Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Surat Terbuka untuk Mereka: Saya Mendengarkan dengan Sabar

11 Februari 2018   06:44 Diperbarui: 11 Februari 2018   08:13 668 21 17
Surat Terbuka untuk Mereka: Saya Mendengarkan dengan Sabar
Ilustrasi: www.stihi.ru

Surat cantik ini hanya ungkapan perasaan Young Lady saja. Tak satu pun teman sekelas yang tahu tentang Kompasiana.

**      

Paris van Java, 10 February 2018

Dear all my classmates,

Banyak keganjilan yang saya temukan dalam diri kalian. Raut wajah manis yang tersembunyi di balik hati yang sulit ditebak. Sikap manis yang dipaksakan.

Actually, kalianlah satu dari beberapa alasan terbesar yang membuat saya ingin angkat kaki dari tempat itu. Sikap kalianlah yang menciptakan atmosfer yang jauh dari kata nyaman. Rasa ingin meninggalkan terus mendesak hati tanpa henti.

Kesan saya tentang kalian hancur berantakan. Awalnya melihat kesan baik terhampar di depan mata. Kini semuanya terurai lepas.

The freaky class, boleh saya katakan begitu. Isinya anak-anak yang hanya dewasa secara fisik dan hormonal, namun tidak secara psikis dan mental. Terbukti dari teguran yang dilayangkan para dosen pada kalian minggu lalu. Ketika salah satu dari kalian tersenyum meremehkan ketika pemberian materi dilakukan. Kalian tahu? Sesungguhnya kelas kalian sedang diawasi oleh banyak dosen. Saya tahu itu, saya dengar dan ketahui semuanya.

Saya sebut itu kelas kalian, bukan kelas kita. Sebab diri saya enggan tergabung dengan kalian. Secara tidak langsung, diri dan jiwa saya terpisah dari kalian.

Sebenarnya, semua ini pun karena ulah kalian sendiri. Dimulai dari cinta lokasi. Pacaran dengan teman sekelas, berkubu-kubu, bla bla bla. Ujung-ujungnya ada yang putus dengan tidak baik-baik lalu bermusuhan. Itulah akar permasalahan. Sejak semester 1 hingga semester 6, sudah tergelar berulang kali drama cinta cheesy dan murahan di kelas kalian. Kalian pikir saya iri? Tidak, sama sekali tidak iri. Silakan saja bila seluruh gadis dalam kelas kalian ditaksir seluruh pemuda dalam kelas yang sama, dan menyisakan saya sendiri yang tidak dilirik. Itu artinya, saya jauh lebih baik dan high quality dari kalian, sehingga tidak ada yang sanggup dan berani melirik. Positif saja.

Namun, itulah yang menjadi sorotan para dosen. Secara implisit, ada kritik tersembunyi pada sikap-sikap yang berlebihan. Pamer kemesraan di kelas, sementara perkuliahan sedang berlangsung. Hingga mereka semua tahu dan jadilah poin yang tersorot.

Ditambah lagi kubu-kubu yang tercipta. Itu satu poin lagi yang layak disesalkan. Grup dan candaan di dalamnya hanya kamuflase. So, saya tidak pernah terlarut bersama kalian. Sepi di tengah keramaian, itulah yang saya rasakan.

Jangan heran bila saya tak pernah terlibat momen-momen kebersamaan dengan kalian. Seperti waktu program field trip semester lalu, saya lebih memilih pergi sendiri ditemani kedua orang tua saya yang over protektif dan mengaku punya persediaan kasih yang super super banyak. Mana mungkin saya dibiarkan bersama kalian yang jelas-jelas punya ego yang tinggi dan cenderung individualis?

Ok fine, beberapa di antara kalian ada yang kelihatannya lumayan. Good looking, bisa dipercaya untuk beberapa hal, dan bukan penggosip. Namun tetap saja saya temukan ketidakcocokan yang membuat saya menjauh. Kesempurnaan sejati memang sulit dicari, tetapi saya pikir kita bisa mengejarnya hingga mencapai titik yang paling mendekati kesempurnaan sejati.

Bukan hanya saya yang menaruh pandangan seperti ini. Seorang senior cantik yang dekat dengan saya, dan mengambil kelas dengan kalian pun berpendapat serupa. Bukan kelas yang wellcome, begitu katanya. I agree with her.

Honestly, tak saya temukan sedikit pun kenyamanan. Kebaikan dan keramahan yang kalian pertontonkan di depan wajah saya hanya semu. Kepura-puraan, entah karena rasa iba, ingin memanfaatkan, atau mengambil hati. Sebab kalian tahu siapa saya.

Saya ada ketika kalian mendapat masalah. Saya bantu semampunya ketika kalian meminta. Saya dengarkan dengan sabar ketika kalian dibutuhkan. Tapi, sebaliknya?

Ketika saya sedih, apakah kalian ada di samping saya? Ketika saya tertimpa masalah, apa tangan-tangan kalian hadir untuk menguatkan? Saya ingat, salah satu dari kalian pernah berkata,

"Kamu bijak...pasti bisa mengatasi masalah kamu sendiri. Udah ya, bye."

Begitu...itu tepat beberapa menit sebelum saya peluk potret seorang pria muda tampan calon rohaniwan yang masih saya cinta hingga detik ini. Kalian tinggalkan saya, kan? Kalian tak tahu kan, saya saat itu sedang terluka dan patah hati?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2