Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Spesial] Mata Pengganti, Pembuka Hati, Ikhlas

13 Januari 2018   06:04 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:00 589 8 5

"Calvin, ini apa?"

Perlahan-lahan, wanita cantik berwajah oriental dan bermata sipit itu mengangkat sebuah buku. Buku itu terbuka di halaman tertentu. Noda darah terlihat di tengah halaman buku.

"Itu...buku yang dibacakan untuk istri saya." jawab Calvin perlahan.

Si wanita yang wajahnya sangat mirip Calvin itu mengangkat alis. "Istrimu? Kamu sendiri yang membacakannya untuk dia?"

"Iya. Sudah saya rekam. Sudah saya e-mailkan rekamannya. Semoga dia senang mendengarnya."

Air mata merebak di mata sipitnya. Wanita berkardigan hitam itu terharu. Meraih tissue, lalu mengusap wajahnya.

"Silvi beruntung. Harusnya dia bersyukur memilikimu, Calvin." isak si wanita.

"Akulah yang beruntung memilikinya." Calvin mengoreksi dengan lembut, tersenyum tipis saat mengingat Silvi.

Wanita di masa lalu Calvin itu masih terisak. Bahunya berguncang hebat. Sementara air matanya mengalir turun. Membasahi ujung hidung, pipi, dan sebagian anak rambut yang jatuh membingkai pipinya.

"Tak seharusnya Silvi menyia-nyiakanmu,"

"Dia tak pernah menyia-nyiakan saya, Fonny. Sayalah yang salah. Saya yang membawanya turut menderita bersama saya."

Beginilah salah satu sifat pria sejati: tak pernah menyalahkan wanita. Tak pernah menyalahkan wanita sebagai alasan dari hal buruk yang menimpanya. Calvin Wan, layak digolongkan sebagai pria sejati.

"Andai saja suamiku seperti kamu..." Fonny mendesah, menatap muram langit-langit.

Tangan Calvin terulur. Lembut diremasnya pundak Fonny. Dua pasang mata sipit saling beradu tatap. Kelembutan di mata Calvin bertemu kesedihan di mata Fonny.

"Jangan pernah menyesali pemberian Tuhan. Suamimu itu, jadi yang terbaik yang bisa dipilihkan Tuhan untukmu." kata Calvin bijak.

"Kalau dia baik," Fonny menyeka matanya lalu melanjutkan.

"Mengapa dia kasar padaku? Mengapa dia memukuli anakku dan memaksanya beribadah di klenteng, sementara anakku sudah memilih Islam?"

Nampaknya Fonny sudah sampai di titik lelah. Ia lelah, lelah dengan kegetiran rumah tangganya. Lelah dengan cobaan hidup yang tak kunjung usai.

"Fonny, cobalah berpikir positif. Mungkin saja, saat ini suamimu bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tak bisa menyalurkan stressnya dengan baik, anak kalian jadi sasarannya. Tenangkan hatimu. Seteelah itu, tenangkan dirinya. Pelan-pelan berilah pengertian padanya." ujar Calvin lembut.

"Sudah, sudah kulakukan! Tapi tetap saja..." Fonny terisak lagi. Pedih hatinya teringat semua usaha yang telah ia lakukan untuk mengembalikan suaminya ke jalan yang lurus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4