Mohon tunggu...
Larasati Benjamin
Larasati Benjamin Mohon Tunggu... Menulis untuk belajar

Menulis itu baik

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Faktor X Itu Bernama Privilege

13 Juli 2020   17:20 Diperbarui: 13 Juli 2020   18:06 32 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Faktor X Itu Bernama Privilege
weibo.com

Di suatu hari yang cerah, saya pernah bertanya kepada teman pria saya. Pertanyaan yang sungguh menggelitik di dalam benak dan hati, tidak cukup sopan untuk di tanyakan, sekaligus ada rasa penasaran kalau hal itu saya pendam begitu saja.

“Jadi selama ini, kamu nggak pernah hidup susah atau berjuang keras?”

Suatu pertanyaan yang saya lontarkan begitu saja, ditengah pembicaraan kami melalui sambungan video call di messenger Facebook.

Dan dengan santai nya teman saya itu menjawab “Tidak.”

Spontan saja saya balas “Saya iri sama kamu!” Dan jawaban selanjutnya dari teman saya itu, “I feel guilty about that.”  Ia merasa bersalah karena tidak pernah kesulitan semenjak lahir, hingga kini ia menyandang gelar Post Doctoral di bidang fisika dan mengajar sebagai dosen tetap di negeri yang terkenal akan kelezatan pasta nya itu.

Saya balas lagi, “Kamu ngga perlu merasa bersalah.”

“But, I am still.”

Karena bahasa inggris saya yang sangat-sangat terbatas, saya kesulitan memberi tahu beliau, Bahwa setiap orang yang lahir sudah tertakdirkan di lauhul mahfudz apa-apa yang akan menjadi takdir nya, seperti; rezeki, kematian, pasangan hidup, serta jalan-jalan sulit yang harus ia tempuh hingga akhir hayat. Terlebih lagi ia meyakini apa-apa yang ia miliki hasil dari sebab akibat, yaitu kerja keras. Bukan campur tangan Tuhan, yang ia sendiri tidak percayai. Dan itu menyangkut ranah keyakinan, tak perlu saya debat, cukup mendengarkan alasan nya saja.

Seharusnya saya memang tidak perlu berkata iri ataupun cemburu kepada teman dekat saya itu, apalagi di tengah kondisi sulit sekarang ini. Tiap manusia punya line hidup nya masing-masing, dan kita di ajarkan untuk bisa survive sampai titik darah penghabisan tanpa harus misuh-misuh kepada Gusti Pangeran. 

Kalau kaum mampu itu bisa anteng-anteng saja dalam kondisi pandemic macam ini, toh bukan salah mereka. Mungkin beauty privilege yang Tuhan berikan kepada mereka, membuat mereka bisa tidur nyenyak setiap hari dibanding para refugee yang hidup nelangsa dan harus tidur kedinginan, karena jadi korban dari sebuah permainan politik di negara konflik. 

Sekali lagi, bukan salah kaum mampu tersebut, hanya saja keuntungan yang di dapat seseorang dari sebuah lingkungan dan keluarga di kelompok tertentu, membuat orang itu tak beranjak dari tempat duduk nya walau diterpa badai katrina sekalipun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN