sedikit itu.

Tetiba saja, seorang pemuda yang punya pasangan, dan kebetulan kekasihnya satu kelas, menunjuk teman satunya yang masih single. Seraya menunjuk, dia tertawa dan berkata.

"Jomblo..."

Pemuda satunya yang ditunjuk-tunjuk tidak tertawa. Ia justru tersinggung. Sementara yang lain ikut tertawa, Young Lady cantik dan pemuda yang kena korban itu diam saja. Young Lady pasang ekspresi dingin dengan cantik. Angkuh dan tanpa senyum.

Usai perkuliahan, Young Lady buru-buru bangkit. Bertolak pinggang, lalu bergegas meninggalkan kelas. Muak dengan kelas yang berisi orang-orang yang suka menertawakan kehidupan orang lain. Beberapa waktu lalu menertawakan anak disabilitas. Sekarang menertawakan para single.

Jelas saja Young Lady muak. Berjalan cepat dengan tangan di atas pinggang, Young Lady pelototi semua orang yang berpapasan hingga mereka ketakutan. Ketika pintu lift terbuka, dan orang-orang yang keluar dari lift terlalu sibuk bercanda atau tertawa, Young Lady injak kaki salah satunya. Lempar tatapan dingin, hingga akhirnya mereka semua takut dan mengucapkan permintaan maaf.

Bijakkah menertawakan para single? Tidak bijak menurut Young Lady. Ada beberapa alasan mengapa seseorang pada akhirnya sendiri saja atau single.

Pertama, pilihan. Alasan untuk memilih single pun bermacam-macam. Entah karena mengejar karier, fokus dengan studi, atau terikat perintah agama yang mengharuskan demikian. Misalnya para biarawan-biarawati, Pastor, Frater, Bruder, Bhiksu, dan Bhiksuni. Demi menjadi pelayan Tuhan, mereka rela single sepanjang hidup.

Kedua, takdir. Manusia memang diciptakan berpasang-pasangan. Tiap orang memiliki jodohnya. Namun, perkara jodoh ini macam-macam ceritanya. Bagi orang yang sudah meninggal sementara ia belum menikah, jodohnya telah dipersiapkan di akhirat. Ada pula yang jodohnya sudah mati sebelum ia lahir, dan ia akan dipertemukan dengan jodohnya di akhirat nanti. Selain itu, ada yang jodohnya baru lahir bertahun-tahun setelah ia hidup. Lalu seiring bergulirnya waktu, takdir mempertemukan mereka dalam rentang usia yang cukup jauh.

Ketiga, terlalu picky. Ya, single bukan berarti tak laku. Bisa saja ia terlalu picky. Atau bahkan, terlalu perfeksionis. Terobsesi memiliki pasangan yang sempurna, namun ia tak mendapatkannya. Sementara hidup dan dirinya tergerus usia. Bisa saja banyak yang menyukainya lantaran ia cantik/tampan, sukses, mapan, dan tergolong high quality single. Karena terlalu picky, ia gagal mengubah statusnya dari single jadi taken.

Keempat, trauma dengan masa lalu. Istilah lainnya belum move on. Bertahun-tahun terperangkap dalam bayangan masa lalu, ia memilih single. Seperti lagunya Isyana Sarasvati, ia masih berharap sosok yang dicintainya akan kembali suatu saat nanti. Sisa hidupnya dihabiskan sendiri. Bila pun menemukan seseorang yang berhasil menggetarkan hatinya, ia berpura-pura menganggapnya sebagai kakak atau adik. Sebuah modus lama yang klise dan cheesy.

Kelima, alasan kesehatan. Bisa saja karena memiliki penyakit berat macam kanker atau penyakit katastropik lainnya. Bisa pula ia divonis infertilitas saat masih muda. Ah, ini mengerikan sekali bila benar-benar terjadi. Lalu, karena tak ingin membuat siapa pun ikut menderita bersamanya, single adalah keputusan terbaik. Lebih baik hidup sendiri dibandingkan harus membuat orang lain ikut menderita.

So, menjadi single bukan berarti tak laku. Bukan berarti tak ada yang menginginkan atau mencintai diri kita. Namun ini soal pilihan, kondisi, dan takdir.

Lagi pula, belum tentu yang punya pasangan terjamin akan bahagia selamanya. Akhir kisah bercirikan happily ever after itu sangat sulit dicari. Nah, terkadang perlu bertahun-tahun menjadi single selama proses pencarian menuju akhir kisah yang bahagia.

Sebelum menertawakan status single yang dialami seseorang, pahami dulu alasannya menjadi single. Kalau bisa, janganlah menertawakan. Dari pada menertawakan, mengapa tidak dibantu dan disupport saja? Atau minimal jangan menyakiti bila pun tidak mampu menolong atau mensupport.

Membangga-banggakan diri sendiri, menutupi kekurangan diri, dan melebih-lebihkan kekurangan orang lain. Itulah sifat natural kebanyakan manusia. Menertawakan orang yang masih single, sementara diri sendiri sudah punya pasangan. Sama saja seperti menutupi kekurangan diri sendiri.

Adakah yang sempurna di dunia? Mungkin saja para high quality single ini hidupnya sukses, terkenal, berprestasi, tapi masih sendiri karena terlalu sering disakiti. Siapa tahu high quality single ini punya wajah rupawan, karier bagus, otak pintar, dan sejumlah prestasi...misalnya seperti Young Lady ini....ups. Namun hidupnya masih saja sendiri. Sedangkan di sisi lain, orang yang sudah punya pasangan hidupnya sulit. IQ EQ SQ rendah, penghasilan minim, atau sering bertengkar dengan pasangannya.

Tidak ada jaminan bahwa orang yang cepat punya pasangan hidupnya bahagia dan sejahtera. Semuanya kembali ke masing-masing individu. Tak tertutup kemungkinan yang memutuskan single hidupnya bahagia dan kaya. Lantaran single, tak perlu lagi mengalokasikan budget untuk pasangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2