Mohon tunggu...
Komunitas Lagi Nulis
Komunitas Lagi Nulis Mohon Tunggu... Komunitas menulis

Komunitas Penulis Muda Tanah Air dari Seluruh Dunia. Memiliki Visi Untuk Menyebarkan Virus Semangat Menulis Kepada Seluruh Pemuda Indonesia. Semua Tulisan Ini Ditulis Oleh Anggota Komunitas LagiNulis.id

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Angan

26 Februari 2019   17:00 Diperbarui: 26 Februari 2019   17:05 110 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Angan
Pict from Pixabay.com

Oleh: Atika Helmiati

Masih belum tau apa itu cinta. Karena ia hanya untuk dirasa, bukan torehan kata. Masih bertahan hingga kini dan mungkin nanti. Kenapa aku bertahan? Karena cinta. Walau aku tak tahu jenis zat apa itu dan racun apa yang dikandungnya, apa lagi efek samping yang dapat dihasilkannya. Namun, harus ku mengerti. Cinta itu masih ku jaga. Belum terusik sedikitpun, belum dicicipi barang seorangpun. Belum terfikir akan ku beri pada siapa separuhnya, ataukah sepenuhnya?

Ah, tak usahlah kita telusuri sebuah kata seribu rasa itu saat ini. Satu hal yang ku tahu, ia akan indah pada waktunya. Disaat kau datang menakhlukkannya. Namun, siapakah ia?!


                               ***

Untuk yang pertama kalinya aku mengunjungi ke tempat ini bersamanya, lebih tepatnya pulang ke rumah lamaku. Kami berjalan bersisian. Ku dorong sebuah pintu gerbang di hadapanku. Ku sisir setiap senti jarak pandang yang ku miliki. Masih seperti beberapa minggu lalu. Bangunan-bangunan megah masih berdiri kokoh dengan gagahnya. Sekolahku. Dua gedung asrama berlantai empat menyambut kehadiranku di depan gerbang. Radius seratus meter terdapat dua gedung sekolah yang serupa namun berlantai tiga.

Seorang siswi menghampiriku " assalamu'alaikum kak, nginap kan?" aku sangat mengenalinya. Adik tingkatku, bagian pelayanan tamu. Aku hanya menjawab dengan tersenyum dan anggukan kecil. Ia mengantarkanku ke sebuah wisma. Sebuah gedung berlantai dua dengan empat ruangan dan delapan kamar.

Kami masuki sebuah ruangan dengan dua kamar. Perlahan ku raih gagang pintu dan membukanya. Dua lembar kasur yang terhampar di tengah ruangan lengkap dengan dua bantal, sebuah dispenser di sisi ruangan dan lemari kecil di sudut ruangan. Cukup nyaman untuk kami berdua.

" capek? " tanyanya sambil meletakkan koper lalu memasang alas kasur dan sarung bantal.

"biasa aja " jawabku singkat. Aku mendengus dan mengambil gelas di lemari, kemudian mengisinya dengan air, meneguknya sampai tetes terakhir.


Aku melirik kasur yang kini telah ia duduki, kemudian ia berbaring dengan tenang. Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu kamar.

" kamu tidak mengajak saya?" tanyanya masih dengan mata tertutup.

" mau ikut?" aku berhenti sejenak.

"nanti saya menyusul, saya istirahat sebentar" jawabnya sambil membalikkan badan.


Aku berjalan menuju kelas XII IPS, yang terletak di gedung andalusia lantai dua sebelah kanan. Hal yang paling melelahkan, menaiki anak tangga. Jarak satu meter dari pintu kelas aku mendengarkan suara gelak tawa yang tak asing lagi, teman-temanku. Perlahan aku memutar gagang pintu dan kini telah terbuka sempurna. Aku masih berdiri di ambang pintu, tampaknya mereka tak menyadari kehadiranku. Beberapa detik kemudian salah seorang diantara mereka berteriak sangat kuat.

" kay...!!!" ia membuat ruangan ini didominasi oleh suaranya.

"hm? " aku hanya tersenyum simpul.

Tanpa aba-aba mereka semua langsung berhambur memelukku. Sebagian ada yang memukul juga mencubitku, sebagian lagi mencaci maki dengan penuh kekesalan. Aku hanya bisa meringis. Badan mungilku seakan hilang dikerumunan mereka yang sangat banyak. Banyak pertanyaan mereka yang menghujamku. Aku belum bisa menjawab dengan kondisi yang sangat darurat seperti ini, sangat sesak. Sepertinya aku butuh asupan oksigen.

Aku duduk di salah satu sudut kelas sambil bersandar ke dinding. Mereka masih seperti rombongan lalat yang mengerubungiku. Aku mengambil nafas panjang sebelum mulai berbicara, mataku kini mulai berkaca-kaca, " aku rindu kalian " mereka terdiam.
Seketika mereka tertawa dan memelukku. Mereka belum berubah, sama saja seperti tiga minggu lalu. Sebelum aku pulang untuk sebuah keputusan.

"dimana kau tinggal sekarang?"

"kapan kau datang?"

"apa isi bawaan mu?"

"mengapa kau tak mengabari kami lebih dulu?"

"mana suami mu?"

Mereka terus bertanya silih berganti kepadaku. Aku seorang remaja yang tiga minggu lalu baru saja mengikuti ujian nasional, dan aku telah memiliki seorang suami, Afdanil Ihsan. Usia pernikahan kami dua minggu enam hari.

                                ***






Izmir - Turkey,

"kau ingat?? Aku memiliki seorang adik perempuan, namanya kayla. Ia belum terlalu dewasa, tetapi ia tak terlalu kanak-kanak untuk kau jaga, ku percayakan ia kepadamu" ucap Zafran kepadaku.


"maksudmu? Aku menjaga kayla untukmu?" aku tercengang mendengar perkataan Zafran yang tak masuk akal siang bolong seperti ini.


"kau pasti faham Danil" jawab Zafran sambil tersenyum dan melanjutkan makan siangnya. Ia menyodorkan selembar foto kepadaku. Aku memandangnya bingung.

" kayla, adik kesayanganku"

                               ***
-DANIL-


Aku masih teringat ketika kami tengah makan siang di cafe kampus siang tadi. Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Ia sahabatku, kami sama-sama mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negeri dua benua ini. Aku telah menyelesaikan study S1 dan bulan depan aku akan kembali ke Indonesia.


Zafran memang sering menceritakan keluarganya, kami saling berbagi cerita di saat rindu akan keluarga tak terbendung lagi. Ya, aku masih mengingat salah satu adik perempuan Zafran yang pernah ia ceritakan kepadaku, kayla. Ah, gadis itu, seorang yang sangat Zafran sayangi dan kemarin ia mempercayakannya kepadaku. Aku bingung, haruskah aku bahagia atau sebaliknya?


Kuraih ransel di sisi tempat tidur dan mengeluarkan selembar foto yang diberikan Zafran tadi siang. Sejenak ku pandangi seorang remaja yang berbalut jilbab biru difoto itu. Senyumnya yang lepas, dengan mata hitam yang jernih. Gadis yang ceria. Tanpa sadar aku tersenyum. Tak salah bukan bila aku belajar untuk mencintai gadis bermata jernih ini. Aku mengambil handphone disaku celana lalu menekan beberapa digit nomor.

 "wa'alaikum salam Zaf, hm,. Kayla  kelas berapa Zaf? Apa dia sudah memiliki kekasih sebelumnya? Maaf, aku hanya ingin.."


"hahahaha.. Iya Dan. Tanyakan saja kepadaku apa yang ingin kau ketahui. kayla kelas tiga SMA Dan. Ia tidak pernah memiliki kekasih, kau akan jadi kekasih pertamanya"


"ah.. Kau ini, ya sudah. Aku hanya ingin menanyakan itu."

                             ***
-KAYLA-

Sebulan lalu abang mengabariku akan pulang ke Indonesia bulan depan. Aku sangat bahagia, aku menyayangi Abang seperti aku menyayangi Ayah. Sejak tiga belas tahun lalu Ayah meninggal, Abanglah yang selalu mendengarkan cerita-ceritaku, menasehatiku, dan membimbingku, tak pernah ada rahasia diantara kami.


Abang sangat berbeda denganku. Ia pendiam, namun sedikit kata-katanya penuh makna. Ia pendengar setia seluruh keluh kesah yang aku ceritakan. Walaupun hal-hal tak penting ia selalu menjadi Ayah yang senantiasa mendengarkan celotehan anaknya. Abang juga seorang sahabat yang sangat peduli. Ia tersenyum saat aku bercerita bahwa aku iri melihat teman-temanku yang memilki teman laki-laki. " kan kayla punya Abang, berarti Allah masih menjaga kayla. Nanti kalau ada yang mau sama kaylaa, harus ngadepin Abang dulu" Abang menanggapi ceritaku sambil tertawa kecil.


Ketika aku membuka facebook messenger. Aku melihat ada dua pesan yang belum dibaca. Ketika aku membuka pesan itu, ternyata dari Abang. Senyumku merekah.


Kay... Sehat kan?? Gimana kabar ibu dan adek-adek?? Abang udah nitipkan kalian kepada Allah. Allah pasti akan jaga kalian untuk abang. Kay,. kayla udah besar, harus bisa berfikir dewasa dan meringankan beban ibu.


Kay... Bulan depan insyallah abang pulang, ada sebuah kebaikan yang akan datang. Kalau kebaikan itu bisa dilakukan cepat, mengapa harus lambat. Iya kan?? Abang kan pernah bilang agar selalu memperbaiki diri kita untuk seorang yang baik juga nantinya.


Kay.. Abang yakin Kayla faham maksud abang. Adik perempuan abang sudah besar, harus ada yang jagain biar abang tenang kuiah S2 di sini. Sudah dulu ya, abang mau pergi kuliah.


Aku terdiam sejenak membaca pesan abang. Ku ulangi membacanya sekali lagi. Nikah?? Itu kan maksud abang? Aku bingung. Kalau abang sudah berbicara seperti itu, pasti ada sesuatu. Aku percaya sama abang. Abang pasti memberikan yang terbaik untukku. Aku mengetik pesan singkat untuk abang.


Oke bang. kayla turuti apa-apa yang terbaik menurut abang sajalah.


                                  ***
-KAYLA-


Siang itu setelah ujian nasional berakhir. Aku bergegas menuju asrama dan mengemasi pakaian ku dan barang-barang yang ku anggap penting. Teman-teman terheran-heran melihat kepergianku yang medadak. Aku hanya menjawab semua pertanyaan mereka dengan seringai dan senyuman jahil. Terlalu banyak pertanyaan mereka yang menghujaniku.

"mau kemana kay?"

"kok buru-buru gitu?"

"kapan kembali?"

"kau bisu??"

Ah, mereka memang slalu begitu. Aku mengabaikan semua pertanyaan teman-temanku dan berlari sambil menarik koper ke arah sebuah mobil. Lima belas menit lalu ibu menelfon dan mengatakan bahwa abang sudah datang dari turkey. Abang, Kayla rindu. Tetapi, ada hal yang mengusik fikiranku. "danil" aku bergumam.


Aku tak mengenal siapa dia. Abang hanya bilang ia yang akan menjagaku, lebih tepatnya calon suamiku. Ia satu-satunya lelaki yang abang ceritakan kepada ku. Abang mempercayakan ku kepada lelaki yang bernama danil ini. Saat abang mengatakan ia telah menerima pinangan danil terhadapku, aku biasa saja. Di saat seperti ini, haruskah aku bahagia?? Ntahlah.. Jalani saja.


Kini aku berada di dalam sebuah mobil jazz hitam yang tengah melaju kencang. Aku masih termenung menghadap jendela, perasaanku bimbang. Seperti apa dia? Berkali-kali ku pejamkan mata, berusaha untuk tenang dan ingin tidur. Kurasakan tangan ibu menggenggam tanganku erat. Aku dapat merasakan ke khawatiran ibu. Seorang anak gadis yang akan dilepaskan nya untuk menikah.


Mobil berhenti di sebuah rumah bercat biru muda. Orang-orang lalu lalang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. Aku turun bersama ibu, aku melihat sosok yang sangat ku kenal dari kejauhan, aku smakin membulatkan mataku," abang? " aku berlari ke arah dua orang laki-laki yang sedang bercengkrama di serambi kiri rumah biru ini. Aku berhambur memeluk abang dengan erat. Empat tahun lalu, senbelum abang pergi ke turkey, ini kali pertama ia pulang ke tanah air. Aku mendongak kan kepalaku, melihat wajah abang, aku masih memeluk nya.

"kay.. Kangen abang" ucapku tersedu-sedu.

"Ssst.. Malu tuh di liat orang," kata abang sambil mengusap punggungku lembut.

Aku melepaskan pelukan ku. Abang smakin tinggi saja sekarang aku hanya selengan nya. Empat tahun terasa sangat lama bagiku. Abang tersenyum, lalu mengalihkan pandangan nya pada seorang lelaki yang tengah bercengkrama dengan nya tadi.

" kay.. Ini teman abang, namanya.." abang memperkenalkan temannya.


"ooh, ini adikmu zaf? Udah selesai ujian nasional nya??"  lelaki itu menyela dengan sebuah pertanyaan.

.
"teman abang toh, ujian nasional? Baru siap siang tadi" jawabku, lelaki itu hanya tersenyum melihat ku, mungkin dia heran melihat kelakuan ku terhadap abang,bodo amat ah.


"kay.. Yakin nggak mau liat foto danil? Acaranya besok pagi loh,.." tanya abang sambil tersenyum jahil.


"isssh.. Apaan sih  nggak mau. Biar taunya besok aja, kayla capek mau istirahat." jawabku sambil berlalu.


Seorang wanita separuh baya mendekatiku dan ibu. Wanita ini sangat ramah dan lembut, terlihat dari cara ia berbicara dan pandangan nya yang menenangkan. Ia mengantarkan kami ke sebuah kamar tamu. Rumah ini lumayan besar. Di dominasi warna biru berpadu putih.

"maaf ya nak.. Rumah nya berantakan, umi lagi sibuk dekorasi sama kru dari wedding organizer" ucap ibu itu sambil tersenyum.

"umi?? kayla paggil umi aja ya? Iya.. Nggak papa mi. kayla yang harus minta maaf, baru datang, nggak bisa bantuin umi apa-apa" jawabku sekenanya. Umi mengelus punggungku lembut.

Ibu tengah bercengkrama dengan umi. Dari percakapan yang sayup-sayup ku dengar tadi, dapat ku pahami umi adalah calon ibu mertuaku. Allah, aku jadi takut salah tingkah di depan nya. Walau Aku tak mendengar begitu jelas. Aku lelah, dan akhirnya aku tertidur dengan masih mengenakan seragam sekolah, putih abu-abu. Belum sempat mengganti baju usai pulang sekolah tadi. Putih abu-abu terakhirku.

Tepat pukul sebelas malam aku terbangun, orang-orang masih berseliweran di halaman rumah memasang tenda dan menata kursi juga menghias pelaminan. Kombinasi biru dan putih berpadu indah. Warna kesukaanku. Aku membersihkan badan dan mengganti pakaian. Kemudian aku menunaikan shalat isya.


Aku haus, tak ada air disini. kulihat sekeliling tak dapat kutemui sosok ibu. Lalu aku mengintip ke luar pintu kamar, masih banyak kru wedding organizer  yang melakukan tugasnya. Aku mash mengenakan mukenah beringsut keluar untuk mencari dapur. Aku tak mengenali posisi ruangan di rumah ini, tenggorokan ku sudah sangat kering.

Aku melihat pantry di pojok kanan ruang keluarga. Aku berjalan menuju dispenser yang terletak di samping kulkas. aku duduk di kursi plastik dan meneguk air baru saja ku ambil. Alhamdulillah, aku sudah tak haus lagi.Aku meletak kan gelas di atas meja pantry. Saat aku berbalik ingin kembali ke kamar, aku menabrak seseorang di depanku.

"aduh..! Sakit," rutuk ku sambil mundur selangkah ke belakang.

Namun aku tak bisa mundur, beberapa kru wedding organizert meminta agar kami bergeser karna mereka tengah mengangkat kursi pelaminan. Aku tersandar pada meja pantry. Aku menunduk melihat celana hitam yang dikenakan lelaki di depanku ini. Sejengkal, kira-kira hanya sekian senti jarak antara aku dan lelaki ini.

Setelah kru wedding organizer berlalu. Aku mengangkat wajahku keatas. Namun tak bisa. Renda mukenahku tersangkut di kancing baju lelaki ini. Aku mendengus kesal. Dengan jarak sedekat ini aku dapat merasakan bau maskulin yg melekat pada lelaki ini.

"tolongin dong,.. Nyangkut nih" ujarku ketus.

Namun, lelaki ini tak bergeming sedikitpun. Ia masih diam. Aku mulai kesal, apakah orang ini tuli? Seketika aku menginjak kaki lelaki di hadapan ku.

"aw!!" ucap nya setengah meringis. Aku tersenyum mendengarkan nya. "iya, sebentar," jawabnya sambil memutar benang renda yang tersangkut di kancing bajunya.

"ngantuk ya?? Kok nggak dengar gitu aku ngomonng?" aku sedikit mendongak untuk melihat wajah nya dan berlalu begitu saja. Ia hanya diam terpaku.


                           ***
-DANIL-

Aku hanya ingin memastikan, siapa orang yang sedang duduk di pantry sambil menggunakan mukenah ini. Aku meliht wajahnya sekilas saat ia meletak kan gelas. "Kayla" gadis kecil ini, ia terlalu kecil untuk di katakan dewasa. Tubuhnya kuperkirakan hanya 150 cm. Mata hitam yang jernih.

Aku terkejut saat ia menabrak ku. Aku masih tak bergeming saat ia bicara, hingga ia memijak kaki ku dengan keras. Terlalu dekat jarak diantara kami. Ia hanya setinggi dadaku, dapat kuperkirakan saat ia tersandar pada pantry tadi. Ia mimpiku malam ini, dan esok aku akan menjemput kenyataan, ah,Ia berlalu begitu cepat. Tanpa terasa bibirku melukis senyum.

                              ***




-KAYLA-

Pagi ini saat semua orang sibuk mempersiapkan resepsi akad jam sembilan nanti. Aku masih sibuk dengan perasaanku yang berkecamuk. Di samping kasur tersampir gaun putih dengan kombinasi bunga biru kecil-kecil, juga selembar jilbab biru lembut senada dengan warna bunga. Aku masih terdiam.

Aku mendengar suara gagang pintu terbuka, ku tarik selembar kain di atas meja dengan terburu-buru dan menutupi kepalaku secepat mungkin. Seorang lelaki bermata teduh yang sangat ku kenali. Abang, aku membiarkan selembar kain itu jatuh ke lantai, kulihat abang yang menghampiriku. Ia tersenyum melihatku. Bibirku mengerucut melihat senyumnya yang merekah. Namun, lihatlah matanya yang basah.

"abang..." ucapku dengan suara bergetar.

"iya.. Kenapa kay? " jawab abang sambil berlutut menyamakan tingginya denganku yang duduk di atas kursi.

"kay takut" mataku mulai berkaca-kaca.

Seketika abang memeluk ku, dalam diam nya aku merasakan air mata yang membasahi punggungku. Ia menangis, tak pernah seperti ini. Aku sudah tersedu-sedu dalam pelukan abangku. Perlahan abang melepas pelukan nya dan menghapus air mataku. Ia tersenyum.

"udah.. bergegaslah, tamu sudah banyak yang datang. Nggak usah takut, kan ada abang.jangan menangis, Nanti pengantin wanitanya jelek." abang tersenyum penuh arti. Aku hanya mengangguk. Abang pun keluar untuk menyambut tamu.

Aku berdiri di hadapan cermin, aku sudah mengenakan sebuah gaun pengantin yang tersampir kasur tadi. Jilbab biru lembut membalut wajahku yang mungil. Ibu dan seorang tata rias membantuku mengenakan baju yang membuatku risih ini. panas, tak henti-hentinya keringat mengalir di dahiku. Di tambah lagi perasaanku yang semakin tak karuan dan jantungku yang masih berdebar-debar tak menentu.


Ibu mengantarkan ku ke kamar pengantin yang berada di ruang tengah. Semua pernak-pernik pelaminan dan kamar pengantin di dominasi warna yang sama. Biru dan putih. Warna kesukaanku. Aku tak tahu apa-apa tentang persiapan pernikahan ini. Semuanya abang dan calon suamiku yang mengatur sedemikian rupa. Ibu menemani di sampingku.


Sayup-sayup kudengar akad sedang berlangsung. Aku menautkan tanganku erat. suara seseorang di luar sana membuat keringatku mengalir deras "saya terima nikahnya Kayla binti Syahrullah...". Seperrsekian detik kemudian terdengar suara sorak sorai keluarga dan para tamu yang hadir. Ibu sudah keluar beberapa menit lalu.

Sebentar lagi suamimu akan menjemput, masih ku ingat perkataan ibu sebelum keluar ruangan tadi. Pandanganku mulai buram, penuh dengan genangan air.butiran bening itu muai jatuh bersamaan dengan suara gagang pintu yang terbuka. Aku masih terdiam.


"kenapa??" ia mengangkat dagu ku sembari menghapus genangan air di sudut mataku

Sesosok lelaki dengan mata coklat pekat yang menenangkan dan rahang yang tegas. Bukankah dia, teman cengkrama abang di serambi kiri rumah, lelaki yang ku pijak kakinya di pantry tadi malam, danil. Aku mengerjapkan mataku dua kali.


"aku.. Takut" jawabku sambil menggingit bibir bawah bagian dalam.

Ia menarik lenganku dan membantuku berdiri dan membawaku ke ruang tengah tempat dimana akad berlangsung tadi. Ia menggenggam tanganku erat, seakan tangan mungilku tenggelam dalam genggaman tangan nya, hangat. Tak lepas senyum di bibirnya.


Kakiku lemas, bibirku terkatup saat melihat keluarga dan para tamu yang tengah menunggu kehadiran kami. Saat aku hampir terjatuh karna kaki ini tak kuasa lagi untuk menapak. Ia dengan sigap menahan pinggangku. Wajahku merah padam. Sorak sorai keluarga menggoda silih berganti.


Kami duduk bersanding di pelaminan, banyak tamu yang datang. Tapi tak ada satupun yang ku kenal. Kebanyakan karib kerabat dan teman-teman danil. Belum ada sepatah kata pun yang ku keluarkan sejak tadi. Aku tak memiliki hal untuk di bicarakan, tak seperti biasanya. Aku mati kata, di hari yang seharus nya aku bahagia. Mengapa harus menjadi menakutkan seperti ini? aku ingin beristirahat, aku lelah.




Sesekali abang menghampiriku, dan membuat suasana lebih baik. Ah, hanya abang yang mengerti perasaanku. Tapi, saat ini berbeda. Akankah lelaki bernama danil ini bisa memahamiku seperti abang? Atau kedepan nya ia hanya diam seperti sekarang ini. Ntahlah.

                                 ***
-KAYLA-

Hari berlalu sangat lamban, matahari baru saja terbenam di ufuk barat. Para tamu sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa orang dan keluarga yang masih disini. Aku merasa semakin gerah. Ingin rasanya segera mandi dan tidur dengan nyenyak di kasur yang empuk, nikmat sekali. Setelah azan magrib berkumandang, aku semakin ingin beranjak dari tempat ini.

"aku duluan ya?" tanyaku pada danil yang hendak bangkit.

"hm?" ia hanya berdehem melihatku heran.

Aku hanya nyengir kuda melihat reaksinya, lalu aku berjalan menuju kamar. dengan susah payang mengangkat gaun yang terlalu berat ini. Satu-dua langkah aku berjalan terasa sulit. Lalu aku melepas sepatu putih yang ku kenakan. Menjinjing nya dengan tangan kiri, dan tangan kananku mengangkat ujung gaun. Aku mulai kesal.


danil datang menghampiriku yang masih sibuk dengan sepatu juga gaun yang terlalu panjang ini. Ia menunduk untuk menatap ku sejenak. Tangan kanan nya terulur meminta sepatu yang ku jinjing. Lalu tangan yang satunya mengangkag ujung gaun yang masih terseret di lantai. Kami beriringan menuju kamar di lantai atas.


Beberapa kali aku berhenti sejenak setelah menaiki tujuh sampai sepuluh anak tangga. Kakiku pegal. Aku meringis saat menaiki anak tangga terakhir Alhamdulillah, sampai juga. Kami sampai di depan kamar. Aku membuka gagang pintu dengan tergesa-gesa. Danil telah menurukan ujung gaun yang terseret tadi. Segera aku mengambil sepatu yang dijinjing nya.

"makasih" ucapku sambil tersenyum.

"bukan masalah" jawabnya, dahiku berketut mendengarkan jawaban nya. Ia tersenyum simetris.




Aku begegas masuk kamar dan membanting pintu dengan terburu-buru. Meninggalkan danil yang berdiri di depan pintu. Aku melempar sepatu putih sembarangan. Bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Gaun putih telah ku gantung di samping meja rias. Hari melelahkan berakhir juga.


Aku merasa lebih baik sekarang. Aku mengenakan terusan bewarna biru lembut. Rambutku masih tergerai basah sepinggang. Aku memijat tengguk yang terasa sangat pegal. Kaki mungilku yang mulai membengkak karna sepatu high heels dan terlalu lama berdiri seharian. Ku tunaikan sahalat magrib dan bermunajat pada Allah.

"ya Allah, tautkanlah hatiku pada suamiku yang akan menambah kecintaan ku padamu. Iringi kami dengan keberkahan dan cinta kasihmu" aku mengusapkan kedua tangan kewajah.

Aku merebahkan tubuh ke atas kasur yang nyaman, pikiranku melayang pada ibu, abang, juga masa depanku nanti. Sudah beberapa kali aku meguap. Sedari tadi kantuk telah menyerangku. Lalu aku tertidur dengan pulasnya.

                            ***
-DANIL-

Sudah beberapa kali aku mengetuk pintu kamar dan memanggil kayla. Namun, ia tetap tak bergeming. Apakah terjadi sesuatu di dalam sana? Pelahan ku putar daun pintu, dari kejauhan ku lihat ia tertidur pulas di atas kasur. Aku berjalan mendekatinya. kayla masih menggunakan mukenah. Ah, gadis ini. Kemarin malam aku juga melihatnya menggunakan mukenah untuk mengambil minum di pantry.


Sudah beberapa menit aku memandanginya. Masih belum tega untuk membuatnya terjaga. Ia terlihat sangat lelah. Melihatnya seperti ini lebih baik, daripada melihatnya seharian tadi dengan bibir yang terus mengerucut. Kayla, gadis kecilku.

Saat aku mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah nya, tangan nya lebih dulu sampai di dahi untuk mengusap  bintik-bintik keringat yang membasahi dahi nya. Ia kembali tidur. Tanpa terasa bibirku tersenyum. Tak bosan ku pandangi seorang gadis yang terlelap ini. Zafran salah, kayla masih terlalu kecil untuk dikatakan dewasa.

"kay..." aku menepuk lengan nya. Namun ia masih diam.

"kay..." aku kembali membangunkan nya. Ia membali kan badan. Ah, gadis ini membuatku semakin gemas saja.

"kay... Makan malam" aku kembali menepuk lengan nya. Ia berbalik mencari sumber suara.

"hm.." ia hanya berguman tak jelas, mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengusap matanya. " kau? Iya.. Nantik aku nyusul" jawabnya, dahinya berkerut lalu ia kembali membalikkan badan dan menyambung tidurnya.

Hand phoneku berdering, terburu-buru aku menjawab telfon dan keluar kamar. Khawatir membangunkan tika yang sedang tertidur. Zaftran menelfon.

"iya zaf?" jawabku

"dimana dan? kayla bersama mu? Semua keluarga sudah berkumpul, kami masih menunggu kalian untuk makan malam."

"kayla tidur zaf, aku sudah berulang kali membangunkan nya, namun tak ada hasil" jawabku sekenanya


"ooh, dia pasti sudah bangun. Hanya saja dia menunggumu pergi. Kau kesini saja sekarang. Dia memang seperti itu, aku harap kau lebih banyak bersabar dan" jawab zafran

"ah, iya dan.. Bukan masalah. Ia terlihat sangat lelah." aku mematikan telfon dari zafran.

                             ***
-KAYLA-

Kapan danil masuk ke kamar ini? Mengapa aku tak menyadarinya? Ku harap ia tak melakukan apa-apa. Aku beringsut turun dari kasur dan membuka mukenah lalu melipatnya. Ku tarik selembar pasmina satin bewarna biru dari rak nomer tiga di dalam lemari baju. Memakai jilbab secepatnya dan turun untuk bakan makan.

"maaf" ucapku sambil nyengir kuda saat tiba dimeja makan.

"iya, nggak papa sayang.. Sini duduk dekat umi," umi tersenyum melihatku.

"makan yang banyak ya, anak umi capek banget kayak nya" umi mengelus punggungku lembut lalu mengambilkan ku nasi dan lauk.



Aku melihat abang di seberang meja yang tengah geleng-geleng melihat kelakuanku. Aku diam saja. Ibu juga melirik ku, Aku semakin bungkam. Aku menjadi kesal. Aku hanya terlambat makan malam. Apakah itu fatal?!

Makan malam baru saja berlalu, dan kini ibu tengah membereskan pakaian dan juga abang yang sedang memanaskan mobil di halaman rumah. Waktu terasa begiu cepat. Sebentar lagi ibu dan abang akan pulang ke rumah.

Umi, Aku dan danil mengantar ibu menuju halaman. Aku merasa ragu untuk melepas ibu pulang. Tiba-tiba aku merasa takut dan rumah ini terasa asing. Aku mau pulang ke rumah saja bersama abang dan ibu. Aku tidak mau tingga di sini. Aku masih menggenggam tangan ibu. Menatap matanya yang sendu. Seakan mengerti, ibu tersenyum padaku dan menepuk bahuku. Lalu melepaskan genggaman tangan nya dan berjalan menuju mobil.

Aku berlari mengejar ibu dan memeluk nya erat. Aku beralih menatap abang yang sejak tai tersenyum melihatku. Aku memandang nya dengan tajam seakan ingin menerkam nya. Lalu ku layangkan sebuah pukulan keras ke dadanya.

"rasain" ucapku ketus.

"aduh.. Iya-iya, abang sma ibu pulang dulu ya.. " jawab abang sambil memegani dadanya.


Mobil yang dinaiki ibu dan abang seakan hilang di pembelokan. Ibu, abang.. Kayla sendirian disini. Tidak kah kalian khawatir? Kayla, takut. Mataku menjadi sembab karna terus menangis. aku berlari menuju kamar dan berlalu meninggalkan umi dan danil di teras rumah. Aku meringkuk di atas kasur, air mataku membasahi permukaan bantal. Suhu di dalam kamar ini semakin dingin karna pendingin ruangan yang terletak tepat sudut ruangan yang mengarah padaku. Namun, aku tak peduli. Dalam tangis aku terlelap.

                              ***
-DANIL-

Aku memasuki kamar dan menemukan Kayla  terisak dalam tidurnya. Tubuhnya menggigil. Ku tarik selimut lalu menutupi tubuhnya. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh lalu menyalin pakaian. Kini kulihat ia jauh lebih tenang dalam tidurnya. Apakah keputusan ini terlalu cepat? Aku merasa bersalah.




Aku takut mengusik tidurnya. Kurebahkan tubuh diatas sofa yang terletak di sisi kamar. Mengatur nafasku sejenak lalu tidur.

Aku terbangun saat azan subuh berkumandang, kulihat kyla yang tertidur di atas sajadah nya. Aku tersenyum. Aku mengambil air wudhu lalu mengumandangkan iqomah. Kayla terbangun dan segera memperbarui wudhunya.

Shubuh ini, kala pertama kali aku menjadi imam untuk nya. Ku lantunkan surah ar-rahman pada rakaat kedua. Sungguh tiada nikmat Allah yang bisa di dustakan makhluknya. Ku sudahi ritual subuh ini dengan salam " assalamu'alaikum warahmatullah"

                             ***
-KAYLA-

Setelah selesai berzikir, aku beringsut mendekati danil. Menyikut bahunya lalu mengulurkan tanganku. Ia memandangku sejenak, lalu dahinya berkerut. Segera kuraih tangan kanan nya untuk kusalami. Kulihat sudut bibirnya yang melengkung. Aku segera melepaskan tangan nya, tiba-tiba tangan kirinya mengelus kepalaku, aku terdiam "nggak usah pegang-pegang" ucapku sambil beranjak meninggalkan danil yang masih bersimpuh. Wajahku memanas.


Setelah melipat sajadah dan mukenah dan meletak kan nya di atas sofa. Kulihat danil tengah duduk di sofa sambil membaca buku. Tak lama kemudian meletakkan buku di atas meja lalu mengambil handuk  yang tersampir di sebuah jemuran kecil yang terletak di sudut kamar, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi.


Sementara itu aku membersihkan kasur dan menyiapkan baju untuk hari ini. Aku duduk di sofa sambil memeluk bantal. Danil, seorang lelaki yang sangat dipercayai abangku, mata coklat yang menenangkan, ia tak banyak bicara. Aku terlalu takut untuk memulai berbicara dengan nya, ia begitu dingin, namun ia memiliki tangan yang hangat. Rahang tegasnya yang membuat ia semakin berwibawa. Tubuhnya yang tegap, aku hanya setinggi dada nya. Dan harus sedikit mendongak untuk menatap mata yang menenangkan itu. Senyum simetris yang menawan.

"kay..." tangan nya melambai-lambai di depan wajahku.

"hm??" aku tersentak dari lamunanku dan pandanganku berhenti pada sepasang mata coklat yang tepat berada di depanku, aku mencium aroma sabun mint yang menyegarkan.

Aku terkesiap dan langsung beranjak menuju kamar mandi. Berulang kali aku menepuk wajahku. Aku terlalu banyak mengkhayal pagi-pagi buta seperti ini. Aku teringat satu hal, handuk. Aku lupa membawa handuk. Aku menepuk dahiku panik. Ku buka sedikit pintu kamar mandi, mengintip. Apakah danil masih di kamar? Aku tak dapat menemukan sosok nya.


"danil,.." ucapku pelan. "danil," ku ulangi sekali lagi. Ku lihat ada bayang-bayang yang mendekat. Aku bersembunyi di balik pintu.

"apa terjadi sesuatu?" tanya nya,

"handuk, aku lupa" ucapku sangat pelan. Tak lama kemudian ia kembali datang dan menyodorkan selembar handuk bewarna biru. "makasih" ia tak bergeming.


Aku segera menyalin pakaian, blus abu-abu dengan manik-manik kecil bewarna silver di bagian bawah, aku mengeringkan rambut dengan handuk dan segera menyampirkan pashmina corak abu-abu dengan sembarangan. Ku buka pintu kamar mandi dan menjemur handuk. Kulirik danil yang sedang membaca koran di sofa, ia mengenakan celana jeans dan baju polo tsirt bewarna abu-abu gelap. Ia terliahat begitu casual.

Ia menurunkan koran nya, kemudian memandangiku yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aku segera mengalihkan pandangan dan duduk diatas kasur.

" kalau di kamar kamu tidak harus mengenakan jilbab" ucapnya datar dan kembali membaca koran.

Aku masih diam, ku tarik pashmina yang menutupi kepalaku. Rambutku masih basah. Segera kucari hair dryer di laci meja rias kemudian mengeringkan rambutku, lalu menyisirnya. Poniku semakin panjang saja. Aku lupa kapan terakhir kali memotongnya.


"mau kemana hari ini?" tanyaku sambil terus menyisir rambut.

"siapa? Saya?" ia balik bertanya kepadaku.

"hm,.. Kita. Aku mau jalan-jalan, bosan" jawabku.

"kita akan pergi berlibur seminggu kedepan, segeralah berkemas" ia kemudian keluar dari kamar.
                         
                            ***
-DANIL-

Saat ia meraih tanganku untuk disalaminya. Hatiku mulai bergetar. Apakah aku mulai mencintainya? Ia begitu menawan dengan kesederhanaan nya. Baru beberapa hari ia sudah sering membuatku tersenyum tanpa alasan. Tingkah laku nya yang spontan dan lugu. Wajah mungil nya yang menggemaskan, Mata hitam nan jernih, seakan aku tenggelam saat memandanginya. Dan yang paling kusukai rambut hitam kecoklatan yang tergerai indah.


Aku tak ingin terburu-buru, biarlah waktu yang akan menjalain kepercayaan serta kasih sayang diantara kami. Kayla.. Aku belajar mencintaimu bukan karena nafsu atau sekedar keindahan fisik. Semua ini semata-mata untuk menyempurnakan imanku juga imanmu serta meningkatkan kecintaan kita kepada sang pemilik cinta.

Kuraih handphone di atas meja.

"assalamu'alaikum zaf,"

"wa'alaikum salam dan, bagaimana kabar kalian? Apakah ada masalah?"

"semuanya baik-baik saja zaf,.. Aku hanya ingin mengabari, kami akan berlibur seminggu kedepan"

"iya dan, kau harus lebih banyak bersabar, adikku itu terkadang ada-ada saja tingkah laku nya"

"bukan masalah zaf,. Sekarang tika adalah tanggung jawabku,"

" ada yang ingin kau tanyakan tentang kayla??"

"tidak ada zaf.. Aku ingin mengetahui hal-hal itu sendiri"

"kau selalu begitu dan, baiklah. Selamat bersenang-senang"

                               ***
-KAYLA-

Setelah berpamitan dengan umi. Kami melanjutkan perjalanan untuk liburan. Liburan? Ah, lebih tepatnya honey moon. Tapi, aku lebih senang menyebutnya liburan, lebih seerhana. Danil mengendarai mobil di sampingku. AC mobil ini terlalu dingin, aku jadi mengantuk. Mataku memandang ke luar jendela mobil, jalanan terlihat sangat sepi dan matahari bersinar terik. Aku mulai bosan, sudah dua jam kami hanya duduk tanpa kata.

"ehem, kamu lapar?" danil memulai pembicaraan.

" enggak, aku puasa" jawabku.

"ooh, kamu suka makanan apa?" ia kembali bertanya.

"semuanya suka, ada ice cream, nasi goreng, ayam, cumi-cumi, udang,. Semuanya" mataku berbinar membayangkan makanan yang sangat enak. Danil tersenyum, aku rasa ia mulai punya penyakit tersenyum sendirian, aneh." kenapa kau sering senyum-senyum sendiri?" aku balik bertanya,

"karna kamu" jawabnya singkat.

"aku? Kenapa aku?" tanyaku heran.

"karna saat bersamamu saya ttidak memiliki alasan untuk tidak tersenyum"

Aku terdiam. Ah, aku tak tau harus menjawab apa. Danil sangat pandai membuatku mati kata. Aku mengusap layar handphone dan kemudian memainkan game favoritku, tebak kata. Aku masih fokus menyambung kata dan mengetik setiap kosa kata yang terlintas.

"kay??" danil memanggilku. Aku tak mengacuhkan nya. "Kayla..." ia kembali memanggilku lembut. Sedikit lagi skorku akan sempurna, senyumku merekah. Tiba-tiba danil menggenggam tanganku ku dan secara otomatis aku menepisnya, handphone ku jatuh. Aku merunduk mencari handphone ku yang entah kemana.

"maaf," ucapnya dan kembali meletakkan tangan di setir mobil.

"kan aku pernah bilang, jangan pegang-pegang" jawabku ketus. Danil hanya diam. Entah kapan aku mulai tertidur.


Aku terbangun, pandanganku masih buram. Aku mengerjapkan mata beberapakali. Mobil kami berhenti di sebuah super market. ku lihat kesamping, tak ku temukan sosok danil. Matahari hampir tergelincir di ufuk barat. Ku ambil handphone di tas, ingin menelfon danil. Tanganku terhenti, aku tak memiliki nomor ponsel danil. Ku simpan kembali hanphone kedalam tas. Tangan ku mengetuk-getuk daskbar mobil.




Pintu mobil terbuka, danil masuk membawa kantong kecil. Ia tersenyum kepadaku. Bibirku reflek tersenyum karna sentruman senyuman nya. Ku lirik kantong plastik yang dibawanya. Ia menyodorkan nya kepadaku.

"untuk buka puasa, kita masih setengah jam lagi sampai" ucap danil.

"ooh," aku membulatkan bibir. Kulihat ada air mineral dan roti selai nenas. Danil sudah kembali menghidupkan mesin mobil. " untuk kau saja" ucapku.

"kenapa?" tanya nya heran.

"nggak enak, aku mau susu coklat sama roti selai strawberry" jawabku sambil nyengir kuda.

"tadi kamu bilang suka semua makanan" danil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mungkin ia heran melihat kelakuanku.

"kalau buka puasa enak nya itu" jawabku,

danil kembali keluar mobil dan masuk ke super market. Aku terdiam, dia.. Ah. Tak lama kemudian ia membawa kantong kecil yang sama. Dan menyerahkan nya kepadaku, aku tertawa melihat isi kantong itu, susu coklat dan roti selai strawberry. Mobil kembali melaju di jalanan hitam. Azan magrib berkumandang ketika kami sampai di depan hotel. Aku segera meminum susu coklat dan memakan roti selai strawberry.

"kamu nggak nawarin saya?" tanya nya

"enggak, siapa suruh beli cuma satu" aku melanjutkan meminum susu coklat. Ia menunjuk ke arah wajah ku."apa?" tanyaku heran. Tangannya terulur menghapus sisa susu di sudut bibirku. Aku terdiam.

Kami memasuki hotel, danil mengurus segala administrasi. Aku menunggu di ruang tunggu. Seorang lelaki mengajakku ngobrol. Ternyata ia teman SMA abangku . namanya said muhammad syakir. Sambil menunggu danil aku bercerita dengan kak syakir dan begitu pula sebalik nya.

"hahaha.. Jadi kakak pernah di gigit ular sewaktu di asrama dulu?" tanyaku sambil tertawa.

"ya begitulah, ularnya nggak terlalu besar. Tapi lumayan juga sakitnya." jawab  kak syakir." kamu sama siapa kesini kay? Bukan nya baru selesai UN ya?" tanya nya.




"iya kak. Aku kesini sama danil, tuh dia" aku menunjuk danil yang berjalan menghampiri kami. Sepertinya ia sudah selesai. Danil berkerut melihatku kemudian tersenyum melihat ke arah kak syakir. Mereka berjabat tangan

"syakir?" tanya danil.

"masyallah danil, kamu teman zafran yang pernah berkunjung ke maroko tahun lalu bukan?" sepertinya mereka pernah kenal sebelumnya." aku baru saja sampai di indonesia jam lima tadi. Alhamdulillah study S1 maroko sudah selesai. Bagaimana dengan kau danil?"

"alhamdulillah syakir, aku juga sudah selesai study S1 di turkey" jawab danil

"kau dan kayla?" kak syakir bertanya pada danil

"ooh iya, kami baru saja menikah beberapa hari lalu."jawab danil sambiltersenyum, aku hanya diam mendengarkan obrolan mereka.

"barakallah.. Kau berutung danil. Sampaikan salamku pada zafran." ucap kak syakir. Ia membisikkan sesuatu pada danil, aku tak tahu apa itu. "Kayla, danil aku duluan, masih ada urusan yang ingin ku selesaikan." ucap kak syakir undur diri.

Kak syakir pergi meninggalkan kami. Aku dan danil menaiki lift untuk menuju kamar di lantai tujuh. Danil memutar kunci kamar di jarinya. Ia membawa koper di tangan kiri. Sesampainya di pintu kamar ia memutar kunci dan pintu pun terbuka. Kamar ini di dominasi warna putih gading.

"danil," panggilku, kemudian aku duduk di sisi kasur. Meregangkan kakiku yang terasa kram.

"hm?" ia hanya berdehem sambil memasuk kan pakaian kelemari.

"kak syakir bilang apa?" tanyaku

"sesuatu" jawabnya singkat

"sesuatu apa?" aku kembali bertanya

"sesuatu tentang kita" jawabnya

"apa sesuatu tentang kita?" aku masih penasaran

Danil diam saja. Ia tak menjawab pertanyaanku. Aku masih menunggu jawaban nya. Namun, ia masih tak bergeming. Kini ia telah merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Aku semakin geram. Ku lempar bantal ke wajah danil. Danil bangkit dan berjalan ke arahku. Untuk yang kedua kalinya aku ingin melempar danil, dengan tatapan tajam aku mengancamnya.


Tak sesuai dengan yang ku harapkan. Danil tak mengatakan apapun,ia malah menatap mataku tak kalah tajam. Ia berjalan ke arahku, aku terdiam melihat reaksinya. Tanganku semakin erat mencengkram bantal yang akan ku lemparkan pada danil. Ia semakin mendekat. Tenggorokanku tercekat menelan ludah. Ia terlalu dekat. Ia mencengkram tangan kananku dan seketika bantal yang ku pegang jatuh. Aku memejamkan mata, kurasakan nafasnya di telingaku.

Beberapa detik kemudian aku membuka mata dan menemukan danil sedang meneguk air mineral kemasan di hadapanku. Aku yakin kini wajahku sudah merah padam. Kutarik tanganku dari cengkraman tangan danil. Ia melirikku dan menyodorkan botol minuman yang baru saja di teguk nya.

"saya sangat haus, kamu mau minum juga?" tanya nya. Aku menggelengkan kepala.
"tadi saya melihar air kemasan ini di meja kecil itu" ia menunjuk ke arah meja di belakangku.

Aku beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahku yang panas. Menyalin pakaian dan segera ku hempaskan tubuh di kasur. Menarik selimut sampai menutupi wajahku. Aku malu. Ku abaikan danil yang sedari tadi melirikku sambil tersenyum. Dia menyebalkan. Aku menutup mata rapat-rapat di balik selimut.

Dapat ku rasakan danil telah berbaring di sampingku. Segera aku membalikkan badan. Mengatur nafasku yang mulai turun naik. Ah, aku benci saat-saat seperti ini. Aku ingin terlelap secepatnya.

"kay.." danil memanggilku. Aku diam saja. "Kayla.." panggilnya sekali lagi. Aku masih tetap tak bergeming. "Kayla sayang.."

"hm?" jawabku bedehem kemudian membalikkan badan menghadap danil.

"haruskah saya selalu memanggil kamu seperti itu agar kamu menjawab pangilan saya?" tanya nya.

"panggilan apa?" dahiku berkerut.

"Kayla sayang.." danil mengulanginya lagi sambil tersenyum. Aku kembali membalikkan tubuhku. Danil selalu pandai membuatku mati kata.

Danil mematikan lampu kamar dan beranjak menuju sofa di hadapanku. Ia berbaring di sana dan beberapa menit kemudian ia terlelap. Aku bengkit dan berjalan ke arah danil. Laki-laki ini, aku bingung menanggapinya. Tapi entah mengapa. Tak dapat ku punkiri hatiku terasa bahagia. Ia terlihat sangat dingin saat terlelap seperti ini.




"sampai kapan kamu terus memandangi saya?" tiba-tiba matanya terbuka.

Aku terkejut lalu berlari menuju kasur. Aku tertangkap basah. Memalukan. Kudengar danil tertawa kecil. Sudahlah.

                             ***


































































VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x