Mohon tunggu...
Muhammad Haris
Muhammad Haris Mohon Tunggu... Sebuah Usaha Mengabadikan Pikiran

Menulis untuk mengenali diri

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Terima Kasih, Ibu

3 Desember 2020   15:38 Diperbarui: 3 Desember 2020   15:42 138 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Terima Kasih, Ibu
Seorang Ibu bersama anaknya. [Sumber Foto: Nakita.grid.id]

28 tahun yang lalu, tepatnya Tahun 1992, ibuku mengantarkanku terlahir ke dunia ini di sebuah desa kecil di Buton, Sulawesi Tenggara. Aku hidup empat tahun di desa itu bersama ibu, kedua saudaraku dan nenekku. Ayahku merantau di daerah lain untuk mencari nafkah. Hingga tahun 1997 akhirnya kami memutuskan berpindah ke Kota Baubau, Sulawesi Tenggara untuk tinggal di sana bersama keluarga-keluargaku yang lain.  Di Kota Baubau inilah, banyak hal yang terekam dalam ingatan tentang ibuku. Aku masih ingat betul saat ibuku berusaha mengenalkanku pada huruf alfabet dan angka-angka. Ibuku  mengambil beberapa lembar kertas, menuliskan huruf-huruf dan angka serta menyebutkan nama tiap huruf dan angka itu. Dia meminta aku mengulangi setiap nama dari huruf dan angka-angka itu. Setiap hari ibuku mengajarkanku untuk bisa membaca dan mengenali angka-angka hingga pada usia enam tahun, aku masuk ke sekolah dasar.

Saat aku masuk sekolah dasar, aku sudah bisa membaca dan mengenali angka-angka. Semua itu karena apa yang diajarkan oleh ibuku. Ada satu peristiwa yang setiap kali mengingatnya, aku selalu tersenyum. Kala itu di suatu sore,  ibuku sangat senang ketika melihatku sudah bisa membaca. Saat itu aku duduk depan tv bersama ibu dan bibiku. Begitu bangganya dia saat melihatku membaca pelan-pelan dan serius setiap arti dari kalimat-kalimat adzan yang tertulis di tv. "Kaasi anakku, Nomakidamo nobasa" yang artinya "Kasihan anakku, sudah pintar membaca" begitulah ibuku berucap lalu tersenyum bahagia.

Aku tidak bisa berkata "tidak", bahwa ibu adalah guru pertama dalam hidupku. Mungkin banyak orang di luar sana sepakat denganku bahwa ibu adalah pintu pertama pengetahuan. Selain belajar membaca, berhitung dan menulis, ibu juga adalah orang pertama yang mengajarkanku banyak hal: nama-nama benda disekitarku; mengajarkan tatakrama dan sopan santun; mengajarkan cara beribadah kepada Tuhan.

Sebelum menginjak usia dua belas tahun, aku masih tinggal bersama  ibu. Sementara ayahku lebih sering pergi ke daerah lain untuk merantau mencari nafkah. Selama dua belas tahun itulah aku belajar banyak dari ibu. Proses belajar dengan mengamati ibuku dalam menjalani hidupnya. Bagaimana dia terus berusaha dan bersabar  dalam kondisi ekonomi yang sulit. Bagaimana ibuku menjalani hidup bermasyarakat. Bagaimana ibuku mengajarkan untuk terus bersyukur dalam menjalani hidup. Kelak, semua apa yang kulihat dari ibuku itu, menjadi pegangan hidupku dimanapun aku berada.

Saat aku masih di sekolah dasar, ibuku juga membantu ayahku mencari nafkah. Ibuku membuka sebuah warung kecil di rumah untuk menjual sembako. Selain itu, setiap malam dia juga mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat roti. Pada pagi hari, dia membuat roti goreng yang akan dijual di depan rumah. Dia tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi ikut membantu mencari nafkah. Pada titik itulah, kekagumanku pada ibuku semakin besar.

Saat usia dua belas tahun, aku tidak tinggal lagi bersama ibu. Ibuku diminta oleh beberapa keluarga dan beberapa orang di kampung, desa kecil tempatku lahir tadi, untuk menjadi kepala desa. Saat mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa, ibuku berhasil terpilih. Ibuku menjadi perempuan pertama yang menjadi kepala desa di desa itu. Satu hal yang menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di kota, melanjutkan pendidikan di sana. Rumah kami di kontrakan dan aku tinggal di rumah kakak sepupu. Sejak saat itu, interaksi aku bersama ibu menjadi jauh berkurang. Kami hanya bertemu pada hari-hari tertentu saja, saat dia memutuskan untuk mengunjungiku. Disaat aku tidak tinggal serumah dengan ibuku, disitulah nilai-nilai hidup yang kupelajari selama ini darinya benar-benar berusaha untuk aku jalankan.  

Aku  merasa beruntung dan bersyukur lahir dari rahim seorang ibu yang sangat kukagumi. Aku mengagumi bukan hanya karena dia adalah orang yang melahirkanku tetapi apa yang aku lihat bagaimana dia menjalani hidup. Aku sepakat bahwa sekolah pertama manusia adalah keluarga. Dari ibu dan bapakku, aku banyak belajar. Belakangan aku menyadari, aku tidak tahu menjadi seperti apa diriku hari ini saat ibuku tidak mengajarkanku hal-hal baik atau memperlihatkan pada anak-anaknya hal-hal baik seperti yang aku sebutkan tadi. Aku mungkin bisa memutuskan untuk berhenti sekolah karena beberapa belas tahun yang lalu kami berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Atau aku bisa saja hidup tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Hal-hal yang aku pelajari dari ibuku tadi, juga benar-benar berguna ketika aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Aku  memutuskan berangkat sendiri ke Makassar meninggalkan Kota Baubau. Tak ada seorang ibu yang menginginkan hidup jauh dengan anaknya, tetapi disisi lain, aku juga berusaha mencari ilmu, mencoba berjuang untuk hidup yang lebih baik. Selama di perantauan, ibuku sangat sering menghubungiku untuk terus mengingatkan hidup yang sabar, belajar dan jangan mudah putus asa. Setiap kali mendengarkan pesan-pesan ibuku, aku selalu merasa memiliki kekuatan untuk hidup sebesar apapun masalah yang aku hadapi di kota orang. Kasih sayang seorang ibu adalah sebuah kekuatan yang begitu besar bagi seorang anak. Kasih sayang bukan berdasarkan pamrih tetapi kasih sayang tulus.

Sampai dengan hari ini, di usia 28 tahun ini, aku hidup semakin jauh dari ibuku. Tetapi ibuku tak pernah berubah. Pesan-pesan yang dikatakannya sejak aku masih kecil sampai sekarang masih tetap sama. Mungkin benar apa yang dibilang banyak orang, "seseorang, berapapun usianya, akan tetap menjadi seorang anak kecil dihadapan ibunya". Setiap kali mengingat ibu, ada kebahagiaan dan juga kesedihan setelahnya. Kebahagiaan karena sampai hari ini ibuku masih ada di dunia ini dan tetap sehat, tetapi kesedihan akan segera datang ketika menyadari betapa banyak hal yang belum bisa kulakukan untuk membalas jasa-jasa ibuku yang begitu besar dalam hidupku.

Aku mengakui selama aku hidup sampai hari ini, orang tua terutama ibuku adalah faktor paling dominan yang mempengaruhi jalan hidupku. Semoga saja apa yang diajarkan dan dicontohkan olehnya bisa aku jalankan sampai akhir hayat.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x