Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Spesial] Mata Pengganti, Pembuka Hati: "Happy Monday, It's a Lovely Day"

12 Februari 2018   05:52 Diperbarui: 12 Februari 2018   06:03 809 16 10
[Spesial] Mata Pengganti, Pembuka Hati: "Happy Monday, It's a Lovely Day"
Ilustrasi: Shutterstock

Sayangnya, Silvi tak pernah percaya. Gadis cantik blasteran Sunda-Inggris itu gelisah. Hatinya dicengkeram resah.

"Andai saja aku bisa melakukannya sendiri..." desahnya.

"Aku tidak akan mempercayakan uangku untuk dipegang olehnya. Bahkan pada saudaraku sendiri, persoalan uang dan bisnis, aku tak pernah percaya."

Semua ini gegara saham dan butik. Silvi tak pernah mempercayai siapa pun untuk membantunya mengelola butik, saham, dan harta simpanannya. Namun sang ibu menyuruhnya mempercayakannya pada Sarah, kakak sulungnya. Dengan terpaksa, Silvi menurut. Meski hatinya menerbitkan secercah keraguan.

Di dalam kamarnya, gadis itu berjalan memutari ruangan. Resah dan bertanya-tanya. Apa yang harus ia lakukan? Bijakkah keputusannya menuruti Mamanya? Sejak dulu, Silvi tak pernah menyukai Sarah dan Clara. Tak pernah dekat, tak pernah terbuka. Lalu, tetiba saja, ia serahkan persoalan bisnis untuk dikelola perempuan yang tidak pernah ia percaya.

Hujan menerpa kaca jendela. Tetes-tetes dinginnya berhamburaan menjatuhi halaman berumput. Langit gelap berselimutkan awan Nimbus. Suram, sesuram hati Silvi.

Sepi mengurungnya rapat-rapat. Silvi menggigiti bagian dalam pipinya. Tidak, ia bisa diam terus begini. Ia harus melakukan sesuatu.

**      

Berada di dekat pria tampan berwajah oriental ini membuat hati Silvi berdesir. Dinginnya hujan di luar sana terkalahkan dengan kehangatan yang menyelimuti jiwa. Silvi berpelukan dengan pria tampan berjas dan berdasi hitam itu. Merasakan wangi Blue Seduction Antonio Banderas berpadu dengan wangi parfumnya sendiri.

"Calvin, you know I love you." bisiknya.

"I see." Bibir Calvin bergerak perlahan, membentuk dua kata itu.

Dikecupnya puncak kepala Silvi. Dibelainya rambut panjangnya yang tergerai lurus. Sepasang model cantik dan tampan yang sering terlibat pemotretan bersama, berpelukan erat. Hati mereka terpagut cinta.

"Aku jenuh dengan keadaan rumahku," desis Silvi. Mendekatkan wajah, menikmati ketampanan Calvin dari dekat.

"Kenapa?"

"Pernikahan bodoh itu. Lalu..."

"Lalu?"

Calvin menunggu dengan sabar. Satu tangannya mengelus kepala Silvi.

"Aku menyesal telah menitipkan semuanya untuk diurus perempuan yang katanya saudaraku itu. Aku tidak mempercayainya, Calvin."

"Maksudmu Sarah? Kenapa tak percaya?"

Menghela nafas sejenak, Silvi menjawab. "Mana mungkin aku mempercayakan harta dan urusan bisnis pada perempuan yang akan menikah? As you know, perempuan yang akan menikah menjadi sangat egois."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4