Mohon tunggu...
Langit Muda
Langit Muda Mohon Tunggu... Freelancer - Daerah Istimewa Yogyakarta

Terimakasih Kompasiana, memberi kesempatan membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mungkin Kita Perlu Belajar Tenggang Rasa dari China

29 November 2021   14:29 Diperbarui: 29 November 2021   14:41 153 23 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hari ini saya membaca sebuah judul berita di media online, "China Kini Larang Influencer dan Selebriti Pamer Kekayaan di Media Sosial".

Tenggang rasa, itu kata yang terlintas di kepala saya. Kalau bahasa Jawa-nya "tepo seliro". Tenggang rasa adalah sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, dan tingkah laku, yang menghargai dan menghormati perasaan orang lain serta dapat menempatkan diri pada situasi yang dialami orang lain, sehingga tidak menyakiti ataupun menyinggung orang lain. Mengembangkan sikap tenggang rasa adalah salah satu butir dari sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Saat ada seleb berfoto bersama koleksi mobil mewah, mungkin publik masih bisa menerimanya. Bahkan orang kerap bergaya di depan mobil yang bukan miliknya, supaya kelihatan tampak sukses. Yang bakalan menang jelas sales mobil di showroom.

Lalu ada seleb yang memamerkan tampilan isi rekeningnya di mesin ATM. Hal itu kemudian menjadi semacam trending. Bahkan ada yang dengan niatnya mengedit agar seolah-olah tampak saldo di rekeningnya berlimpah. Apa mereka ndak pernah mikir kalau itu malah mengundang perhatian petugas pajak? Jangan-jangan NPWP pun tak punya.

Publik heboh saat ada istri polisi pamer duit di social media. Pamer duit saja sudah ndak tepo seliro, apalagi ini masih keluarga aparat penegak hukum. 

Sebenarnya kalau dilihat dari aspek lainnya perilaku pamer uang tunai ini bisa membahayakan keselamatan diri, karena mengundang tindak kejahatan. Di luar negeri sudah kejadian, ada selebgram yang gemar pamer uang dan emas, dirampok hingga tewas.

Bagaimana dengan kebiasaan pamer liburan di luar negeri? Selama bukan pejabat negara atau wakil rakyat mungkin tak akan diributkan. Tetapi kalau ada keluarga pejabat atau wakil rakyat yang ikut nebeng dalam rombongan dinas dengan biaya negara, nah ini yang dipertanyakan.

Di buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP) waktu saya SD, siswa diajarkan sikap tenggang rasa. Di dalam ceramah religi, ada anjuran untuk memperbanyak kuah bila memasak, supaya kita bisa berbagi kepada tetangga. Bahkan ada juga yang mengatakan, bila tetangga sampai mencium bau masakan kita, maka kita mesti berbagi kepadanya.  

Jadoel banget ya? Tidak ini modern sekali. Bukankah di aplikasi pengantaran makanan sekarang ada yang menyertakan fitur untuk berbagi makanan dengan ojol yang mengantar pesanan kita. Atau bahkan memberikan seluruhnya. 

Bayangkan posisi kita berada di posisi Mas/Mbak ojol tersebut, yang mesti menunggu lama sambil mencium bau semua masakan yang tidak akan dia nikmati. Karena itu kita bisa bertenggang rasa dengan memberikan tip yang layak untuk pesanan makanan kita.

Bagaimana bertenggang rasa di masa pandemi ini? Yang utama dapat kita lakukan adalah dengan memakai masker. Karena dengan demikian kita menjaga perasaan orang lain, kita menjaga rasa aman orang lain. "Maskerku melindungi kamu, maskermu melindungi aku". Kita saling bertenggang rasa sekaligus bergotong royong.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan