Mohon tunggu...
Lalu Aziz AlAzhari
Lalu Aziz AlAzhari Mohon Tunggu... Penulis

Dalam hal apapun kita semua masih dalam proses pembelajaran

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pohon Gaharu

26 Februari 2020   08:09 Diperbarui: 27 Februari 2020   18:09 138 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pohon Gaharu
source image : google image


POHON GAHARU (Aquilaria malaccensis)

Wilayah Nusa Tenggara Barat memiliki luas lahan kering mencapai 84 % dari luas wilayah daratan, atau setara dengan 1,8 juta hektar. Dari luas sekitar 749 ribu hektar sangat berpotensi dikembangkan menjadi lahan pertanian dan penghasil hasil hutan bukan kayu, oleh karena itu merupakan potensi yang besar dalam menanggulangi lahan kering dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan komositi gaharu. 

Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti gaharu merupakan kegiatan yang bisa dimanfaatan untuk menanggulangi lahan kering, dan meningkatkan ekonomi masyarakat, karana sejak dipungut dari hutan, pengankutannya, hingga pengolahnnya memerlukan tenaga kerja yang cukup besar. 

Lain dari itu pohon gaharu mempunyai tajuk yang tapat dan sistem perakaran yang dalam sehingga berfungsi sebagai aspek ekologi dan aspek kinsevasi tanah dan air. Hal ini merupakan keuntungan yang berlipat gandayaitu ada potensi untuk mengatasi lahan kering, dan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat 

Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomi tinggi karena terdapat pada resin wangi berwarna hitam atau kehitaman pada gubal gaharu. Menurut badan standarisasi nasional (2011) gaharu terbagi menjadi 3 klarifikasi yaitu gubal gaharu, kemendangan serta abu gaharu. 

Adapun penetapan mutu gaharu didasarkan pada warna, bobot, dan aroma. Kualitas gaharu secara umum bisa dilihat secara langsung dari warna artinya semakin gelap gaharu dan merata warna gaharu menandakan kualitas semmakin baik dimana warna lebih tua menandakan kandungan damar semakin tinggi.

Pada tahun 1980 harga gaharu mencapai Rp. 30.000,00-Rp. 50.000,00/kg untuk kualitas rendah dan kualitas super mencapai Rp 80.000,00/kg, harga meningkat pesat pada tahun 2000 menjadi Rp. 10 jt/kg dan mencpai Rp. 15 jt/kg pada tahun 2009. 

Pasar gaharu Indonesia yang paling utama adalah negara-negara antara lain Saudi Arabia, Bahrain, Kuait, Yman, Uni Emirate Arab, Turki, Iran, dan Oman. Selain itu negara Sigapura, Cina, Hongkong, Taiwan, dan Jepang termasuk negara pengimport gaharu.

Salah satu penghasil pohon gaharu yang selama ini banyak dieksploitasi di daerah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat adalah jenis gilg. Ekologi tempat tumbuh pohon penghasil gaharu berupa, kelembaban, intensitas cahaya yang masuk kelantai hutan, sangat berpengaruh sehingga menjadi dasar untuk menentukan kesesuaian tumbuh dalam upaya pembudidayaan pohon penghasil gaharu.

Deskripsi tanaman gaharu 

Gaharu dengan jenis gyrinops versteegii. Giilgl adalah salah satu tanaman yang menghasilkan gaharu. Menurut betrianigrum (2009 cit.Gilg 1932) taksanomi gaharu jenis grynops versteegii. Gilg sebagai berikut :

Kingdom       : Plantea

Devisi            :Spermatophya 

Sub-Devisi    :Dicotyledone 

Sub Class      :Magnoliopsida 

Family           : Thymelaeaceae

Genus            :Grynops 

Species          :Gyrinops versteegii 

Morfologi

Morfologi gaharu jenis gyrinops versteegii. Gilg ini merupakan salah satu jenis tanaman penghasil gaharu yang mempunyai bentuk pohon ciri dan sifat morfologinya hampir sama dengan kelompok anggota familythymeleaecea lainnya, hal ini dilihat dari bentuk daun, buah dan batangnya. 

Gaharu jenis gyrinops memiliki batang yang lonjong memanjang, hijau tua, tepi daun merata, ujung meruncing, panjang sekitar 8 cm lebar 5-6 cm. Buah berwarna kuning-kemerahan dengan bentuk lonjong. Batang gaharu jenis gyrinops berwarna abu kecoklatan, banyak cabang, tinggi pohon dapat mencapai 30 m dan berdiameter sekitar 50 cm (Sumarna,2012).

EkologiPenyebaran 

Di indonesia sebaran tumbuh pohon penghasil gaharu dijumpai di wilayah hutan jawa, sumatera, kalo, amtam, sulawesi,  maluku, irian jaya dan nusa tenggara. Pohon penghasil gaharu dapat tumbuh ketinggian 0-2.400 mdpl, selain itu iklim yang cocok untuk pertumbuhan gaharu yaitu pada daerah yang beriklim panas dengansuhu antara 28 C-34  C, dengan kelembaban sekitar 80% dan bercurah hujan antara 1.000-2.000 mm/th. 

Lahan tempat tumbuh pada berbagai variasi kondisi srtuktur dan tekstur tanah, baik pada lahansubur, sedang hingga lahan margijal. Gaharu dapat dijumpai pasa ekosisitemhutan rawa, gambut, hutan daratan rendah atau hutan pegunungan, bahkan dijumpaipada lahan berpasir berbatu yang ekstrim (Sumarna, 2012).

KandunganDan Kegunaan Gaharu 

Gaharu adalah produk hasil hutan bukan yang mempunyai demar wangi yang beraroma khas serta memiliki bentuk dan warna yang khas. Wangi harum pada gaharu disebabkan oleh kandungan kimia yaitu komponen utama berupa furanoid sesquiterpen diantarnya -garofuran-agarofuran dan agarospirol selain itu gaharu juga mengandung kromon yang biasanya menyebabkan bau harum dari gaharu ketika dibakar.

Adanya infeksi alami maupun buatan pada gaharu mengakibatkan adanya damar wangi pada gubal pohon penghasil gaharu, damar wangi pada gaharu dapat digunakan sebagi parfum, dupa, obat-obatan, sabun mandi, serta kosmetik selain itu daun dan buah pohon penghasil gaharu bisa digunakan sebagi obat malaria. Pohon gaharu berfungsi sebagai kenservasi tanaah dan air karena memiliki tajuk yang rapat dan sistem perakaran yang dalam. Namun sebagian jenis pohon penghasil gaharu tidak bisa digunakan sebagai bahan bangunan.

Hampir semua bagian tanaman gaharu bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi, daun dan buahnya digunakan sebagia bahan baku pengganti teh yang berkhasiat sebagai obat malaria, selain itu kulir gaharu dapat dijadikan tali penarik atau mengikat yang kuat.

Dikutip dari 

Pratama, D.S. 2017. PengaruhPupuk Daun Growmore Pada Pertumbuhan Semai Gaharu (Gyrinops Versteegii.Gilg) Di Tiga Taraf Intensitas Cahaya Matahari.

Basohana, S., Dkk. 2013Pemberian Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Bibit Gaharu (Gyrinops Caudata). Jurnal Cocus. Vol. 2. No. 3. Hal 1.

Badan Standarisasi Nasional.2011. Gaharu. Badan Standarisasi Nasional SNI 7631. Diakses pada tanggal 15 mei2017.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x