Mohon tunggu...
Fiksiana

Kidung Sunyi Langit-langit Hati

8 September 2016   13:39 Diperbarui: 8 September 2016   13:45 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Orang-orang di kantor menyebutinya demikian, Genil…genit-genit metikil. Ibarat krupuk kepribadian Genil rame, gaduh seriuh pasar senggol di malam hari. Hiburan murah meriah terjangkau kalangan ekonomi lemah, ia  masih alergi escalator dan lift di mall-mall kalo boleh kembali ke jadul lebih memilih bioskop misbar,”bioskop kalo ada gerimis bubar” boleh dinikmati paruh waktu atau full tergantung cuaca dan moodnya mata ketimbang bioskop di atap-atap gedung yang mau nonton saja harus berdandan rapi bergaya trendi, tiketnya mahal ngantri lagi ribet banget. Namun wassalam 2-2 nya kini tlah menghilang tertelan jaman, yang bioskop layar tancap lama tamat dan yang sekelas sineaplex gembang kempis menunggu ajal.

Dari pada mlototi baju berjubel di rak-rak harga selangit tak terjangkau setiap lirik label sekonyong-konyong tensi naik, Genil lebih memilih berjubel di pasar tradisional membaur dengan segala aroma demi memburu baju obral sambil menikmati lengkingan pedagang menjajakan barang yang tak henti menusuk telinga. Prinsipnya lebih baik berhemat, menabung ketimbang sengsara di hari tua, toh sekedar baju yang penting ganti-ganti orang tak kan tanya merk terlebih berapa duit keluar.

Menggambarkan kepribadian Genil jadi menyeret ke mana-mana, maklum tidak terlalu ribet mencari pandanan cewek tengil yang satu ini. Unic, mungkin dari sekian komunitas manusia dia termasuk limited editions.

Kalo cewek-cewek metropolis lain sudah mulai teracuni gaya ke funk-funk-an alias semau-mau gue, modernis, hari-hari habis untuk selfie main gadget walaupun tidak jarang harus menghalalkan segala cara mengorbankan semua yang dipunya. Lain dengan Genil, masih tak bergeming, dengan kepang rambut yang ujung-ujung hanya diiket tali karet bekas pengikat bungkus nasi padang yang dibeli temen-temen kantor atau bisa jadi dipunguti disela-sela meja.

“Tidak ada polesan lipstick hanya sesekali lidah menyapu bibirnya agar segar mengkilat oleh air ludah, norak dan menjijikan”, Silfia langsung buang muka mana kala temen disamping duduk beraksi demikian, selera makan seketika buyar, nasi lengkap dengan lauk bekal dari rumah ditutup kembali tidak jadi disantap. Wajar Silfia bereaksi ekstrim, dari sononya ia paling tidak bisa melihat hal-hal berbau jorok atau tingkah polah aneh-aneh terkhusus saat hendak menyantap makanan, misal ada rambut panjang meliliti nasi, ada semut atau ada cicak lewat saja cukup membuat tersendak dan langsung menghentikan kegiatan makan.

Jika temen-temen cewek di kantor berlomba memakai rock dan baju seminimalis mungkin memperlihatkan betis indah dan paha mulus, Genil mempertahankan eksistensi dengan rock panjang menutupi mata kaki. Standar banget terkesan sangat konvensional.

“Emangnya kenapa dengan penampilan gue, so whaat gitu lhoo…reaksi Genil tiru gaya dialek temen-temen kantor sok ke Jakarta-Jakartaan, yang dinilai-kan kerjaku bukan model rambut, sepatu dan pakaian yang aku kenakan, kalo kerjaku gak becus amburradul bolehlah bos menegur tapi jangan koreksi penampilanku, yang penting aku sudah berusaha profesional menyelesaikan semua job yang bos berikan, tidak kurang,” kata-kata Genil meninggi wajah mulai memerah, ruangan tiba-tiba hening, pandangan mata semua orang di situ langsung tertuju kearah Genil dengan gaya masih menantang dan kata-kata lantang di depan Kasubbag Animator. Yang ditantang hanya geleng-geleng kepala bergegas pergi dan tak lagi pernah menegur sejak saat itu. Tepuk tangan, suitan dan aplausan saut menyaut seketika dari yang lain.

Hiduuup, Genil! Harus ada orang yang tengadah muka jangan semua tertunduk pasrah ketika bos semau-maunya hanya marah, jangan kita biarkan -stigma- bos digaji untuk marah-marah dan marah, rasanya enak sekali.

Bagaimana! mendukung gak apa yang barusan dilakukan pahlawan jadul kita, teriak Roendra sambil mengangkat-angkat tangan Genil mengobarkan keberanian temen-temen lain.

Roendra selalu akan begitu ketika ada gesekan, kalo sinetron dia berperan sebagai provokator kelas teri, keberaniannya selalu telat, pandai menunggangi kesempatan untuk mendapatkan popularitas murahan alias cari nama baik di mata temen-temen.

“Inilah salah satu hal langka dan kelebihan Genil yang tidak dimiliki temen-temennya, lugas, berani dan teguh memegang prinsip, sangat vocal manakala melihat yang tidak terlalu penting dikoreksi terlebih masalah penampilan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun