Mohon tunggu...
Komunitas Lagi Nulis
Komunitas Lagi Nulis Mohon Tunggu...

Komunitas Penulis Muda Tanah Air dari Seluruh Dunia. Memiliki Visi Untuk Menyebarkan Virus Semangat Menulis Kepada Seluruh Pemuda Indonesia. Semua Tulisan Ini Ditulis Oleh Anggota Komunitas LagiNulis.id

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pilpres, Akankah Lawan Bisa Menjadi Motor Pendukung?

30 Maret 2019   17:03 Diperbarui: 30 Maret 2019   17:08 0 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Muhammad Ilham Fajri


Tahun 2019 ini adalah tahun demokrasi, yang identik dengan Dunia Perpolitikan. Suasana tersebut mengakibatkan segala lini menjadi sensitif, seakan-akan semua hal selalu di kaitkan dengan politik.

Wajar memang, jika kedua kubu saling berlomba dalam mencari dukungan dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan jalur media, sehingga dapat menggiring opini-opini rakyat, dan ada juga yang turun langsung kepada rakyat-rakyat kecil, sehingga menunjukkan 'seolah-olah' mereka peduli terhadap semua kasta masyarakat tanpa berpihak hanya pada kasta teratas, hingga yang merauk dukungan dengan untaian indah visi-misi yang menurut kacamata umum, mampu menampung segala jenis aspirasi dan keluhan rakyat.

Nah, disinilah yang menarik. Ada suatu pertanyaan menggelitik yang ditujukan kepada dua kubu umumnya dan pada personal khususnya, yaitu:
Andai kata tidak terpilih, siapkah menyalurkan visi-misinya untuk Indonesia dibawah kepemimpinan yang menang?
Saya akan  menjelaskan sedikit tentang pertanyaan ini.

Di kompetisi peralihan bangku kekuasaan ini, para calon pasti banyak mengeluarkan program-program unggulannya untuk masyarakat, entah dalam bentuk penanggulangan masalah, maupun peningkatan kualitas Negara. Tentu sejatinya, maksud dari semua itu adalah untuk membangun sebuah negara yang lebih baik lagi. Rumus-rumus tersebut, pastinya telah melalui sebuah proses yang cukup panjang, sehingga akhirnya terlahir menjadi pondasi kekuatan bagi para paslon untuk meyakinkan para pemilik suara untuk memilih.

Yang menjadi berita baiknya adalah, jika semua visi-misi kedua kubu dikolaborasikan, bukan suatu kemustahilan kita mampu menjadi suatu Tim yang hebat bahkan hampir pada prediksi tak terkalahkan. Kembali lagi pada pertanyaan diatas. Jawaban yang dibutuhkan adalah jawaban yang logis, bukan hanya jawaban spontan yang dihasilkan tanpa fikiran yang dalam. Karena pada hakikatnya,  jawaban dari pertanyaan itu, terdapat pada hati nurani setiap paslon, untuk tujuan apa dia maju mencalonkan dirinya?, atau untuk kepentingan siapa dia maju menyalonkan dirinya sebagai garda terdepan Republik ini?.

Jika memang goal nya adalah berkhidmat untuk negara, maka pasti tak keberatan untuk menjawab "iya saya siap". Tapi kalau tujuanya hanya sekedar tertawa diatas kekuasaan, maka menjawab "mau" saja, adalah suatu hal yang sangat sulit. Jadi, closing statement dari pembahasan ini adalah, sebuah keikhlasan adalah fase tertinggi dalam sebuah niat di hati setiap manusia. Banyak orang salah orientasi karena tak ikhlas dalam niatnya.

Coba kita tengok kembali masa lalu, karena masalah ini bukan hanya sekarang terjadi, tetapi permasalahan ini, pernah kontemporer pada masanya, yaitu pada masa kekosongan kekuasaan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Dimana para sahabat kebingungan tentang siapa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan umat ini, yang pada saat itu banyak sekali kandidatnya.

Singkat cerita pada akhirnya Abu Bakar RA lah yang terpilih untuk melanjutkan estafet tersebut. Tapi, apakah Umar RA yang saat itu juga menjadi kandidatnya, memisahkan diri dari Jama'ah Muslimin serta menegakkan agama? Tidak bukan? Malah Umar RA lah, orang pertama yang siap bersinergi membantu Abu Bakar RA dalam memajukan Islam secara umum, dan jayalah islam pada zaman mereka.

Pembahasan ini, pada akhirnya menemukan titik intinya, yaitu pada pesta demokrasi tahun ini jika semua kubu siap bersinergi untuk membangun Negara ini, maka bukanlah suatu kemustahilan Indonesia mampu melejit tinggi diatas kancah Asia bahkan Dunia.

Ditulis dari kepedulian terhadap Negara yang rindu akan kebangkitan