Mohon tunggu...
Trie Yas
Trie Yas Mohon Tunggu... Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Antara Kumbakarna, Petruk dan Jokowi dalam Cerita Wayang

19 Agustus 2014   09:22 Diperbarui: 18 Juni 2015   03:10 0 0 1 Mohon Tunggu...
Antara Kumbakarna, Petruk dan Jokowi dalam Cerita Wayang
14083891381200357250

Pertunjukan wayang adalah suatu pertunjukan budaya yang tak asing lagi di negeri ini meski masih banyak masyarakat yang kurang paham atau suka dengan pertunjukan wayang terutama generasi muda sekarang dimana kebudayaan barat sudah mengakar dan menjadi standar dalam pergaulan. Jadi lumrah jika kesenian wayang dan tari kurang dapat tempat di hati masyarakat.  Acara dengan menyelenggarakan hiburan sekaligus pelestarian budaya bangsa yakni pagelaran wayang kulit semalam suntup masih bisa menarik masa meski rata rata yang datang kalangan undangan dan masyarakat sekitar pencinta wayang yang mengerti bahasa jawa karena jika tidak mengerti bahasa jawa akan sulit mengikuti jalan cerita, tetapi dalam acara pagelaran wayang semalam suntup dengan dalang Ki Mantep Sudarsono dialih bahasa ke dalam bahasa inggris yang tertera di layar lebar di samping pengunjung. Diartikan langsung oleh pecinta budaya Wayang  yang berasal dari Norwaygia menjadi lebih menarik dan mampu menyapa masyarakat yang kurang memahami Bahasa Jawa

Dengan melihat pertunjukan wayang saya jadi teringat ketika masih kecil di Solo sering diajak ayah dan ibu melihat wayang meski awalnya saya lebih tertarik dengan jajan dan kurang antusias menonton dalang memainkan wayang. Tetapi karena seiring melihat dan tidak hanya live tapi juga di televisi yang biasanya diadakan tiap bulan. Saya sedikit demi sedikit mulai tahu kisah wayang dan nama nama dalang meski waktu itu tetap saya lebih suka melihat Limbuk, Goro-Goro”  ( sesi canda tawa dan para sinden bernyanyi sesuai permintaan penonton bahkan dulu saya suka dengan Dalang Ki Joko Edan karena tiap “Goro-Goro” selalu diselibkan Gareng diperagakan oleh orang bukan wayang seperti tokoh Punakawan ( Petruk, Bagong, Semar ) lainnya. Ketika sekarang saya mulai merantau di Ibu Kota sudah jarang melihat Wayang tetapi saya menemukan buku buku tentang wayang. Ada rasa bangga.

Saya yang dari kecil diperkenalkan dengan kebudayaan apalagi ketika masih sekolah dasar dan menengah ada pelajaran bahasa dan kesenian jawa. Sering diajarkan Tembang Mocopat dan tari serta kerawitan, meski dulu selalu merasa sulit dan kurang suka, tetapi sekarang mulai sadar jika bukan kita yang melestarikan kebudayaan siapa lagi. Padahal tak sedikit masyarakat dari bebarapa negara belajar kebudayaan Indonesia, ada yang dari Amerika yang bisa nyiden, dan fasis berbahasa jawa.  Apa ketika kebudayaan kita diakui negara lain kita baru teriak padahal kita sadar kita sendiri kurang menghargai dan mempelajari kebudayaan sendiri. Sekarang hanya sekolah sekolah di daerah saja yang mempelajari bahasa dan kebudayaan daerah.

Wayang bisa diartikan sebagai cermin yang menjadi refleksi kehidupan yang mampu menunjukan sisi baik dan buruk dengan nilai nilai yang disuguhkan sangat universal. Pagelaran wayang bernilai sangat tinggi dan beragam, mulai dari nilai nilai religious, falsafah sampai yang bernilai contoh contoh praktis dalam kehidupan manusia sejak lahir, dewasa, sampai tua, bahkan menjelang kematian.

Seperti lakon Kumbakarna, seorang raksasa yang berperawakan sangat tinggi dan besar dengan wajah menakutkan tetapi memiliki sifat prawira dan seiring menyadarkan saudara saudaranya jika mereka berbuat salah. Ia anak kedua Resi Wisrama dan Kekasi Putri seorang raja Detya bernama Sumali. Memiliki saudara kandung Dasamuka atau lebih dikenal Rahwana, Wibisana dan Sarpakenaka, sedang saudra tiri yaitu Kubera, Kara, Dusana dan Kumbini.

Kumbakarna adalah tokoh wayang yang digambarkan suka tidur dan makan karena ketika ia dan kakaknya Dasamuka atau Rahwana bertapa keinginan mereka dikabulkan oleh Dewa Brahma. Kumbakarna awalnya akan meminta Tahta Bathara Indra (Naadrasan), permintaan yang tak bisa diterima para dewa di khayangan, Maka Bhatara Brahma memerintahkan Dewi Saraswati untuk masuk didalam mulut Kumbakarna agar dapat membengkokkan lindahnya sewaktu mengatakan permintaannya. Dan benar adanya, yang keluar dari mulut Kumbakarna adalah “Needrasan” yang artinya”Tidur Abadi” tetapi Dasamuka yang sangat menyayangi kakaknya itu memohon agar anugrahnya untuk adiknya dibatalkan. Bathara Brama akhirnya bermurah hati dengan mengganti menjadi “tidur dan bangun selama enam bulan, dan selama tidur Kumbakarna tidak memiliki kesaktian.

Ketika Dasamuka menculik sinta istri dari Ramawijaya. Negara Alengka mengalami perang karena Dasamuka telah dibutakan mata hatinya oleh kemolekan dan kecantikan Dewi sinta. Banyak prajuti yang mati dalam peperangan salah satunya Patih Prahasta dari negara Alengka tewas ditangan Ramawijaya. Melihat kondisi Negara Alengka sudah hancur, maka Dasamuka memerintahkan Indraji ( Anak Dasamuka)  untuk membangunkan Kumbangkarna yang sedang tidur untuk membantu negara Alangka dari amukan prajurit Ramawijaya.

Ketika Kumbangkarna sudah waktunya bangun. Dia menghadap ke Dasamuka, meski awalnya menolak karena mengetahui perilaku kakaknya yang salah dan sudah berusaha memberi nasehat nasehat tetapi hatinya mulai tergugah demi kesetian dan cinta kepada bangsa dan negara, akhirnya perintah Dasamuka dituruti. Dia bukan membela kakaknya tetapi demi membela negara berani mati di medan perang.

Perang memang kejam dan tak mengenal saudara, seperti halnya dengan Kumbakarna yang harus berhadapan dengan adik kandungannya Wibisana karena pilihan yang berbeda. Mereka memang pro dengan kebenaran dan tak setuju dengan aksi kakanya Dasamuka yang ugal ugalan tetapi Wibisana lebih memilih berkoloborasi dengan kekuatan asing dengan harapan ketika Dasamuka jatuh dari kekuasaan angkara murka bisa berakhir dan kebijakan lebih berkuasa. Kumbakarna sebaliknya memilih berperang membela  tanah akhirnya dan tak mau melihat negaranya diinjak injak musuh.

Kesenian wayang adalah cermin kehidupan kita, meski wayang Ramayana maupun Mahabarata adaptasi dari negeri India tetapi kita patuh bangga dan melestarikan karena disana semua melebur dalam kehidupan sehari hari kita.

Pada perayaan hari kemerdekaan yang ke-68 Menteri Pemuda dan Olahraga KRMT Roy Suryo mengadakan pagelaran wayang kulit dengan judul "Petruk Dadi Ratu" dengan dalang Ki Manteb Sudarsono di halaman kemenpora, Senayan, Jakarta Selatan. Acara tersebut selain untuk merayakan kemerdekaan juga sebagai puncak Festival Seni Budaya 2014. " Festival Dalang Muda, telah kita gelar sejak tiga hari dengan tujuan menularkan kesenian kepada kaum muda dan mencari bibit datang muda."Ujar Menpora.

Judul yang dipilih dalam pergelaran wayang kulit terbilang berani karena kondisi negara RI yang habis melakukan pesta rakyat dalam Pemilihan Presiden. Tentu bisa berdampak polemik,  terlebih Menpora sendiri sengaja memilih dengan lakon tersebut “Kami sengaja memilih lakon ini. Masyarakat baru akan mengetahui lakon ‘Petruk Dadi Ratu’, dua atau tiga tahun ke depan,” tukas Menpora sambil tersenyum.

Cerita tersebut ditulis oleh wartawan dan budayawan yang sudah menghasilkan ratusan cerpen dan menerbitkan puluhan  buku. Seno Gumira Ajidarma yang kebetulan hadir menonton acara sampai selesai.

Punawakan adalah lambang kritik dunia feodal dan penafsiran lebih serius menekankan posisi petruk sebagai punakawan atau rakyat biasa  yang dalam hal ini menyelamatkan Jamus Kalimusada yaitu saranan kesahihan untuk berkuasa yang awalnya pusaka itu ada di tangan Yudhistira sebagai legitimasi kekuasaan. Dengan hilangnya legitimasi kekuasaan yang sebenarmya madat dari rakyat adalah situasi krisis.

Petruk setelah menghilang dengan pusaka yang dititipkan Priyambada, anak Arjuna tersebut diceritakan muncul dengan merebut kerajaan dan dengan Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot yang berperilaku seperti kere munggah bale ( orang biasa miskin yang mendadak menjadi kaya) menjadi lupa diri dan mabuk kekuasaan. Padahal biasanya para raja digambarkan dengan sikap jaim (jaga image)

Dalam lakaon "Petruk Dadi Raja" terdapat prawacana bahwa dendam Mustakaweni atas kematian ayahnya, Niwatakawaca yang dibunuh Arjuna. Situasi krisis tak teratasi membuat rakyat tersalihkan mengambil alih kekuasaan dari golongan kesatria yang biasanya gemar berperang berpura pura jaim ketika Petruk yang kampungan sengaja dipamerkan sebagai bentuk pembongkaran selubung peradaban atas kritis budaya-politik yang seperti lingkaran setan.

Begitulah keadaan sekarang, ketika Jokowi dengan branding sebagai pemimpin rakyat terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia suatu anologi dengan lakon Petruk Dadi Ratu bukanlah untuk menunjukan  bagaimana perilaku orang kampung jika mengemban kekuasaan tertinggi bagaimana dia yang didukung rakyat untuk mengambil rakyat kekuasaan akan menyelamatkan bangsa dan negara dari krisis yang seperti tiada habisnya.

Meskipun semangat Revolusi Mental sangat cocok dirujukkan dengan lakon "Babad Alas Wanamarta", atau Kumbakarna yang gagah berani membela tanah air bisa mengobarkan nasionalismes apalagi dalam rangka peringatan hari kemerdekaan. Namun  ketika Jokowi masuk Istanah Merdeka. Tidak salahnya kita mengingat lakon "Petruk Dadi Raja" (Petruk Jadi Raja) sebagai pengingat rakyat untuk mengambil alih kekuasaan. * [caption id="attachment_353809" align="aligncenter" width="491" caption="Menpora memberi tropi kepada pemenang lomba."]

1408389229887177428
1408389229887177428
[/caption] [caption id="attachment_353812" align="aligncenter" width="430" caption="tariana dari Sulawesi dibawan dengan energik dan menarik oleh para pelajar"]
1408389502821616434
1408389502821616434
[/caption] [caption id="attachment_353813" align="aligncenter" width="430" caption="Para tamu undangan, tampak Seno Gumira Ajidarma (paling ujung kiri)."]
1408389603414549356
1408389603414549356
[/caption] Foto-foto: Milik pribadi

KONTEN MENARIK LAINNYA
x