Mohon tunggu...
La Himmah
La Himmah Mohon Tunggu... Be

Positive

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Feminisme: Visi dan Laki-laki

16 Juli 2019   09:48 Diperbarui: 16 Juli 2019   09:54 0 2 0 Mohon Tunggu...

Berasal dari bahasa Latin, femina : wanita dan isme : paham, paham tentang penyetaraan hak laki-laki dan wanita ini bermula dari kritikan Mary Wollstonecraft dalam bukunya  A Vindication of The Rights of Woman mengenai hak-hak wanita dalam Revolusi Perancis. Di negara kita, R.A. Kartini, ditengarai sebagai pengusung gagasan feminis melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada Agnes, membahas mengenai keluhan dan kritikannya kepada budaya patriaki masa kolonial dan nantinya terbit menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. 

FEMINIS POST-MODERN

Berangkat dari kritik terhadap stigma-stigma masyarakat mengenai aturan terhadap wanita, pemikiran feminis post-modern mengarahkan bahwa wanita berhak memiliki definisinya sendiri mengenai "wanita dan aturannya". Apakah akan seperti Michael Obama, Margareth Thatcher, atau Miss Universe. Kerajaan Inggris termasuk paling kolot mengenai stigma-stigma feminis dan mengaturnya secara ketat. Meghan Markle, putri Inggris, lewat kesalahan-kesalahannya secara tidak langsung menunjukkan pemikiran feminis posmo yang mengabaikan stigma.

Feminis posmo juga identik dengan independensi. Melalui bahasan wanita, karir, dan relationship dalam Women March beberapa bulan lalu menunjukkan tingkat kerentanan taraf  hidup wanita cukup tinggi, independensi secara finansial harus dilakukan dan tidak bergantung kepada suami atau keluarga untuk menutup kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi kedepannya.

Jika mendengar kata feminis yang dikaitkan dalam relationship, sebagian orang pasti langsung terlintas "Jomblo" "Pemilih" "Perfeksionis". Orang-orang feminis yang menjadikan laki-laki sebagai teman dan mitra ini memiliki sifat independen yang kuat sehingga memunculkan sikap pemilih dan perfeksionis. Bagaimana anda bisa meyakinkan saya bahwa hidup dengan anda akan lebih baik jika hidup dengan independen saya mampu? 

Independensi wanita dijelaskan Pramoedya Ananta Toer melalui karakter Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia yang sekali waktu berkata,  

 "Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai. (Nyai Ontosoroh)"
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

KONTEN MENARIK LAINNYA
x