Trie Yas
Trie Yas karyawan swasta

hanya hobby baca dan mencoba menulis sedikit hasil renungan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | La Rambla

13 November 2017   16:53 Diperbarui: 14 November 2017   01:10 1095 9 3
Cerpen | La Rambla
Illustrasi (Trie yas)

Dari kemarin, Chris sibuk di La Rambla, sebuah insiden teror telah menjebaknya dari sebuah perjalanan hiburan berubah menjadi rutinitas kerja. Ia harus menulis, mewawancarai korban dan mengambil foto untuk dikirim ke kantornya di Jakarta. Dari tujuh hari liburan di Spanyol, sudah tiga hari ia habiskan untuk bekerja.

Masih ada sisi dua hari, Tetapi tujuannya datang ke Barcelona, Hanya akan dihabiskan di kota La Rambla. Kota yang indah dengan jalan kiri-kanan tumbuh pohon-pohon rindang. Berdiri kokoh momumen Christopher Columbus. Tempat di mana Columbus kembali ke Spanyol setelah pelayaran pertamanya ke Amerika.

Malam ini, setelah tiga hari peristiwa berdarah itu berlalu. Chris keluar, menyelusuri jalan jalan La Rambla, surganya para pelajan kaki itu tak lagi ramai dengan ratusan ribu orang berjalan kaki, suara obrolan orang-orang nongkrong di sejumlah kafe, pub, nigth club atau taman-taman. Tak ada keriangan musik memecah malam. Jalanan tampak lengah, sepi. Banyak kafe yang belum buka. Hanya sekali-kali terdengar suara sirine meraung-raung dari mobil polisi yang berpatroli.

Chris terus berjalan pelan, matanya menerawang jauh ke depan.'apa duka selalu mencari teman' batinnya sambil tersenyum kecut.

Perjalan Chris ke Spanyol dalam rangka 'Trour dalam duka' ia harus membuang segala duka atau sebaliknya, mengenangnya lewat sudut jalan kota dan lampu-lampu jalanan. Ia sengaja memilih kota pertama La Rambla karena sebuah alasan pribadi, masa lalunya selalu bercerita tentang keindahan dan kedamaian kota itu.

Harusnya ia mengijakan kaki di La Rambla tak lebih dari setengah hari. Ia hanya datang sebatas mengenang, setelah itu ia akan datang ke pantai Bogatell yang terkenal sepi dan tenang. Sempat terpikir di pantai ini ia akan membubuhkan tattoo  di lengan kirinya sebagai tanda menyambut kenangan baru dalam hidupnya.

Namun rupanya, La Rambla tak ingin hanya kenangan ilusi dalam sebuah cerita yang membuat Chris jatuh cinta. Ia memberikan goresan duka pertama dan sebuah kesadaran, patah hati kadang memulai sebuah tragedi. Sebuah ledakan di pusat perbelanjaan dan dilanjutkan teror mobil menabraki para pejalan kaki. Seakan menggenapi duka Chris. Teriakan dan jerit tangis. Orang-orang berlari ketakutan.

Malam ini langit La Rambla seolah ikut larut dalam duka, tak bintang, seakan membiarkan lampu-lampu jalanan merenungkan kesedihan. Di ujung jalan ada satu kafe yang buka, dari beberapa gerai yang berjajar. Tampak segelintir orang di dalam, wajah mereka pun tampak murung, begitu juga pelayan kafe.

Chris masuk, menghangatkan badan, ia memesan latte. Matanya menyelusuri setiap sudut cafe tampak muram .

Di dinding tembok tertempel satu lukisannya yang belum selesai, kenapa disebut belum selesai? hanya ada satu sisi matanya, berwarna kelabu dengan wajah yang hanya separoh tergambar membawa nuansa sendu seakan membawa kesedihan.

Mata yang tampak terluka. Sepertinya siapapun yang melukisnya dengan menggunakan kuas penuh tekanan. Seolah menitipkan luka. Hingga nantinya siapapun yang menatap lukisan itu pun akan ikut terhanyut oleh bercak bercak merah menutupi sisi mata dan wajahnya. Bercak merah yang seakan tak perlu dipertentangkan ketegasan luka yang lebih menyedihkan lewat diam.

Chris menghidupkan smartphone-nya. Menatap layar, Ada 20 lebih notifikasi panggilan masuk dari satu nomor yang sama. Tiga pesan masuk, Ia pandang-pandangi smartphone yang sekarang mulai bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Masih tetap dari nomor yang sama. Masih tetap Chris terdiam dan menatap kembali lukisan satu satunya yang menghiasi dinding.

Chris meraih smartphone-nya dan mengetik tulisan beberapa baris kalimat.

aku masih di La Rambla untuk mengenapi keindahannya, tenang saja, undangan yang Pram tak sebanding dengan kekuatan magis malam ini. dan aku tahu, untuk ini kau mengirim ke koata indah ini... La Rambla......

Kafe ini sengaja di desain untuk orang-orang yang patah hati?

*