Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Wanita highlight

Cantik Luar-Dalam, Itulah Kecantikan Sejati

2 Agustus 2017   06:21 Diperbarui: 2 Agustus 2017   06:48 1441 21 12

Calvin dan Calisa menjalani pernikahan tanpa cinta. Awalnya, Calvin sama sekali tak mencintai Calisa. Teman-temannya meyakinkan Calvin bahwa Calisa wanita yang cantik. Tak hanya cantik di luar, melainkan cantik di dalam.

Tahun demi tahun berlalu. Seiring berjalannya waktu, Calvin mempercayai penilaian teman-temannya. Ia melihat dan merasakan sendiri kecantikan Calisa. Calisa bukan hanya cantik secara fisik. Ia pun mempunyai hati yang tak kalah cantik. Belum lagi hati yang lembut dan pembawaannya yang anggun. Membuat sosok Calisa makin menawan di mata Calvin.

Lama-kelamaan, cinta bersemi di hati Calvin. Ia mencintai istrinya sepenuh hati. Ia mengakui dan menghargai kecantikan Calisa. Calvin bahkan menyebut Calisa sebagai wanita cantik luar-dalam.

Lain lagi dengan kisah Rosany Caetano. Wanita 30 tahun asal Brasil itu terharu saat ayahnya yang difabel datang ke acara wisudanya. Ia sama sekali tak malu mempunyai ayah berkebutuhan khusus. Sebaliknya, Rosany bangga dengan ayahnya.

Sang ayah terlahir difabel. Ia memiliki sebelas anak, namun hanya tiga yang bertahan hidup. Salah satunya adalah Rosany. Ayahnya sering mengeluh sakit tiap kali berjalan dengan menggunakan tangan. Namun hal itu tak membuat sang ayah kehilangan semangat untuk datang ke acara wisuda putrinya yang cantik.

Ya, Rosany adalah wanita cantik. Fisiknya rupawan, begitu pula hatinya. Kalau tidak, mana mungkin ia menerima dan membanggakan ayahnya yang berkebutuhan khusus? Mencintai dan menerima tanpa syarat, kualitas tertinggi yang dapat dimiliki. Rosany memiliki kualitas itu. Kecantikan hatinya mampu membuatnya menerima keadaan sang ayah.

Soal kecantikan dan penerimaan, saya pun memiliki kisah sendiri. Sejak kecil sampai sekarang, kedua orang tua saya selalu membanggakan dan menerima diri saya. Mama-Papa tak pernah ragu memperkenalkan saya pada teman-teman mereka. Saya ingat, waktu kecil sering ikut hadir di acara-acara kantor Mama dan Papa. Sampai teman-teman kantor mengenal saya dengan baik. Well, Papa bukanlah sosok yang romantis. Ia tak pernah memeluk saya. Ciuman dari Papa hanya saya terima setahun sekali, tepatnya tiap kali meminta maaf lahir batin saat Idul Fitri. 

Berbeda dengan Mama saya yang romantis dan hangat. Mama tak pernah ragu memeluk, mencium pipi, mengelus, dan merapikan rambut saya. Saat di rumah maupun di depan publik. Mama tahu kalau saya paling suka dipeluk dan dicium. Padahal semua orang tahu, bagaimana tegas dan kerasnya Mama saya. Terutama saat masih aktif di kantor dan memegang jabatan struktural selama beberapa tahun. Saat itu, Mama sering memarahi anak buahnya bila terjadi kasus yang tidak beres soal pekerjaan. Berbeda dengan Papa. Papa juga mengemban jabatan struktural, tapi tak pernah marah atau bersikap keras pada bawahan. Cara kepemimpinan Mama dan Papa amat berbeda.

Dalam kedinasan, Mama tegas dan disiplin. Namun berbeda dengan urusan anak. Sangat berbeda. Dalam penilaian saya, Mama adalah wanita cantik luar-dalam. Bagaimana tidak, beliau mau menerima keadaan saya dengan ikhlas. Merawat, membesarkan, mendidik, menjaga, membiayai, dan mengajari saya banyak hal. Tidak semua orang tua bersedia melakukan itu. Beberapa anak yang saya kenal pada akhirnya "dibuang" ke asrama dan orang tuanya tidak mempedulikannya. Orang tua seakan lepas tanggung jawab ketika sudah "membuang" anaknya yang dianggap tak sesuai harapan. Dalam hati, saya berniat akan melakukan apa yang selama ini dilakukan Mama jika saya dipercaya untuk mempunyai anak nanti. Itu pun kalau saya punya umur panjang dan kesempatan.

Waktu kecil, teman-teman memanggil saya "Bule". Dan "Boneka Barbie". Entahlah, mungkin karena saya bermata biru. Dan saya bangga karenanya. Bukan bermaksud sombong atau tebar pesona, tapi saya mencintai sesuatu yang melekat dalam diri saya. Kini setelah beranjak dewasa, ada beberapa teman yang memanggil dengan sebutan "Princess" dan "Peri Kecil". Entah kenapa saya dipanggil begitu. Mereka tahu saja, kalau saya suka diberi panggilan sayang.

Meski demikian, ada satu hal yang masih menimbulkan tanda tanya di hati saya. Mengapa banyak teman-teman saya yang berparas cantik justru single? Sedangkan teman-teman saya yang terlihat biasa saja, baik wajah, sifat, latar belakang, kondisi ekonomi, kecerdasan otak, dan ketaatan beragama, memiliki kisah cinta yang mulus. Bahkan kekasih mereka tampan dan populer. Saya dan beberapa teman yang berparas cantik malah sendiri terus. Saya coba cari jawabannya. Lama mencari dan menganalisis, akhirnya saya mendapat jawaban: kecantikan sejati adalah kecantikan di luar dan di dalam.

Cantik itu relatif. Penilaian tentang kecantikan wanita berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya. Ini berkaitan dengan persepsi, pandangan, kultur, dan faktor lainnya.

Kecantikan wanita adalah keseimbangan yang sempurna antara fisik dan psikis. Banyak orang yang melakukan apa saja untuk mempercantik diri. Misalnya melakukan perawatan tubuh di salon kecantikan, membeli pakaian mahal, bermake up, tampil elegan, menambahkan aksesoris, dll. Namun satu hal yang sering terlupakan: mempercantik hati dan pikiran.

Anggun, cantik, dan memesona itu harus. Ketiga hal itu harus dibangun dari dalam dan dari luar. Wajah yang cantik diimbangi dengan pikiran dan hati yang cantik pula. Tanpa kedua aspek itu, kecantikan takkan sempurna.

Sesungguhnya, kecantikan yang hakiki adalah ketika kita mampu menyeimbangkan keadaan fisik dan psikis. Saat fisik dan psikis telah seimbang, muncullah aura positif dari dalam diri kita. Output dari aura positif itu ialah pancaran inner beauty. Kecantikan alami yang terpancar sempurna dari dalam diri kita. Ketika inner beauty telah terpancar sempurna, di sanalah letak kecantikan sejati.

Pertanyaannya, bagaimana memunculkan inner beauty yang menghasilkan kecantikan sejati?

1. Perhatikan penampilan luar

Eits, jangan salah. Inner beauty memang jenis kecantikan yang terpancar dari dalam. Tapi, bukan berarti kecantikan luar terabaikan. Mulai dari hal yang paling dasar dulu. Perhatikan penampilan luar kita, Ladies. Benarkah kita sudah tampil elegan dan sempurna? Sudahkah kita memakai parfum dan aksesoris yang pas? Bagaimana gaya rambut dan riasan make up di wajah kita? Adakah kantong mata, keriput, bekas luka, atau apa pun yang dapat mengganggu penampilan? Jika masih ada, hilangkanlah. Jika sudah tak ada, bersyukurlah. Tinggal menyempurnakan penampilan luar agar lebih menawan.

2. Bersyukur

Selesai dengan penampilan luar, kita beranjak menuju kecantikan di dalam. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur. Syukurilah kondisi fisik kita. Inilah ciptaan Tuhan yang ditetapkanNya pada diri kita. Operasi plastik bukanlah cara yang tepat untuk mensyukuri pemberian Tuhan. Masih banyak cara lain untuk mensyukurinya. Jangan pernah berhenti bersyukur atas apa pun karunia Tuhan untuk kita. Bersyukur mampu mempercepat keluarnya aura positif.

3. Berpikiran positif

Menginjak langkah selanjutnya. Langkah yang mudah diucapkan, namun sulit diaplikasikan: berpikir positif. Bagaimana caranya? Hilangkan dulu semua pikiran negatif. Gantilah dengan pikiran-pikiran positif. Akui kelebihan yang ada dalam diri kita. Jangan pernah mengingkari itu. Mengakui kelebihan bukan berarti sombong atau narsis berlebihan. Melainkan menyadari bahwa ada kelebihan tersendiri dalam diri kita. Akui pula kekurangan kita. Lihatlah kekurangan kita dari kacamata positif. Jangan anggap kekurangan sebagai alasan kita untuk berhenti tampil cantik. Jadikan kekurangan sebagai motivasi untuk tampil lebih menawan, menawan, dan menawan lagi dari sebelumnya.

4. Tersenyum

"Ah...cantiknya. Kalo kamu senyum, tambah cantik. Jangan pasang muka dingin, sadis, atau sinis terus. Kamu yang paling cantik di antara saudara-saudaramu, tapi nggak pernah senyum sama sekali."

Saya pernah mendengar ucapan itu. Dan ucapan itu dikhususkan untuk saya. Beberapa orang malah menyebut saya sombong. Namun itu dulu.

Senyum berfungsi seperti make up: memperindah wajah. Dengan senyum, wajah lebih enak dilihat. Roman muka semakin memesona saat dihiasi seulas senyuman. Tidak percaya? Cobalah sendiri. Bandingkan wajah dingin tanpa ekspresi dan wajah berhiaskan senyum, meski tipis dan nyaris tak terlihat sekali pun. Akan terlihat bedanya.

Energi positif pun dapat tercipta melalui senyum. Make up dan perawatan tubuh semahal apa pun rasanya sia-sia saja bila tanpa senyuman dan energi positif.

5. Menciptakan kebahagiaan

"Ma, mau modali aku bisnis bunga kan? Aku suka bunga...dan aku mau bisnis dengan sesuatu yang aku suka."

"Oh...selain inves saham, kamu mau bisnis bunga juga?"

"Iya. Nanti, paling nggak setahun lagi. Pas semester 7. Buat jaga-jaga. Kalo kuliah udah nggak terlalu menyita waktu, aku bisa bisnis juga. Mama mau kasih modal, kan?"

"Mau..."

Sekelumit pembicaraan di waktu malam yang membuat saya bahagia. Senangnya merencanakan masa depan dengan keluarga terdekat. Dan saya berdoa agar diberi kesempatan dan izin oleh Allah untuk merealisasikan semua rencana masa depan itu. Meski demikian, terbersit rasa takut pula. Takut rencana saya gagal, dan takut target-target saya tidak tercapai.

Poin menarik yang digarisbawahi di sini adalah menciptakan kebahagiaan. Ciptakan kebahagiaan dari hal-hal yang kita sukai. Merencanakan masa depan, merawat bunga, memulai bisnis, melakukan hobi, atau berbuat sesuatu yang membuat kita bahagia? Lakukanlah. Ketika kebahagiaan muncul, kecantikan terpancar sempurna dari dalam.

Bahagia adalah salah satu emosi positif. Emosi positif dapat memunculkan kecantikan sejati. So, hilangkan berbagai emosi negatif yang dapat merusak kecantikan. Antara lain stress, kecewa, dendam, sakit hati, dan kemarahan. Gantilah dengan emosi positif. Salah satunya kebahagiaan. Bahagia dapat tercipta dari hal-hal sederhana. Sebelum berbahagia dengan hal besar, mulailah ciptakan kebahagiaan dengan hal kecil dulu. Manisnya kebahagiaan besar baru bisa kita nikmati setelah kita menciptakan kebahagiaan dari hal kecil.

6. Hypnotherapy

Siapa bilang hypnotherapy hanya untuk mengatasi trauma, phobia, depresi, anxiety disorder, PTSD, atau masalah psikologis lainnya? Hypnotherapy dapat pula digunakan untuk memancarkan kecantikan sejati.

Tampil cantik adalah keinginan setiap wanita. Akan tetapi, sering kali keinginan itu hanya sebatas keinginan tanpa usaha yang konsisten dan ikhtiar yang nyata. Hypnotherapy membantu wanita-wanita yang ingin tampil cantik untuk memasukkan keinginannya itu dalam pikiran bawah sadar.

Masukkan keinginan untuk tampil cantik di pikiran bawah sadar. Fokuslah pada satu keinginan itu, jangan sampai tergoyahkan. Bila pikiran bawah sadar telah terpengaruh untuk tampil cantik, maka kita akan melakukan berbagai usaha untuk mewujudkan keinginan itu. Kunci utamanya adalah menanamkan motivasi untuk tampil cantik di alam bawah sadar. Motivasi yang tertanam kuat dapat membantu kita untuk mendapatkan kecantikan sejati.

Selain itu, teknik reframing dalam hypnotherapy juga dapat membantu memaknai sesuatu lebih positif. Dengan kata lain, kita dapat berpikiran positif setelah menerapkan teknik reframing. Pikiran positif memancarkan aura positif pula.

Itulah enam langkah yang dapat kita lakukan untuk memperoleh kecantikan sejati. Di akhir tulisan ini, ada sedikit pengingat untuk para pria. Kecantikan wanita bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan atau dijadikan perhiasan semata. Kecantikan wanita sudah sepantasnya dihargai, dijaga, dan dihormati. Bukankah pria sejati adalah pria yang menghargai dan memuliakan wanita? Wanita mendapatkan kecantikan sejati bukan semata karena ingin merebut hati para pria, namun karena diri mereka sendiri. Kecantikan telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri wanita. Dan kecantikan sejati hanya akan didapat bila keadaan fisik dan psikis telah seimbang. Kecantikan sejati terpancar sempurna di luar dan di dalam.

Ladies, siapkah menjadi wanita yang cantik? Dan buat para pria, maukah menghargai wanita serta kecantikan yang dimilikinya?