Mohon tunggu...
Lailatul Syadiyah
Lailatul Syadiyah Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer. Tertarik pada dunia religi, marketing manajemen, bussines, productivity, motivation, story telling, dan all about learning English.

Start from happiness

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pilih Mana: Nikmat Dunia atau Akhirat? Bersama Ustadz Weemar Aditya

29 Juni 2021   07:30 Diperbarui: 29 Juni 2021   07:28 166
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Kajian seperti ini tidak lagi asing di telinga kita. Sudah seringkali dibahas di setiap kajian-kajian Islam maupun kajian motivasi. Ustadz Weemar mencoba beranya kepada jamaah. “Siapa yang mau masuk surga?” semua jamaah angkat tangan dan berseru, “Saya.” Namun, ketika Ustadz Weemar melanjutkan. “Sekarang?” sontak orang-oarng langsung diam dan banyak yang tertawa.

“Kenapa tertawa?” Ustadz Weemar bertanya sambil mengernyitkan dahi. Yap. Benar, orang-orang banyak yang tidak siap untuk meninggalkan dunia dengan cepat, tetapi punya cita-cita untuk masuk surga. Make sense.

Di sekolah kita bisa perhatikan, orang belajar mencari dunia, itu berapa lama. Tetapi belajar agama hanya sebentar. Mata pelajaran Matematika bisa dipelajari hingga seminggu 3 kali, Fisikapun demikian. Tapi giliran Mata Pelajaran Agama, bisa saja hanya sekali seminggu dan hanya 2 jam saja.

Coba kita renungisekali lagi, setelah lulus sekolah, mata pelajaran Agama bukanlah tolok ukur utamanya. Yang menjadi penilaian di ujian akhir adalah Matematika, IPA, dan Bahasa, tetapi tidak penting nilai agamanya kurang, masih dianggap aman, yang penting lulus ujian saja.

Sadar atau tidak, banyak orang terjebak pada dunia yang terlalu dhohir ini. Sedangkan akhirat itu abstrak. Masalah dunia jelas, ada uang banyak, rumah megah, mobil mewah itu ukuran dunia. Tetapi bandingkan dengan akhirat yang berbicara tentang pahala, keberkahan. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa Berkah itu kaya. Sama sekali hal ini perlu diluruskan.

Ketika kita melihat sebuah pernikahan itu berkah atau tidak. Cara melihatnya bukan dari apakah setelah menikah menjadi kaya atau tidak, tetapi kita lihat apakah istri atau suami itu lebih dekat dengan Allah atau bahkan menjauh.

Bahkan dalam QS As.Shof ayat 10 Allah seakan-akan mengiming-imingi kita dengan kenikmatan dunia, yang sebenarnya hanya sementara saja.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”

Dalam ayat tersebut disebutkan seolah-olah Allah berpeluang kita mendapatkan dunia. Tetapi apakah dunia yang ditawarkan? Tidak. Jangan sampai kita salah persepsi. Dalam kacamata Muslim keberkahan dunia itu bisa dikejar dengan kacamata Akhirat.

Sesungguhnya dalam Islam sendiri tidak ada perintah kepada kita untuk menjadi kaya. Dalam Islam hukum kaya adalah Mubah. Sukses perkara duniawi itu mubah. Zaman sekarang ini pola pikir sudah berbalik. Orang yang menuntut ilmu tinggi hanya untuk berniat mencari kerja yang bagus, ujung-ujungnya untuk mencari uang dan jabatan. Namun, lupa bahwa keberkahan yang dicari itu sebenernya bukan hanya tentang uang, lebih dari itu Ridho Allah lah yang ditunggu-tunggu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun