Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Haruskah Takut Pada Cinta? (2)

13 September 2017   06:01 Diperbarui: 13 September 2017   18:13 296 6 6

Sejak berhenti dari pekerjaannya, Calvin lebih banyak menyendiri. Balkon, studio musik, dan kamar pribadi menjadi tempat favoritnya. Para asisten rumah tangga sudah mulai terbiasa dengan perubahan sikap tuan mereka.

Sebaliknya, Julia makin resah. Ia khawatir kondisi Calvin akan memburuk setelah dia mengundurkan diri dari jabatannya. Mungkinkah keputusan ini salah?

Rumah besar bergaya neo klasik itu bagaikan mausoleum. Seakan tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Hanya terpancar aura kesuraman, kesedihan, kekelaman, dan kesakitan. Suasana rumah begitu dingin dan sunyi.

Sempat terpikir di benak Julia untuk pindah rumah. Ia akan mengajak Calvin pindah ke rumah yang lebih kecil. Bbahkan wanita cantik itu sudah mencari-cari rumah yang cocok. Namun usulannya ditolak Calvin. Ia ingin tetap tinggal di rumah ini. Satu dari beberapa rumah milik keluarga besarnya yang sudah resmi menjadi miliknya. Calvin tak mau pindah dari sini.

Terpaksa Julia membatalkan niatnya. Sesungguhnya ia takut tinggal di rumah sebesar ini. Bukan rumah besar yang ia takuti, melainkan atmosfernya. Aura kematian seolah menggantung di seluruh rumah, menyebar menjadi sebuah ancaman. Mungkin saja lantaran rumah ini ditinggali orang sakit.

Calvin memang sakit. Ia tenggelam dalam kesakitannya. Rasa sakit menjadi hal biasa yang dinikmatinya. Saat Calvin kesakitan, ia lebih suka menyimpannya sendirian. Pria oriental itu tak mau ditemani siapa pun.

Bukan Julia namanya jika menyerah begitu saja. Berbagai cara ia lakukan untuk mendekati Calvin. Ia mencari banyak alasan agar bisa selalu ada di samping suaminya. Meminta bantuan mengakses media jurnalisme warga kesayangan mereka, menulis bersama, curhat, dan masih banyak lagi. Calvin pendengar yang baik. Saat Julia menceritakan bisnis dan perasaannya, Calvin lebih banyak mendengarkan. Ia tak banyak bicara. Namun itu sudah cukup bagi Julia. Calvin mau menyimak ceritanya pun sudah ia syukuri.

"Morning, Calvin." sapa Julia hangat. Memasuki balkon dengan membawa nampan berisi oatmeal dan susu.

"Morning Julia." balas Calvin, refleks bangkit berdiri dan membantu istrinya membawakan nampan sarapan itu.

Senyum tipis bermain di bibir Julia. Meski takut akan cinta, kepekaan sosial tak berkurang. Calvin selalu ingin membantu orang lain.

"Terima kasih, Sayang." ucap Julia.

"Kamu sarapan dulu ya? Terus minum obat."

Calvin hanya mengangguk. Mengambil oatmeal dan segelas susu. Julia melakukan hal serupa.

Mereka sarapan bersama. Sudah beberapa terakhir Calvin lebih suka sarapan di balkon. Ia tak mau lagi turun ke ruang makan. Julia mengerti, ia pun mengikuti kebiasaan Calvin.

Dinginnya pagi tak terasa lagi oleh Julia. Di dekat orang yang dicintai menghangatkan hatinya. Ia tidak keberatan berlama-lama di balkon ini. Semata demi selalu dekat dengan Calvin.

"Kamu tidak ke toko bunga hari ini?" Rtetiba saja, Calvin melontarkan pertanyaan.

Nyaris saja Julia menumpahkan susunya. Tak menyangka Calvin yang mengajaknya bicara lebih dulu.

"Tidak, Calvin. Aku ingin di rumah saja. Waktuku sepenuhnya milikmu." sahut Julia lembut.

"Kenapa kamu ingin bersamaku?"

"Karena aku mencintai dan merindukanmu."

Detik berikutnya, Julia sadar bila dirinya melakukan kesalahan besar. Calvin memuntahkan kembali oatmeal-nya. Wajah tampannya pucat pasi.

"Calvin, are you ok? Oh Calvin, sorry...sorry." Julia berkata cemas. Menyesali kekeliruannya.

Konsekuensi menyakitkan dari pengidap Philophobia. Mendengar kata cinta saja sudah menimbulkan efek samping yang tak diinginkan. Terlebih penyakit Philophobia yang diderita Calvin sudah mencapai tingkat akut.

"Lebih baik kamu pergi, Julia. Aku ingin sendiri." Calvin berkata lirih.

"Tapi..."

"Tinggalkan aku sendiri, Julia."

Tak punya pilihan lain, Julia melangkah pergi. Hatinya tertusuk penyesalan dan kesedihan. Seharusnya ia bisa lebih berhati-hati.

**     

Di studio musik, Julia mengunci diri. Tak mengizinkan siapa pun masuk menemuinya. Ia menangis tersedu, membiarkan air matanya berjatuhan tanpa perlu ditahan lagi. Dihempaskannya tubuh di kursi depan sebuah grand piano. Kursi yang biasa ditempati Calvin.

Hanya tangis yang mampu menjadi pelepasan emosinya saat ini. Julia sudah terlalu lama bersembunyi dalam tembok ketegaran. Orang-orang memujinya sebagai wanita kuat dan pemaaf. Akan tetapi, mereka tak tahu betapa pedih hatinya setelah kasus perselingkuhan Calvin dan Rosalina terungkap.

Ia pikir, semuanya akan pulih kembali seperti dulu setelah Calvin mengakui kesalahannya. Asumsinya keliru. Keadaan bertambah rumit. Calvin jatuh sakit setelah kejadian itu.

Memaafkan tak cukup. Julia harus memainkan peran ganda: istri, sahabat, perawat, dan penyembuh. Ia merawat Calvin sepenuh hati. Menemaninya, mendampinginya, dan menguatkannya.

Selama ini Julia sudah cukup sabar. Bukankah kesabaran itu berbatas? Ketika Calvin mengusirnya, hati wanita blasteran itu berdenyut sakit. Sebesar apa kesalahannya sampai-sampai Calvin menyuruhnya pergi? Ia hanya ingin menemani Calvin. Ia takut terjadi sesuatu pada Calvin jika ditinggal sendirian.

Menangis terlalu lama membuat mata Julia terasa sakit. Ia menghela napas, berusaha menghentikan tangisnya. Rasa sakit di kedua matanya semakin parah. Seharusnya Julia tak boleh menangis dan terlalu stress. Ia sendiri memiliki kelemahan yang hanya diketahui sedikit orang. Calvin adalah satu dari sedikit orang yang mengetahui kekurangan Julia.

Grand piano putih ini bisa menjadi obat bagi kesedihannya. Julia menggerakkan jemari di atas tuts piano. Bermain musik mengikuti feelingnya. Ia memiliki feeling yang kuat. Tak jauh berbeda dengan Calvin.

Beberapa saat memainkan intro, Julia mulai bernyanyi.

Semudah itu kauucapkan

Kata maaf kekasihku

Setelah kaulakukan lagi kesalahan yang sama

Dimana perasaanmu

Saat kau melakukan salah yang sama

Inikah cara dirimu membalas tulus cinta yang kuberi

Menyakitkan bila cintaku dibalas dengan dusta

Namun mencintamu takkan kusesali

Karena aku yang memilihmu

Dimana perasaanmu saat kau melakukan salah yang sama

Inikah cara dirimu membalas tulus cinta yang kuberi

Menyakitkan bila cintaku dibalas dengan dusta

Namun mencintamu takkan kusesali

Karena aku yang memilihmu

Menyakitkan bila cintaku dibalas dengan dusta

Namun mencintamu takkan kusesali

Karena aku yang memilihmu (Audy-Dibalas dengan Dusta).

Air mata Julia kembali jatuh. Lagu itu menyakiti perasaannya sendiri. Bayangan wajah Calvin terlintas di benaknya. Calvin yang tampan, penuh pesona, tulus, setia, dan konsisten. Calvin yang berhati lembut dan penuh pengertian. Di mata Julia, Calvin sosok yang sempurna.

Masih segar dalam ingatan Julia betapa banyak waktu yang dibutuhkannya untuk membangun kepercayaan dengan Calvin. Wanita kelahiran 9 Juli itu berhasil luluh karena kebaikan, ketulusan, dan kesetiaan Calvin Wan. Membuka hati dengan Calvin membuat Julia menemukan kebahagiaan dan harapan baru. Calvin hadir memberikan penyembuhan untuk luka hatinya. 

Secara langsung dan tidak langsung, Calvin mempercepat proses kesembuhan luka hati Julia. Tanpa mengenal lelah, Calvin memotivasi Julia untuk membuka hati. Menerima cinta dan kasih, mensyukuri kebaikan orang lain, dan belajar melihat kenyataaan hidup. Calvin bersikap lembut dan ia selalu memuliakan wanita. Bahkan Calvin tidak pernah membicarakan seks di depan Julia. Tak seperti kebanyakan pria yang hanya melihat wanita dari body dan seksualnya saja.

Di masa remajanya, Calvin tipikal good boy. Bahkan termasuk jajaran the most wanted boy di sekolah mereka dengan prestasi, kecerdasan, dan ketampanannya. Sekarang ini, di masa dewasanya, Calvin menjadi Mr. Charming yang dikagumi banyak wanita. Julia beruntung menjadi wanita yang terpilih untuk mendampinginya.

Masa-masa awal pernikahan mereka begitu bahagia. Calvin tak pernah mengecewakan Julia. Hubungan mereka mulus tanpa konflik. Sekali pun ada perbedaan pendapat, mereka bisa menyelamatkan situasi. Hati yang lembut dan sabar mampu membuat Calvin dan Julia menghindarkan diri dari konflik.

Selama mengenal Calvin, Julia melihat banyak kebaikan dalam diri pria tampan itu. Calvin tak pernah merokok dan mengonsumsi alkohol. Ke club dan diskotek pun tak pernah. Free seks dan memiliki wanita simpanan bukanlah kejahatan yang pernah dilakukan Calvin. Ia bahkan tak pernah "menyentuh" Julia karena memahami kondisinya. Ibadah selalu jadi prioritas. Pekerja keras namun tidak melupakan keluarga dan orang-orang terdekat. Tingkat intelegensi di atas rata-rata, tapi tak pernah melupakan penampilan fisik. Kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional diimbangi ketampanan wajah.

Kelebihan harta yang dimilikinya tak hanya digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia selalu melihat ke bawah. Mengingat orang-orang yang membutuhkan. Calvin membuka sekolah dan rumah singgah. Sekolah untuk anak-anak kurang mampu, dan rumah singgah untuk anak pengidap kanker. Rumah singgah itu diberi nama Rumah Cinta. Intinya, Calvin pria tampan luar-dalam yang religius, penyayang, dan tidak pernah mempermalukan diri sendiri atau keluarga.

Nobody perfect. Begitu pula suami Julia. Calvin tergelincir dalam dosa bersama Rosalina. Ketulusan cinta Julia dibalas dengan dusta. Pernikahan mereka ternoda oleh hati yang mendua.

Sampai detik ini, Julia tak tahu pasti apa alasan Calvin berselingkuh dengan Rosalina. Kemungkinan besar bukan karena keinginan pribadi dalam diri Calvin. Pastilah Rosalina yang lebih banyak berperan di sini. Hati Calvin yang lembut dan putih itu dirusaknya. Dinodainya dengan energi negatif dan niat jahat. Upaya Rosalina sukses memperdaya Calvin.

Julia yakin, Calvin berselingkuh bukan karena tak bahagia dengan pernikahannya. Bukan pula karena menginginkan keturunan. Meski hingga kini mereka belum dikaruniai anak, pernikahan mereka tetaplah membahagiakan.

Begini rasanya dilukai orang yang dicintai. Baru pertama kalinya Calvin melukai Julia. Sekali dilukai, sakitnya luar biasa. Namun hati Julia selalu terbuka untuk memaafkan. Kuatnya cinta membuat Julia membukakan pintu maaf untuk Calvin. Orang yang kita cintai berpeluang besar melukai hati kita. Hancurlah semua image positif yang dibangun Julia tentang Calvin.

Apakah Julia berhenti mencintainya? Tidak. Cinta Julia untuk Calvin tak berubah sedikit pun. Apakah Julia meninggalkan Calvin setelah kasus ini? Tidak. Nyatanya, ia selalu bersama Calvin walau image sempurna yang melekat pada putra tunggal Tuan Effendi itu telah runtuh. Terbukti, Julia mencintai Calvin dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia memang kecewa, tapi kekecewaan itu berakhir dengan penerimaan yang tulus.

Lagi-lagi mata Julia terasa perih. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, penglihatannya memburam. Makin sulit baginya untuk melihat di tengah kondisi seperti ini.

Wangi Benneton Sport membelai lembut indera penciumannya. Disusul bunyi gerakan-gerakan kecil di dekatnya. Tak lama, seseorang menyeka mata Julia. Sebuah suara bass yang sangat familiar berbisik di telinganya.

"Matamu sakit lagi ya?"

Perlahan Julia berpaling. Calvin berlutut di sampingnya. Jarak mereka begitu dekat. Ia tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Calvin...?" bisik Julia ragu.

"Bagaimana kamu bisa menemukanku di sini? Pintunya sudah kukunci."

"Memangnya tak ada jalan lain untuk sampai ke sini? Kamu lupa, di rumah sebesar ini ada connecting door?"

Jelaslah sudah. Calvin pastilah memakai connecting door. Di balkon, ada pintu yang menghubungkan dengan studio musik.

"Maafkan aku, Julia." ujar Calvin lembut.

"Tidak, Calvin. Akulah yang harus minta maaf. Kata-kata semacam itu membuatmu takut."

Calvin menarik napas panjang. Sorot kesedihan terpancar di matanya.

"Aku ingin sembuh dari penyakit ini..." ungkapnya.

"Philophobia membuatku lelah."

"So, menulislah. Menulis salah satu terapi kejiwaan yang mempercepat kesembuhanmu." tukas Julia.

"Sudah kuposting artikel untuk hari ini, Julia."

"Good. Nanti aku baca dan vote."

Tangan Calvin terulur. Sekali lagi ia mengusap sisa air mata Julia.

"Kamu pasti kesakitan. Jangan menangis lagi ya? Tidak semua air mata itu jelek, tapi menangis tidak baik untuk kesehatan matamu. Okey?"

Ucapan Calvin begitu lembut. Julia mendengarkan dan menurutinya.

"Semalam aku shalat Tahajud," Tanpa diminta, Calvin mulai bercerita. Julia antusias mendengarkan. Ini sebuah kemajuan. Kemajuan luar biasa.

"Aku mendoakan kesembuhanku. Aku mengharap belas kasih Allah agar mengembalikan semuanya seperti dulu. Kusebutkan nama orang-orang yang dekat denganku, dan kudoakan mereka."

Ini sebuah pengalihan. Sebuah pengalihan dari kata cinta. Calvin memakai kata lain untuk mendefinisikan cinta.

"Siapa saja nama yang kamu sebutkan dalam doamu?" tanya Julia ingin tahu.

"Ambar Effendi, Aziati Santiana, Ellen Gabriella, Dioriva Corry, Choki Tanubrata, Janette Paulina, dan Julia Siska Pratiwi."

Hati Julia berdesir hangat. Ada namanya dalam doa-doa Calvin. Itu berarti, Calvin masih mengingatnya. Dua yang pertama adalah nama Mama-Papanya. Tiga berikutnya adalah nama sepupu-sepupunya. Lantas, siapa itu Janette Paulina? Hati Julia dipenuhi tanda tanya. Kelak ia akan mengetahui jawabannya. Mendengar namanya disebut saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Satu misteri yang belum terungkap: siapakah Janette Paulina?

**     

https://www.youtube.com/watch?v=iJv-2fOVBHU