Mohon tunggu...
Ilmia Lasmita
Ilmia Lasmita Mohon Tunggu...

Seorang ibu dengan latar belakang pendidikan ilmu komunikasi. Berusaha menebar manfaat melalui tulisan untuk berbagi ide, pendapat dan pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ranking Dalam Pendidikan, Perlukah Dirisaukan?

3 Mei 2014   03:22 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:55 130 1 0 Mohon Tunggu...

Anak ujian, orangtua resah. Hari pembagian rapot, orangtua gelisah. Saat ditanya, “anaknya ranking berapa?” Ada yang bangga, ada yang biasa saja. Ketika prestasi anak sangat mewakili kebanggaan orangtua, perlukah ranking dirisaukan?




Masih banyak sekolah yang menerapkan sistem ranking sebagai materi pembanding keberhasilan belajar siswa di kelasnya. Beberapa orangtua dan pendidik mulai bersuara bahwa ranking tidak lagi mewakili keseluruhan aspek untuk menilai keberhasilan siswa di sekolah, namun di satu sisi, masih banyak pihak yang menilai bahwa ranking masih diperlukan berdasarkan sistem pendidikan yang ada.




Diluar dari perlu atau tidak adanya sistem perankingan di sekolah, sebenarnya semua berpulang kepada siswa dan orangtua untuk bagaimana menyikapinya. Biarkanlah sistem berjalan, tapi jangan sampai orangtua terlarut untuk menyikapinya secara berlebihan, apalagi sampai dijadikan momok kebanggaan atau dasar kekecewaan kepada anak. Patutkah demi ranking orangtua memaksa anak untuk kehilangan saat-saat belajar yang menyenangkan baginya? Pantaskah anak dinilai dari angka ranking demi memuaskan gengsi orangtua?




Ranking, bisa memotivasi namun bisa juga mematahkan semangat yang ada. Yang terbaik adalah, berapapun angka yang tertulis di ranking, pujilah anak karena keberhasilannya untuk mau belajar, menepikan kegiatan mainnya, dan meluangkan lebih banyak waktu untukmempersiapkan diri secara jujur menghadapi soal-soal ujiannya. Banggalah akan usahanya.Jika memang rankingnya baik, tetaplah fokus kepada angka keberhasilan dalam setiap pelajarannya, bukan kepada angka rankingnya. Tempatkanlah dia dalam kebanggaan dengan hasil pelajarannya, bukan ditempatkan diantara ranking dengan teman-temannya. Tidak perlu memuji rankingnya berlebihan apalagi dihadapan teman-teman, saudara, atau tetangga. Karena pujian ranking tidak selalu menambah semangat, namun boleh jadi menciptakan kesombongan, dan kesombongan itu mahal harganya karena ia seberat beban yang ditanggung mulai hari ini dan seterusnya.




Ranking tidak perlu dirisaukan karena ia hanya menyatakan keberhasilan akademis di atas kertas, namun tidak menjamin keberhasilan pendidikan siswa secara keseluruhan dan masa depan tidaklah ditentukan oleh ranking. Sejarah mencatat banyaknya tokoh sukses yang nilai akademisnya biasa saja, bahkan Albert Einstein pun pernah tidak naik kelas. Banyak faktor lain seperti kecerdasan emotional dan kecerdasan spiritual yang juga perlu diperhatikan orangtua untuk kesuksesan masa depan anaknya.




Ajarkan anak untuk fokus kepada kemajuan dirinya, bukan sibuk ‘mengalahkan’ teman-teman demi ranking. Kompetisi boleh saja untuk motivasi, namun hati-hati jika terlalu sering ‘melihat kanan-kiri’ bisa jadi tersandung nanti. Fokuslah kepada kebaikan dan biarkan orang lain mengurusi dirinya sendiri.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x