Mohon tunggu...
Langit Muda
Langit Muda Mohon Tunggu... Daerah Istimewa Yogyakarta

Terimakasih Kompasiana, memberi kesempatan membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Menjadi Kolektor Runner-Up Bukanlah Hobi yang Menyenangkan

30 Desember 2019   10:04 Diperbarui: 30 Desember 2019   10:02 116 18 6 Mohon Tunggu...

Halo Badminton Lovers

Apa kira-kira yang paling terasa mengganjal di pikiran Lee Chong Wei saat mesti pensiun dari lapangan bulutangkis?

Sekian banyak gelar bergengsi superseries sudah diraihnya. Tapi serasa masih belum lengkap. Medali emas Olimpiade belum dalam genggaman.

Pada final Olimpiade Beijing 2008 dan final Olimpiade London 2012, Lin Dan menundukkan Lee Chong Wei. Pada Olimpiade Rio 2016, Lee Chong Wei berhasil mengatasi Lin Dan di semifinal. Tetapi, giliran Chen Long yang menggagalkan hasratnya meraih emas. Tiga kali final Olimpiade, tiga kali mesti puas dengan medali perak.

Nasib Lee Chong Wei di Kejuaraan Dunia juga tak jauh berbeda. Lee Chong Wei memiliki koleksi tiga kali runner up di Kejuaraan Dunia:

  • Tahun 2011: dikalahkan Lin Dan
  • Tahun 2013: dikalahkan Lin Dan
  • Tahun 2015: dikalahkan Chen Long

*Catatan: Medali perak Lee Chong Wei pada Kejuaraan Dunia 2014 (dikalahkan Chen Long di final) dicabut karena kasus doping

Lee Chong Wei juga terganjal pada event Asian Games. Pencapaian tertinggi Lee Chong Wei adalah medali perak di Asian Games Guangzhou 2010. Pada partai final, Lee Chong Wei dikalahkan oleh Lin Dan.

Banyak yang menyebut Lee Chong Wei sebagai Legenda tanpa Mahkota. Tanpa status juara Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan Asian Games.

Saat perhelatan Olimpiade Rio 2016, rasa nyesek tersebut, mungkin tak hanya dirasakan Lee Chong Wei, tetapi juga kontingen bulutangkis Malaysia. Malaysia berhasil menempatkan tiga wakilnya di final:

  • Lee Chong Wei di nomor tunggal putra
  • Goh V Shem/Tan Wee Kiong di nomor ganda putra
  • Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di nomor ganda campuran

Lee Chong Wei dikalahkan Chen Long. Goh V Shem/Tan Wee Kiong dikalahkan Fu Haifeng/Zhang Nan. Sementara Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dikalahkan Tontowi Ahmad/Lilityana Natsir. Tiga wakil di final, ketiganya hanya mampu meraih perak. Bisa dibayangkan perasaan getun para BL Malaysia.

Pada Olimpiade Rio 2016, nasib kontingen Indonesia bisa dibilang waktu itu masih lebih beruntung ketimbang Malaysia. Menempatkan Tontowi Ahmad/Lilityana Natsir sebagai satu-satunya wakil di final cabang bulutangkis, dan berhasil meraih emas. Seolah Owi/Butet menjadi penyelamat muka kontingen Indonesia, dalam mempertahankan tradisi emas di Olimpiade. Meski tradisi itu sempat terputus pada Olimpiade London 2012, yang menjadi Olimpiade tersuram bagi sejarah bulutangkis Indonesia. Kala itu, bukan hanya gagal meraih emas, kontingen bulutangkis Indonesia pulang tanpa raihan satu medali pun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x